writer contest juni Archives | Emosi Jiwaku https://emosijiwaku.com/tag/writer-contest-juni/ Portal informasi terpercaya dan terkini tentang Persebaya dan Bonek Wed, 01 Jul 2020 05:07:57 +0000 en-US hourly 1 Perjuangan Tiada Henti, Persebaya Juara Lagi https://emosijiwaku.com/2020/07/01/perjuangan-tiada-henti-persebaya-juara-lagi/ Wed, 01 Jul 2020 05:07:57 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33201 Perjalanan yang tidak mulus dilalui klub Bajul Ijo yang tak lain dan tak bukan ialah Persebaya Surabaya. Bonek bukan sekadar suporter, Bonek juga sebagai mujahid atas kembalinya Persebaya di liga Indonesia.

The post Perjuangan Tiada Henti, Persebaya Juara Lagi appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Perjalanan yang tidak mulus dilalui klub Bajul Ijo yang tak lain dan tak bukan ialah Persebaya Surabaya. Bonek bukan sekadar suporter, Bonek juga sebagai mujahid atas kembalinya Persebaya di liga Indonesia.

Bonek pasti ingat betul sejarah kelam ketika Wisnu Wardhana membuat kloningan Persebaya. Dari sinilah, sinyal perlawanan terlihat kuat bahwa Bonek tidak mau terjadi dualisme di tim kebanggaan mereka. Namun tak sedikit pula para Bonek yang justru mendukung dan membela Persebaya kloningan. Mereka yang mendukung Persebaya kw pasti memiliki opini sendiri dan bertolak belakang dengan Bonek pendukung Persebaya asli atau yang dinaungi oleh PT Persebaya Indonesia.

Tidaklah heran jika kedua jenis Bonek ini sering terjadi pergesekan bahkan hingga terjadi culik menculik. Peristiwa tersebut layaknya peristiwa Rengasdengklok yang menculik para tokoh yang berpengaruh. Situasi semakin memanas hingga pernah terjadi bentrok baik di atas tribun maupun di jalanan tak dipungkiri hal ini menimbulkan korban. Dengan pedoman “Tuhan Bersama Pihak yang Benar” Bonek pendukung Persebaya asli tak berhenti selangkah pun dalam melakukan perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai pernzoliman. Hari itu, Kamis 30 Juni 2016, PT Persebaya Indonesia memenangkan gugatan.

Semakin ke sini Bonek gencar melakukan hal-hal positif baik di stadion dengan chant dan koreo. Tak hanya itu, di luar stadion semakin gencar pula mengadakan kegiatan positif seperti mengadakan donor darah, pengalangan dana, dan sebagainya. Di sini saya pribadi sebagai anggota Bonek Karanganyar mengajak para Bonek seluruh jagat raya untuk tetap menjaga dan meningkatkan ukuwah sehingga Bonek semakin kompak, loyal dan total dalam mendukung kebanggaan. Aamiin.

Salam satu nyali, WANI!

*) Anggota Bonek Karanganyar, Jawa Tengah

The post Perjuangan Tiada Henti, Persebaya Juara Lagi appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Ultah Persebaya, Momentum Perangi Hoax https://emosijiwaku.com/2020/07/01/ultah-persebaya-momentum-perangi-hoax/ Wed, 01 Jul 2020 04:59:20 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33199 Berita bohong alias hoax harus diperangi Bonek. Karena kabar yang tidak jelas asal-usulnya maupun kebenarannya yang dipertanyakan dapat menjadi permasalahan fatal di kemudian hari. Kemajuan zaman yang diwarnai dengan digitalisasi membuat hutan rimba media sosial semakin tidak bertuan dan persebaran informasi yang belum tentu benar kian tidak terbendung. Bonek sebagai bagian dari elemen masyarakat juga harus mengambil peran dalam memberantas hoax.

The post Ultah Persebaya, Momentum Perangi Hoax appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Berita bohong alias hoax harus diperangi Bonek. Karena kabar yang tidak jelas asal-usulnya maupun kebenarannya yang dipertanyakan dapat menjadi permasalahan fatal di kemudian hari. Kemajuan zaman yang diwarnai dengan digitalisasi membuat hutan rimba media sosial semakin tidak bertuan dan persebaran informasi yang belum tentu benar kian tidak terbendung. Bonek sebagai bagian dari elemen masyarakat juga harus mengambil peran dalam memberantas hoax.

Saya pernah mengalami sendiri ketika Bonek menjadi korban berita bohong. Masih lekat di ingatan pada Januari 2010, pada saat itu saya perjalanan dari Tulungagung yang merupakan kota kelahiran menuju Yogyakarta, tempat saya kuliah. Selepas Shubuh saya diantar Bapak menuju Stasiun Tulungagung untuk naik Kereta Api (KA) Rapih Dhoho dengan tujuan Kertosono. Setelah sampai di stasiun yang terletak di simpang tiga Nganjuk-Kediri-Jombang tersebut, saya ganti naik KA Pasundan.

Di KA yang memiliki relasi Surabaya-Kiaracondong, Bandung ini saya duduk di kursi yang hanya berjarak dua baris dari sambungan kereta. Di seluruh rangkaian KA Pasundan tersebut hampir dipastikan ada rombongan Bonek yang akan mendukung Persebaya melawan Persib di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Mereka semua duduk di kursi yang telah disediakan, bertiket, dan tidak ada yang nggandhol. Saya sendiri tidak akan ikut tret-tet-tet ke Kota Kembang karena ada jadwal kuliah dan tiga hari sebelumnya juga sudah menonton pertandingan derbi Jawa Timur, Persebaya vs Arema di Gelora 10 Nopember, Surabaya.

Ketika sepur hendak memasuki Stasiun Jebres, laju moda transportasi berbasis rel tersebut mulai berjalan perlahan. Di kiri dan kanan kereta terlihat sepi. Posisi rel berada di bawah, di antara apitan rumah-rumah warga di atasnya. Di pagar perkampungan yang mepet dengan jalur KA tersebut terdapat barisan batu bata, batu krakal, botol bekas minuman, maupun pecahan cor-coran. Semua penumpang tidak ada yang menyangka bahwa benda-benda tersebut kemudian disalahgunakan.

Duar…! Sejumlah kaca gerbong terkena lemparan. Orang-orang di luar KA Pasundan bukan hanya melempari kendaraan yang kami tumpangi, namun juga mengeluarkan cacian, umpatan, makian, hingga mengeluarkan gestur jari tangan yang kurang sopan. Suasana mencekam.

Di dalam gerbong, semua penumpang menunduk. Teriakan takbir hingga balasan umpatan sempat mewarnai. Namun, ada satu hal yang patut dicermati yaitu tidak ada balasan lemparan dari dalam gerbong. Baik oleh penumpang umum maupun Bonek. Semua ketakutan. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan. Beberapa bayi menangis sekeras-kerasnya. Situasi ini sedikit mereda ketika kereta api mulai mengencangkan lajunya memasuki Stasiun Jebres.

Sepenggal cerita di atas adalah fakta yang saya alami sendiri. Akan tetapi, apa kata media? Sejumlah media massa memberitakan bahwa terjadi bentrok antara Bonek dan warga Solo. Ada juga yang mewartakan bahwa Bonek menyerang warga Kota Bengawan. Padahal kenyataan tidak seperti itu sebagaimana yang saya alami. Tayangan televisi yang sempat saya saksikan setelah sampai di Yogyakarta juga tidak menunjukkan bahwa Bonek ikut menyerang. Justru saat melewati lintasan kereta api, beberapa oknum warga melempari sepur yang ditumpangi Bonek.

Sejumlah teman saya membuat status di media sosial bahwa Bonek berulah di Solo dan mereka mengecam tindakan suporter Persebaya tersebut. Saya yang mengalami sendiri peristiwa tersebut langsung mengklarifikasi dengan mengirimkan pesan singkat. Teman-teman saya pun minta maaf dan bersedia menghapus unggahannya di media sosial yang identik dengan warna biru tersebut.

Terkait konflik dengan masyarakat Solo tidak perlu diperbincangkan lagi. Karena antara Bonek dan Pasoepati sudah ikrar damai. Apalagi bukan itu poin penting dari tulisan ini. Esensi dari coretan sederhana ini adalah menjadikan euforia ulang tahun ke-93 Persebaya sebagai momentum bagi Bonek untuk berani memerangi hoax. Tentu saja berita bohong tidak perlu dibalas dengan hoax baru apalagi lebih parah. Melawan hoax adalah dengan memberi klarifikasi maupun cek and ricek. Jika memang hoax harus berani meluruskan. Namun jika kabar itu benar dan menyudutkan juga harus wani untuk berjiwa ksatria serta tidak mencari kambing hitam.

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) belum sepenuhnya hilang. Surabaya Raya termasuk wilayah yang perlu penangangan ekstra. Jangan dikira penanggulangan virus yang mudah hancur karena sabun tersebut hanya tanggung jawab tenaga medis. Masyarakat umum termasuk Bonek pun bisa ambil bagian. Aksi-aksi yang bersifat hardware sudah dilaksanakan dengan baik semisal pembagian masker, penyemprotan disinfektan, pembuatan hand sanitizer, maupun pemberian paket sembako. Kerja software juga perlu diperhatikan yaitu memberantas hoax yang meresahkan terkait Pandemi Covid-19.

Berita tentang Corona yang berseliweran di dunia maya tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan. Beberapa malah membuat masyarakat semakin cemas. Kesehatan mental perlu diselamatkan supaya korban akibat Pandemi Covid-19 tidak bertambah banyak. Bonek bisa melakukan ini. Minimal saring sebelum sharing. Jika ada yang jelas kebohongannya dapat memberikan klarifikasi apabila memang mempunyai kapasitas atau telah diizinkan oleh pihak terkait.

Dirgahayu Persebaya. Wani perangi hoax! (*)

The post Ultah Persebaya, Momentum Perangi Hoax appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
“Loss Gak Rewel”, Kalimat Pembangkit Semangat https://emosijiwaku.com/2020/06/30/loss-gak-rewel-kalimat-pembangkit-semangat/ Tue, 30 Jun 2020 13:17:02 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33196 Tulisan ini saya awali dengan menceritakan pengalaman saya melihat segerombolan Bonek pendukung Persebaya yang mau menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga. Waktu itu saya melihat mereka berada di sebuah warung kopi tempat mereka berkumpul. Kemudian dua orang dari mereka bilang bahwa mereka belum punya persiapan uang. Salah satu dari mereka nyeletuk bilang loss gak rewel pokok budal. Seketika semangat mereka bangkit dan langsung berangkat dengan menumpang dari truk ke truk sampai ke stadion tanpa memikirkan bahaya yang bakal mereka hadapi.

The post “Loss Gak Rewel”, Kalimat Pembangkit Semangat appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Tulisan ini saya awali dengan menceritakan pengalaman saya melihat segerombolan Bonek pendukung Persebaya yang mau menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga. Waktu itu saya melihat mereka berada di sebuah warung kopi tempat mereka berkumpul. Kemudian dua orang dari mereka bilang bahwa mereka belum punya persiapan uang. Salah satu dari mereka nyeletuk bilang loss gak rewel pokok budal. Seketika semangat mereka bangkit dan langsung berangkat dengan menumpang dari truk ke truk sampai ke stadion tanpa memikirkan bahaya yang bakal mereka hadapi.

Saya agak kaget dan terheran melihat semangat mereka tiba-tiba muncul dan bangkit hanya dari sebuah kalimat loss gak rewel. Mungkin seperti itu ketika Surabaya waktu melawan penjajah Belanda, hanya sebuah kalimat Takbir, mereka langsung menyerang Belanda dengan membabi buta. Ternyata watak dan karakter arek-arek Suroboyo sudah terbentuk dari dulu untuk berjuang demi kota tercinta mereka dalam situasi apapun.

Sekarang kita menengok tim Persebaya di ulang tahun ke 93 ini. Apakah mereka mempunyai semangat yang sama seperti Bonek pendukung mereka yang berjuang untuk selalu mendukung Persebaya dalam situasi apapun. Mungkin semangat tim sama dengan Bonek namun belum maksimal karena mereka tidak lahir di Surabaya. Sehingga semangat mereka harus selalu dibangun untuk mencintai Kota Surabaya lewat Persebaya.

Apakah itu cukup hanya semangat mencintai kota Surabaya? Saya rasa itu adalah pondasi dasar untuk melangkah lebih tinggi. Tanamkan kepada semua jajaran tim bahwa mereka mewakili semangat rakyat Surabaya yang begitu mencintai Persebaya. Tentunya juga didukung dengan latihan yang keras, menjalankan strategi pelatih, tidak mudah menyerah, dan berdoa pada Tuhan. Itulah tugas dari tim Persebaya. Begitu pun dengan manajemen. Mereka harus memastikan keberlangsungan hidup Persebaya dari segi finansial seperti gaji tim, sponsor, dan kebutuhan operasional yang lain.

Ke depan persebaya harus menjadi tim yang paling profesional dari segi manapun dan menjadi contoh bagi tim lain di Liga Indonesia. Karena hasil tidak akan mengkhianati sebuah proses.

Amiin… (*)

The post “Loss Gak Rewel”, Kalimat Pembangkit Semangat appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Corona Men-Zona Hitamkan Surabaya, Persebaya Kembali menghijaukannya https://emosijiwaku.com/2020/06/30/corona-men-zona-hitamkan-surabaya-persebaya-kembali-menghijaukannya/ Tue, 30 Jun 2020 04:05:20 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33188 93 bukan angka kecil, bukan umur yang sedikit dan juga tidak sebentar melaju di angka itu. Tim bola era Perserikatan asal kota Pahlawan yang muncul, terlahir tepat 18 Juni 1927 yang berjulukan Persebaya. Kini di tahun 2020 kembali mengulang hari lahir, hari jadi tim berjulukan Green Force Bajol Ijo

The post Corona Men-Zona Hitamkan Surabaya, Persebaya Kembali menghijaukannya appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
93 bukan angka kecil, bukan umur yang sedikit dan juga tidak sebentar melaju di angka itu. Tim bola era Perserikatan asal kota Pahlawan yang muncul, terlahir tepat 18 Juni 1927 yang berjulukan Persebaya. Kini di tahun 2020 kembali mengulang hari lahir, hari jadi tim berjulukan Green Force Bajol Ijo

Setiap tahunnya, perayaan hari jadi itu selalu terselenggara dengan momen yang begitu spesial, mulai dari berjalan dari masing-masing wilayah menuju satu titik temu yakni Gelora 10 Nopember.

Namun di tahun ini, kita bisa melihat sendiri, merasakan sendiri bagaiamana keadaan kota kebanggaan arek Suroboyo ini sebagai ibu kota provinsi. Bahkan bukan hanya kota ini, melainkan hampir seluruh negara-negara di dunia merasakan keganasan wabah virus Corona ini sehingga menimbulkan beberapa kecemasan publik.

Konflik sana-sini dan juga sangat berasa untuk seluruh kalangan pecinta sepak bola Indonesia, yang merasakan berhentinya Liga Indonesia. Khususnya Arek Bonek pendukung setia Persebaya yang harus merayakan hari jadi klub kebanggan di tengah pandemi yang sangat ganas ini.

Berbeda jelas seperti berbalik 180 derajat keadaan di mana yang seharusnya berkumpul menjadi satu titik, merayakan dengan penuh tangis haru, kini hanya dirayakan di rumah dengan dan tanpa kemeriahan kembang api, flare, smoke dan sebagainya. Namun bukan Bonek namanya jika tidak ada akal. Pemasangan spanduk-spanduk moral dukungan untuk Persebaya bertebaran di Surbaya dan hampir seluruh titik kota di Jawa timur. Hal ini menjadi pengganti perayaan, dukungan dan juga harapan untuk Persebaya.

Ulang tahun bukan hanya sekedar mengenang hari kelahiran melainkan ada harapan, doa, dan tujuan. Di umur ke-93 ini, Persebaya harus menunjukkan, membuktikan, dan harus meyakinkan baik seluruh pendukung dan Indonesia atau bahkan dunia, bahwa tim sepak bola asal kota Surabaya ini benar benar tim yang hebat, ditakuti tim-tim lain, dan layak untuk menjadi Juara baik di kancah sepak bola Indonesia maupun dunia.

Selamat ulang tahun Persebaya. Semoga dengan bertambah umurmu bertambah juga prestasi, keharmonisan, kesehatan klub, dan segalanya galanya. (*)

The post Corona Men-Zona Hitamkan Surabaya, Persebaya Kembali menghijaukannya appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Bintang 93milang Itu Bernama Persebaya Surabaya https://emosijiwaku.com/2020/06/29/bintang-93milang-itu-bernama-persebaya-surabaya/ Mon, 29 Jun 2020 09:54:00 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33181 Persebaya adalah tim besar yang syarat akan sejarah panjang. Sebuah identitas untuk sebagian besar masyarakat Surabaya. Apa yang dilakukan Bonek semata-mata untuk menjaga dan memperjuangkan agar indentitas Kota Pahlawan tetap ada dan semakin membanggakan.

The post Bintang 93milang Itu Bernama Persebaya Surabaya appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
“Di dalam stadion, kita bersaudara
Satu cita dukung Persebaya
Semangat membara, bernyanyi bersama
Demi sebuah asa jadi juara

Terbanglah tinggi kau di angkasa
Tunjukan pada semua mata dunia
Surabaya pun juga punya kebanggaan
Green Force Persebaya Emosi Jiwaku

Semangat kami tak pernah padam
Suara kami pun takkan pernah hilang
Yakinilah bahwa kau takkan sendirian
Di sini kami selalu mendukungmu”

Sebuah lirik chant berjudul “Persebaya Emosi Jiwaku” yang sering dinyanyikan Bonek untuk membakar semangat para pemain di lapangan. Kita tahu bahwa loyalitas Bonek untuk Persebaya dalam setiap pertandingan tidak main-main. Tak jarang nyawa melayang demi mengawal tim kebanggaan Persebaya Surabaya dalam bertanding.

Orang awam yang tidak begitu peduli dengan sepak bola mungkin menganggap bahwa tindakan itu bodoh dan tak masuk akal. Namun, mereka yang benar-benar mencintai olahraga ini dapat merasakan betapa besarnya cinta dan pengorbanana Bonek untuk Persebaya. Apapun mereka lakukan untuk mengawal kebanggaan menuju kejayaan, walau kadang yang mereka lalukan kadang di luar nalar dan akal sehat.

Persebaya adalah tim besar yang syarat akan sejarah panjang. Sebuah identitas untuk sebagian besar masyarakat Surabaya. Apa yang dilakukan Bonek semata-mata untuk menjaga dan memperjuangkan agar indentitas Kota Pahlawan tetap ada dan semakin membanggakan.

Oleh sebab itu, jika ada yang merusak atau bahkan ingin melenyapkan Persebaya Bonek tak segan untuk bertarung sampai titik darah penghabisan. Semangat darah juang arek-arek Suroboyo dalam mengusir penjajah masih mengali derar dalam diri para Bonek.

Tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana perjuangan dulur-dulur Bonek dalam mempertahankan identitas asli Persebaya yang ingin dirusak segelintir oknum. Membuat Persebaya abal-abal demi kepentingan pribadi. Suka duka dilalui bersama bahkan puasa nyetadion bertahun-tahun mereka rasakan demi mempertahankan identitas asli tim kebanggaan.

93 tahun sudah Persebaya malang melintang didunia persepak bolaan Indonesia. Selama itu juga Persebaya berjuang dalam suka maupun duka dalam kejayaan maupun keterpurukan. Perjuangan belum berakhir, kau baru bangun dari tidur panjangmu kini saatya beranjak dan berlari kencang. Kembali ke masa dimana kau seperti bintang yang bersinar terang.

Longlive Persebaya Surabaya! Wani!

The post Bintang 93milang Itu Bernama Persebaya Surabaya appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
93 Persebaya Surabaya, 93ngsi Dong! https://emosijiwaku.com/2020/06/29/93-persebaya-surabaya-93ngsi-dong/ Mon, 29 Jun 2020 09:39:53 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33178 Persebaya tidak boleh menjadi tim yang juara, kemudian terdegradasi satu musim setelahnya. Persebaya harus menjadi tim yang stabil di papan atas nan solid

The post 93 Persebaya Surabaya, 93ngsi Dong! appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
“Heh, kalo lu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!”

Quotes jenaka dalam film Warkop DKI, Gengsi Dong! Sebuah film yang menggambarkan bagaimana sosok Slamet yang diperankan Dono, mendapatkan celotehan yang terkesan meremehkan dari Sarwani yang diperankan Kasino.

Film itu cukup menggelitik, dirilis pada tahun 1980, semua dialog dan celoteh dalam film tersebut masih sangat relevan hingga kini.

Tidak terkecuali dalam memaknai 93 tahun Persebaya Surabaya, klub besar, kaya dan punya tradisi juara. Nampak masih sulit untuk mengulang sejarah untuk kembali menjadi juara Liga 1.

Persebaya secara prestasi masih tertinggal dari tim ibu kota, Persija Jakarta dalam beberapa musim terakhir, Macan Kemayoran yang merupakan rival abadi, bahkan sudah menjadi juara Liga 1 pada tahun 2018.

Lalu, apakah menjadi juara Liga sudah cukup bagi klub sebesar Persebaya?

Bertepatan dengan ulang tahun ke-93 Persebaya, Richard Jolly, merilis sebuah artikel di The Strait Times, yang isinya cukup menggeltik.

Ia menulis, adanya Wabah Corona ini menunjukkan bahwa klub-klub besar Liga Inggris tidak memiliki stabilitas dan kontinuitas baik dari segi keuangan atau prestasi.

Tidak ada lagi dominasi ataupun kemapanan dalam sebuah tim besar Liga Inggris, buktinya, mari melihat di mana posisi Leicester City sekarang, sukses mengakali tim-tim besar lainnnya di klasemen. Padahal, The Foxes adalah tim langganan degradasi 7 tahun yang lalu.

Dua hal yang disorot oleh Richard Jolly, adalah hal yang harus dipenuhi Persebaya di usia 93 tahun ini: Stabilitas dan Kontinuitas.

Persebaya tidak boleh menjadi tim yang juara, kemudian terdegradasi satu musim setelahnya. Persebaya harus menjadi tim yang stabil di papan atas nan solid

Gelar juara bisa dengan mudah diraih Persebaya dalam waktu dekat, bukan hal yang mustahil dan sangat mungkin diraih. Tetapi, yang paling penting, adalah bagaimana Persebaya menyiapkan semuanya seperti tim papan atas Eropa.

Kita tidak bisa lagi hanya meniru kebijakan tim-tim lokal Indonesia, Persebaya harus punya landasan yang lebih kuat, akademi yang berjenjang, lapangan latihan yang layak, dan sudah tidak ada lagi masalah ‘Persebaya tidak bisa menggelar laga di Surabaya’. Hal yang tabu bagi klub sebesar Persebaya.

Gengsi dong, bagi klub sebesar Persebaya hanya menempati 3 besar, harus melakoni laga di luar Surabaya, atau bahkan terjebak hal-hal kontroversial yang berpengaruh buruk.

Di sinilah peran Bonek yang harus sejalan dengan ambisi Persebaya, Bonek adalah bagian yang sama besarnya dengan para pemain bagi Persebaya. Bonek juga menentukan gengsi Persebaya di Indonesia, karena cerminan klub tidak lepas dari sang suporter.

Maka, Bonek harus menyingkirkan permusuhan antar suporter, atau bahkan melakukan hal yang merugikan bagi klub, karena ini menyangkut gengsi klub, identitas dan nama baik Persebaya.

Persebaya tidak boleh lagi dicap klub ‘ndeso’ oleh kontestan, lainnya, Persebaya adalah wakil dari sebuah kota besar, metropolis nan megah di Indonesia. Maka sepatutnya, identitas Persebaya harus dijaga.

Tetapi, jika pada akhirnya Persebaya terus disindir sebagai tim yang ‘ndeso’ dengan banyaknya perubahan positif yang kini sedang terjadi, maka jawaban dari Kasino dalam film Gengsi dong! akan menutup tulisan ini.

Orang kaya kelakuannya memang begitu, kayak uang bapaknya halal saja.

The post 93 Persebaya Surabaya, 93ngsi Dong! appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Ada Cinta untuk Persebaya di Ciamis https://emosijiwaku.com/2020/06/28/ada-cinta-untuk-persebaya-di-ciamis/ Sun, 28 Jun 2020 13:53:06 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33172 Saya sebagai salah satu yang menyukai sepak bola dari kecil tak pernah melewatkan sedikitpun untuk menonton sepak bola pada setiap pekannya, apakah itu melalui tayangan di televisi ataupun menonton secara langsung ke stadion.

The post Ada Cinta untuk Persebaya di Ciamis appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Saya sebagai salah satu yang menyukai sepak bola dari kecil tak pernah melewatkan sedikitpun untuk menonton sepak bola pada setiap pekannya, apakah itu melalui tayangan televisi ataupun menonton secara langsung ke stadion.

Bahkan dulu pernah ikut sekolah sepak bola di kampung halaman karena memiliki cita-cita untuk menjadi pemain sepak bola beneran. Tapi sayangnya harus berhenti karena setelah lulus sekolah menengah atas, saya lebih memilih untuk bekerja dan merantau ke Jakarta.

Oiya, saya lahir dan besar di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ada yang mengenal tentang kota saya tidak? Silahkan di googling saja ya. Di kota saya ini ada klub bola yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Persebaya. Namanya Persatuan Sepakbola Galuh Ciamis disingkat PSGC Ciamis.

Saya mengenal Persebaya sejak kecil. Bahkan di kota saya pun sudah memiliki basis suporter Persebaya namanya Bonek Ciamis. Saya tidak mengenal teman-teman ini, namun spanduk mereka kerap dipasang di sudut Stadion Galuh Ciamis kala PSGC bertanding.

Teman-teman Bonek Ciamis ini selain memberikan dukungan mereka untuk Persebaya, naum ternyata sering kali menonton ke stadion bersama rekan-rekan dari Bobotoh Persib Bandung yang memiliki basis yang besar di Ciamis. Mereka menepikan sejenak dukungan kepada klubnya masing-masing demi mendukung kemajuan sepakbola di Ciamis dengan menonton pertandingan PSGC.

Meskipun saya adalah suporter PSGC, akan tetapi selalu menaruh respect untuk Persebaya. Selain Persib tentunya sebagai klub yang dipandang sebagai warisan bagi masyarakat Jawa Barat.

Semenjak Persebaya kembali dihidupkan pada kongres PSSI di Bandung pada 2017 lalu dan memulai kompetisi di Liga 2, saya ikut bahagia dan tak sabar melihat aksinya para penggawa mereka walau hanya nonton di tv. Namun saya meyakini auranya sama saja seperti di Gelora Bung Tomo apalagi kalau Bonek sudah nge-chant serasa sedang berada di GBT.

Hanya semusim di Liga 2 2017, kemudian Persebaya promosi ke Liga 1 2018. Kembalinya Bajul Ijo ke kompetisi kasta tertinggi sepak bola tentu sangat ditunggu-tunggu oleh para pecinta sepak bola nasional.

Namun setelah dua musim terakhir ini berkiprah di Liga 1, Persebaya belum mampu memberikan prestasi tertinggi yakni Juara. Pastinya. Kita semua tak ingin cerita nestapa akan terjadi tiap musim. Tak sebanding rasanya dengan loyalitas dan totalitas yang sudah dilakukan oleh teman-teman Bonek.

Kita tahu segala perjuangan Bonek yang oleh sebagian orang di cap negatif. Namun ada citra positif Bonek yang selama ini telah ditorehkan selama ini dalam dukungannya kepada Persebaya tanpa pamrih.

Mereka membangun panti asuhan. Menggalang dana dan turun untuk kerja kemanusiaan. Mbois, Kreatif, anti rasis dan semua image bagus yang telah dirangkai selama ini.

Konon katanya ada yang menganalogikan sepak bola itu dengan cinta, bahkan rasa cinta terhadap sepak bola melebihi rasa cinta terhadap kekasih, bahkan lebih daripada itu pun ada.

Bahkan sebuah cercaan atau kritik dari suporter, itu adalah bagian dari rasa cinta. Jika menilik apa yang kerap oleh para suporter lakukan dalam mendukung tim kesayangannya, mereka adalah kelompok yang bebas dalam mengeluarkan ekspresi dukungan.

Namun biarlah seiringnya waktu berjalan prestasi tersebut hanya soal waktu. Kita tahu Liverpool yang telah puasa gelar kompetisi selama 30 tahun akhirnya pecah juga. Setelah melewati proses perjalanan naik turun bersama pelatih Jurgen Klopp lima tahun terakhir ini.

Liverpool memang bukan Persebaya yang telah puasa gelar di kasta tertinggi sepak bola Indonesia selama 16 tahun. Tapi bagi saya, menang tidak melulu soal juara. Kemenangan mempunyai arti yang lebih luas.

Yakni, menampilkan permainan yang apik, suasana stadion kondusif, dan suporter yang mengagumkan merupakan arti kemenangan yang lebih luas.

Saya tahu Persebaya adalah klub yang ambisius. Tentunya dengan manajemen yang solid dan terus bekerja keras demi mengharumkan Persebaya, tapi kapan? Entahlah.

Semoga diusia yang ke 93 tahun ini Persebaya akan semakin matang dan digdaya dikemudian hari.

Selamat Ulang Tahun Persebaya yang ke-93, salam hangat dari Ciamis.

*) Penggemar sepak bola baik Nasional maupun Internasional yang berdomisili di Ciamis.

The post Ada Cinta untuk Persebaya di Ciamis appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Anniversary, Konspirasi, dan Pandemi: Sebuah Refleksi Kebahagiaan di Tengah Pandemi Negeri https://emosijiwaku.com/2020/06/26/anniversary-konspirasi-dan-pandemi-sebuah-refleksi-kebahagiaan-di-tengah-pandemi-negeri/ Fri, 26 Jun 2020 05:34:43 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33133 Tahun 2020, jadi momentum perenungan bersama. Bagaimana tidak, tiba-tiba kita diperintah negara untuk hidup bersih, pakai masker, hingga cuci tangan setiap hari. Lebih-lebih anjuran untuk menjaga jarak jika bertemu sangat digencarkan di seluruh penjuru negeri. Aturan tersebut bukan sesuai kultur Budaya Indonesia. Budaya kita budaya sosial sangat toleran, guyup, gotong royong, dan tenggang rasa.

The post Anniversary, Konspirasi, dan Pandemi: Sebuah Refleksi Kebahagiaan di Tengah Pandemi Negeri appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Tahun 2020, jadi momentum perenungan bersama. Bagaimana tidak, tiba-tiba kita diperintah negara untuk hidup bersih, pakai masker, hingga cuci tangan setiap hari. Lebih-lebih anjuran untuk menjaga jarak jika bertemu sangat digencarkan di seluruh penjuru negeri. Aturan tersebut bukan sesuai kultur Budaya Indonesia. Budaya kita budaya sosial sangat toleran, guyup, gotong royong, dan tenggang rasa.

Dugaan ‘pemufakatan jahat’ didengungkan. Alih-alih jadi pahlawan, ternyata hanya numpang tenar di tengah pendemi. Pemahaman dangkal, logika yang terbalik-balik kerap kali disampaikan melalui media sosial. Sehingga menambah carut marut kegaduhan masyarakat kita.

Sudah cukup, Stop!

Tundukkan kepala, mari sejenak merenung!

Renungan itulah, yang kemudian jadi penyemangat Bonek Bonita. Semangat berbenah, menjadi lebih baik dan tetap saling menjaga. Kebersamaan yang dipertemukan karena kecintaan terhadap kebanggaan. Kebanggaan kita semua, Persebaya Surabaya.

Kami, hanya sebuah titik kecil diantara banyak pecinta sepakbola di Indonesia. Suara kami, suara optimisme. Bahasa kami, bahasa  kejujuran. Ini cara kami mencintai kebanggaan. Jika suara kami dibungkam, maka lewat bahasa kejujuranlah kami bersuara.

Tundukan kepala, mari sejenak merenung!

Di tengah pandemi yang melanda negeri, izinkan kami merefleksi diri. Kami sadar, kami hanya pencinta Persebaya, tidak lebih. Tapi kebersamaan, dan keakraban kami melebihi apapun.

Sembilan puluh tiga tahun bukan usia yang muda untuk Persebaya. Ibarat manusia, Persebaya seperti seorang kakek tua renta yang nyaris mendekati ajalnya. Tetapi tidak dengan semangat Persebaya. Meskipun di usia senja, semangat untuk hidup, hingga mental juara masih menyala-nyala.

Pandemi mengajarkan banyak hal. Kesabaran, keteguhan, dan semangat untuk tetap bertahan dan hidup di tengah sesuatu yang sangat sulit. Faktor kesehatan, keselamatan dan ekonomi jadi faktor yang sangat penting ditengah pandemi ini. Ribuan nyawa melayang, jutaan pekerjaan lenyap seolah-olah mengabaikan semuanya.

Barangkali inilah momentum penting Persebaya diusia 93 tahunnya. Momentum bagaimana bisa bersama-sama Bonek dan seluruh elemen sepak bola yang ada di negeri ini merenung kembali. Merenung bahwa tidak ada yang lebih berharga dari sebuah kegembiraan menonton sepak bola jika pandemi benar-benar belum lenyap dimuka bumi. Semoga pandemi lekas berakhir, dan Persebaya bisa merumput kembali.

WANI!

Bangkalan 2020

The post Anniversary, Konspirasi, dan Pandemi: Sebuah Refleksi Kebahagiaan di Tengah Pandemi Negeri appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Hasta La Vista Persebaya https://emosijiwaku.com/2020/06/26/hasta-la-vista-persebaya/ Fri, 26 Jun 2020 05:29:32 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33131 Tertawa di tengah kesulitan, barangkali sesuatu yang sulit dilakukan manusia. Itulah gambaran kondisi sekarang. Wabah yang melanda negeri ini seolah-olah nyaris merobohkan semua tatanan kehidupan manusia. Covid 19 benar-benar jadi pembunuh massal yang paling ditakuti ditahun 2020 ini.

The post Hasta La Vista Persebaya appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Tertawa di tengah kesulitan, barangkali sesuatu yang sulit dilakukan manusia. Itulah gambaran kondisi sekarang. Wabah yang melanda negeri ini seolah-olah nyaris merobohkan semua tatanan kehidupan manusia. Covid 19 benar-benar jadi pembunuh massal yang paling ditakuti ditahun 2020 ini.

Meminjam istilah dunia hiburan, Show Must Go On. Pertunjukan harus tetap dilanjutkan, pun demikian dengan kehidupan manusia. Setelah luluh lantak disapu pandemi, sudah saatnya manusia melanjutkan hidupnya kembali. Mereset ulang rencana-rencana besar, visi misi kehidupan yang sempat tertunda karena pandemi.

Pun juga dengan Persebaya Surabaya!

Jika Madrid memiliki Semboyan Hala Madrid, Liverpool dengan You Never Walk Alone (YNWA). Izinkan saya membuat semboyan khusus kepada Persebaya Surabaya sebagai motivasi agar bisa kembali bangkit dari pendemi ini. Bangkit jadi club sepakbola besar, bermental juara, penguasa nusantara hingga menggurita di level Asia.

Hasta La Vista Persebaya!

Dikutip dari Wikipedia.

Istilah “Hasta la vista” adalah pengucapan orang Spanyol yang memiliki arti harfiah “Sampai ke penglihatan (berikutnya) dan memiliki arti “Sampai Jumpa Lagi” dan “Selamat Tinggal”.

Pengucapan Hasta La Vista Persebaya sangat releven dengan kondisi pasca pandemi. Istilah ‘Sampai Jumpa Lagi’ tepat disematkan kepada Persebaya. Jumpa lagi dengan prestasi, jumpa lagi dengan juara, piala, dan penghargaan bergengsi negeri. Harapan-harapan itulah yang tentunya akan diamini oleh seluruh pencinta Persebaya Surabaya.

Demikian juga dengan istilah ‘Selamat Tinggal’, meninggalkan kebiasaan buruk, kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak berkembang. Meninggalkan semua hal yang menghambat Persebaya Surabaya melesat berprestasi dan juara.

Sudah saatnya meninggalkan cara lama yang usang, saatnya bergerak menjadi club yang siap melenggang ke level Asia. Bukan lagi Nusantara.

Jika klub tetangga, Bali United sudah melenggang ke Pasar Saham. Kenapa nama besar Persebaya tidak bisa? Itulah harus segera dipikirkan oleh Manajemen Persebaya. Bukan perkara mudah melenggangkan nama Persebaya ke pasar saham Internasional. Tapi dengan cara itulah dunia internasional akan mengakui keberadaan Persebaya di kancah sepak bola dunia.

Lantas, kenapa harus menunggu?

Sudah saatnya Persebaya melesat menembus Asia dengan prestasi-prestasi nasional yang membanggakan.

Hasta La Vista Persebaya.

WANI.

Bangkalan 2020

The post Hasta La Vista Persebaya appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
93 Tahun Persebaya, Perayaan Sederhana dan Berbeda, Namun Penuh Makna https://emosijiwaku.com/2020/06/25/93-tahun-persebaya-perayaan-sederhana-dan-berbeda-namun-penuh-makna/ Thu, 25 Jun 2020 09:35:44 +0000 https://emosijiwaku.com/?p=33119 Di tahun ini, ulang tahun Persebaya menurut penulis sensasinya berbeda. Namun makna yang dihasilkan lebih terasa dan mengena ke seluruh Bonek-Bonita termasuk yang penulis rasakan. Akibat adanya pandemi Covid-19, kita tentu tidak bisa bertemu dengan jumlah orang yang banyak atau bahkan berkerumun. Apalagi kasus positif Covid-19 di Surabaya masih tertinggi di Jawa Timur dan masuk wilayah zona merah.

The post 93 Tahun Persebaya, Perayaan Sederhana dan Berbeda, Namun Penuh Makna appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>
Pada 18 Juni 2020, Persebaya telah memasuki usia yang dibilang sudah tidak muda lagi yakni berusia 93 Tahun. Dengan usia yang hampir 1 abad atau menuju 100 tahun, Persebaya sebagai klub sepak bola profesional sudah selayaknya meraih beberapa prestasi yang diimpikan oleh manajemen klub dan seluruh Bonek di manapun berada. Ibarat seseorang, Persebaya sudah memiliki investasi di masa muda dan menikmati hasilnya di masa tuanya. Investasi tersebut misalnya akademi pemain muda, klub Internal Persebaya, dan juga profesionalitas klub menuju Persebaya yang sustainable seperti yang dicita-citakan Presiden klub Azrul Ananda.

Di tahun ini, ulang tahun Persebaya menurut penulis sensasinya berbeda. Namun makna yang dihasilkan lebih terasa dan mengena ke seluruh Bonek-Bonita termasuk yang penulis rasakan. Akibat adanya pandemi Covid-19, kita tentu tidak bisa bertemu dengan jumlah orang yang banyak atau bahkan berkerumun. Apalagi kasus positif Covid-19 di Surabaya masih tertinggi di Jawa Timur dan masuk wilayah zona merah.

Dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Persebaya selalu menggelar laga uji coba atau laga Anniversary di Gelora Bung Tomo dan juga perayaan di Gelora 10 Nopember. Tahun ini Persebaya menyapa seluruh Bonek-Bonita hanya melalui daring dan tentunya Bonek-Bonita juga sudah rindu (kangen) menyaksikan Persebaya berlaga kembali.

Banyak acara dan lomba yang diadakan manajemen Persebaya dan media komunitas suporter melalui daring terutama di media sosial. Misalnya lomba menulis atau writer contest lalu ada juga menggmbar Wong Mangap yang diadakan oleh Persebaya di akun instagram resmi Persebaya.

Guna mengobati rasa rindu tribun Bonek-Bonita beberapa media komunitas suporter juga mengadakan lomba karaoke menyanyikan anthem Song For Pride dengan dilengkapi atribut Persebaya dari rumah masing-masing dan juga adanya konser virtual yang dihadiri dari perwakilan tribun.

Acara seperti ini tidak ada di tahun-tahun sebelumnya, dan mugkin ini bisa diteruskan di tahun-tahun berikutnya. Karena selain mengobati rasa kangen Bonek tehadap Persebaya, beberapa lomba tersebut bisa menjadi wadah kreatifitas arek-arek Bonek untuk berkarya sesuai passion mereka masing-masing. Dan ternyata bakat mereka sungguh luar biasa mulai dari menulis, menggambar, desain hingga bernyanyi.

Manajemen, perwakilan tribun, dan juga maskot Persebaya Jojo dan Zoro berziarah ke makam Alm. M. Pamoedji (Pendiri SIVB atau Persebaya) untuk berziarah dan mendoakan beliau dan juga demi kesuksesan Persebaya. Ziarah makam seperti ini menurut penulis tidak boleh hilang setiap tahunnya. Karena kita harus selalu mendoakan dan menghargai para legenda dan pendiri Persebaya.

Presiden Azrul Ananda dan manajemen juga mengadakan syukuran dan doa bersama di kantor Disway di Jl. Walikota Mustajab. Beberapa Bonek juga melakukan perayaan di rumah masing-masing dengan menyalakan petasan atau flare sendiri. Meskipun ada beberapa Bonek yang masih merayakan dengan cara konvoi dan berkerumun akan tetapi mereka tetap menjaga ketertiban dan menaati protokol kesehatan.

Beberapa ucapan juga diberikan oleh para pemain, pelatih, Bonek–Bonita, dan beberapa klub Liga 1 lainnya. Bagi penulis, ulang tahun ini mungkin secara fisik kita tidak bisa bertemu langsung, namun hati Bonek-Bonita masih sama yakni berjuang dan setia mendukung demi kejayaan Persebaya. Ulang tahun yang sederhana namun memiliki makna yang cukup berarti. Semoga pandemi ini segera berakhir dan bonek semuanya tetap sehat dan bisa  menyaksikan Persebaya berlaga dan berjaya kembali. (*)

The post 93 Tahun Persebaya, Perayaan Sederhana dan Berbeda, Namun Penuh Makna appeared first on Emosi Jiwaku.

]]>