Bule Penulis “Sepakbola The Indonesian Way of Life”: Perjuangan Bonek Layak Jadi Satu Bab di Buku

EJ – Jarang ada penulis luar yang membuat buku tentang sepak bola Indonesia. Padahal, Indonesia mempunyai banyak cerita sepak bola. Sejarah persepakbola kita sudah dimulai sejak era kolonial. Itulah mengapa sejarah persepakbolaan Indonesia begitu kuat. Sejarah klub-klub di Indonesia sangat melekat di hati para pendukungnya.

Anthony Sutton, bule asal London, Inggris ini merupakan penulis luar yang sangat langka karena menuliskan sepak bola Indonesia dari sudut pandangnya. Saat ini, ia sedang membuka pemesanan untuk bukunya yang berjudul “Sepakbola The Indonesian Way of Life”.

Buku yang ditulis blogger dengan nama Jakarta Casual ini menggambarkan kondisi persepak bolaan Indonesia berdasar pengamatannya selama tinggal di sini. Ia mengaku telah menonton 200 pertandingan klub dan timnas Indonesia. Tak hanya kasta tertinggi (ISL), ia juga berkeliling Indonesia untuk menonton pertandingan klub-klub penghuni kasta terendah.

Dalam salah satu bab bukunya, Anthony secara khusus menulis tentang Persebaya dan Bonek. Menurutnya, perjuangan Bonek layak untuk dijadikan salah satu bab di buku yang bisa dinikmati Februari nanti.

Berikut wawancara antara wartawan EJ, Iwan Iwe, dengan Anthony Sutton.

Halo Anthony, apa kabar?

Hai juga. Kabarnya baik. Salam Bonek.

Bagaimana sambutan masyarakat atas bukumu sejauh ini?

Reaksinya sangat positif terutama di media sosial. Kita lihat apa yang akan terjadi saat bukunya diterbitkan.

Kamu memasukkan Persebaya dan Bonek sebagai salah satu bab di bukumu. Apa pertimbangannya?

Buku ini menyoroti tentang sepak bola Indonesia termasuk sejarah pemain, pelatih, suporter, dll. Aku menambahkan bab khusus tentang Surabaya dan Persebaya, well, karena kota ini menjadi tempat istimewa dalam sejarah Indonesia dan aku melihat adanya hubungan pararel antara perjuangan melawan kolonial Belanda tahun 1945 dengan perjuangan Bonek mempertahankan eksistensi Persebaya.

Apakah kamu pernah melihat pertandingan Persebaya bersama Bonek?

Aku hanya melihat pertandingan Persebaya melawan Persitara di Jakarta. Aku sering melihat, maaf “Persikubar” bermain beberapa kali. Sekarang Persebaya telah kembali dan aku ingin menontonnya di Stadion GBT di tengah-tengah ribuan Bonek.

Seberapa jauh pengetahuanmu soal Bonek di masa lalu?

Aku pernah bekerja setahun di Surabaya dari 2003 hingga 2004 sebelum aku tertarik dengan sepak bola lokal. Saat itu, kapan pun aku bilang ingin nonton Persebaya kepada istriku, ia bilang untuk tidak berbuat hal bodoh. Ia berkata hal itu sangat berbahaya dan semua orang mengatakan hal yang sama.

BACA:  Sepak Bola, Jalan Hidup Orang Indonesia

Aku tertarik dengan reaksi orang-orang waktu itu saat mendengar kata Bonek. Ini seperti dongeng di abad 21 di mana mereka adalah penyihir jahat dalam cerita anak-anak. Saat kamu menyikat gigimu, Bonek akan segera menangkapmu.

Apakah kamu pernah menjumpai suporter di Indonesia atau luar Indonesia yang karakternya seperti Bonek?

Aku pernah berjumpa dengan suporter Millwall, Chelsea, Middlebrough di masa-masa buruk sepak bola Inggris yang dipenuhi hooligan. Jadi aku tak pernah khawatir saat menonton Persebaya. Sayangnya jadwal pekerjaanku saat itu tak pernah memberiku kesempatan.

Apakah pernah bertemu dengan pentolan-pentolan Bonek?

Sayangnya, aku tak pernah bertemu mereka. Akan sangat baik jika suatu saat nanti aku bisa bertemu mereka.

Menurut kamu, Bonek itu bagaimana saat ini?

Cara Bonek berjuang mempertahankan eksistensi klubnya sangat layak menjadi buku tersendiri. Perjuangan mereka tidak hanya melalui petisi dan hastag Twitter. Tapi semua usaha dan waktu yang dibutuhkan Bonek untuk berangkat ke Jakarta dan Bandung dengan segala cara demi bisa mengibarkan bendera, mengenakan baju kebanggaannya, dan memberitahu ke seluruh dunia jika Persebaya belum mati sangat mengesankan. Benar-benar mengesankan.

Bonek sering dicitrakan buruk oleh media, mengapa bisa begitu?

Aku pikir reputasi Bonek telah ada sebelum aku datang. Aku ingat saat kunjungan pertamaku di Indonesia tahun 1987 dan berbicara dengan fans lokal. Ia berkata jika fans Surabaya (Bonek) punya sebuah reputasi. Sekali kamu mendapat reputasi jelek maka susah sekali menghilangkannya. Akhirnya Bonek akan selalu dipandang buruk oleh beberapa pihak.

Bonek sedang berkampanye positif, misal “No Ticket No Game”,”No Rasicm”, apakah kamu punya saran agar Bonek bisa lebih baik ke depannya?

Mereka bisa melakukan banyak hal untuk mengubah persepsi. Kampanye “No Ticket No Game” adalah awal yang bagus. Suka atau tidak suka, sepak bola butuh uang dan jika Persebaya ingin bersaing dengan klub-klub baru yang lebih profesional, mereka butuh banyak sponsor.

Apa yang bisa diperbaiki dari Bonek?

Bonek adalah pelopor awaydays pertama di Indonesia. Mungkin mereka bisa jadi pelopor dengan mengadakan kegiatan-kegiatan sosial di lingkungannya. Dengan profil mereka yang tinggi, Bonek akan menarik banyak pemberitaan positif.

Buku “Sepakbola The Indonesian Way of Life” sudah bisa dipesan dan bisa dinikmati mulai Februari 2017. Klik di sini untuk melakukan pemesanan. (*)