Persebaya Telah Kembali, Sebuah Catatan Anthony Sutton

Bonek di Sleman. (Foto: Donie VJ/EJ)

EJ – Blogger asal Inggris, Anthony Sutton, terbang ke Sleman untuk menonton pertandingan Persebaya, Selasa (28/2). Penulis buku “Sepak Bola, Indonesian Way of Life” berada di tengah-tengah Bonek dan menyaksikan Green Force menghajar PSN Ngada 4-2. Malam seusai pertandingan, ia diundang menghadiri acara meet and greet antara manajemen dan Bonek di sebuah kafe di pelataran harian Radar Jogja. Berikut pengalamannya yang ditulis di blog sepak bolanya, Jakarta Casuals, yang diterjemahkan oleh redaksi EJ.

***

Setelah bertahun-tahun berada dalam kekacauan dan perjuangan panjang melawan tirani, Persebaya akhirnya kembali ke kancah persepak bolaan Indonesia. Di bawah kepemilikan sebuah perusahaan media asal Jawa Timur, Persebaya akan berkompetisi di Liga 2 yang kemungkinan dimulai April.

Iwan Setiawan mendapat tugas membangun sebuah skuad dengan mengandalkan pemain berpengalaman seperti Mat Halil yang bisa menyampaikan pesannya kepada pemain begitu wasit membunyikan peluitnya. Di luar lapangan, pemilik baru berjanji mengubah cara mengelola sebuah klub sepak bola dan berkomitmen memakai pendekatan profesional.

Kita telah menyaksikan sebuah bukti di mana gaji yang tertunggak sejak 2013 dibayarkan kepada para pemain. Langkah sederhana dan mahal namun berada dalam jalur yang tepat menuju sebuah ide bahwa kontrak hanyalah sebuah lembaran kertas dan sebuah langkah yang bisa dipelajari klub-klub lain, tidak hanya di Indonesia.

Masalahnya tentu saja uang yang dihabiskan untuk membayar gaji bukan uang yang akan diinvestasikan untuk tim dalam usahanya menuju sepak bola papan atas di mana seharusnya Persebaya berada. Namun, hal itu menjadi sinyal untuk pemain jika kontrak mereka dihargai.

Pertandingan pertama Persebaya berawal di Sleman di mana mereka berkompetisi di Dirgantara Cup bersama Persiba, Persekama, PSN, Cilegon United, Persebul, Persibo dan PSMP. Satu grup dengan PSN, Persbul dan Cilegon United, Persebaya membuka kemenangan dengan mengalahkan PSN 4-2 meski tertinggal lebih dahulu lewat gol di menit-menit awal.

Bonek dijepret dari kamera Anthony Sutton.

Beberapa menit jelang kick off babak pertama, dirijen naik ke panggung meminta para fans merapat bersama. Setelah meneriakkan yel-yel, menari, menabuh drum, kibaran bendera tidak berhenti hingga pertandingan berakhir. Sangat mengesankan berada di tengah-tengah fans dan melihat mereka berkumpul bersama. Selain kesan itu, bertolak belakang dengan mereka, ada perempuan di pojok tribun dengan anaknya, bayi Bonek, generasi berikutnya yang ada di ruang pengajaran paling penting.

Bagi ribuan Bonek yang datang, baik di dalam maupun di luar stadion, mungkin hasil tidak terlalu penting. Tim mereka telah kembali dan mereka dapat bergabung dengan rekan-rekan mereka di tribun lagi. Menambah kenalan baru dan berbagi pengalaman bak cerita rakyat dan mistis yang mengelilingi para penggemar klub bersejarah ini.

Perjuangan para penggemar yang membuat tim tetap hidup membuat mereka menjadi sosok fans berpengaruh di mana di Liga Inggris itu semua hanya mimpi. Sebagai contoh Arsenal yang mengadakan rapat pemegang saham di mana hanya mereka yang punya saham namun kecil karena Kroenke memakan dengan serakah bagian terbesarnya. Namun laporan yang datang dari even itu menyarankan untuk membuat sesi khusus di mana manajemen klub naik ke atas panggung dan melihat para fans dengan berbicara banyak dengan cara yang sama tanpa memberi apa-apa. Semua serba korporasi dan membosankan.

BACA:  Persbul Buol, Klub Sulawesi Yang Diisukan Merger dengan Persema

Setelah pertandingan lawan PSN, manajemen Persebaya mengadakan acara meet and greet di Yogyakarta dan saya termasuk yang diundang. Saya datang dengan beberapa teman untuk melihat pemilik baru duduk di sebuah kafe di antara para penggemar dan membuka sesi tanya jawab. Mari kita catat. Manajemen Arsenal menempatkan mereka di atas para penggemar secara fisik dan visual sementara manajemen Persebaya berada di antara para penggemar. Tak ada udara, tak ada rumput, tak ada kita, tak ada mereka. Setiap orang datang ke sana demi Persebaya. Tak ada pria sombong berjas menggurui para penggemar dan memberi ucapan terima kasih atas ketertarikannya kepada klub.

Dan tak ada pertanyaan yang lebih dulu harus disetujui yang ditanyakan. Meski bertahun-tahun salah urus akibat politik, masih ada kecurigaan dalam masalah bisnis di dunia sepak bola. Klub-klub lain berubah jadi pecundang setelah dipegang orang-orang kaya tapi kemudian ditinggal ketika mereka pergi dan meninggalkan kekacauan. Para penggemar harus peduli. Mereka ingin menjaga semangat Bonek tetap hidup dan menginginkan efek itu berlanjut. Bersamaan dengan itu, mereka membuat kebijakan klub seperti “No Ticket No Game” dan tribun khusus wanita dan anak-anak di Stadion Gelora Bung Tomo.

Saya terkejut saat diminta untuk mengatakan beberapa hal. Mungkin karena saya pembicara yang kurang menarik. Saya bergumam sesuatu tentang Bonek dan bagaimana sepak bola Indonesia membutuhkan Persebaya yang sukses. Saya sedikit merasa seperti pengganggu, jujur saja, ini adalah malam buat Persebaya sementara saya hanyalah penggemar Arsenal. Namun saya senang bisa terlibat dan saya harus bilang pemilik klub, Jawa Pos, sangat mendukung buku baru saya.

Bagaimana menjelaskan ide “No Ticket No Game” sebagai sesuatu yang baru. Saya berbicara dengan salah satu penggemar Persebaya yang bekerja di kapal pesiar yang membawanya keliling dunia. Ia bercerita kepada saya tentang pengalamannya ngobrol dengan fans AS Roma tentang apa arti Bonek. Dan ultras garis keras ini tidak percaya apa yang ia dengar. Bagaimana bisa para penggemar melakukan perjalanan untuk menonton pertandingan tapi tidak membawa uang? Mengapa mereka duduk di atap dan bergelantungan di sisi kereta hanya untuk menonton timnya? Mengapa mereka hanya duduk di luar stadion karena tidak mempunyai uang untuk membeli tiket? Mengapa mereka tidak memakai alas kaki? Ada banyak pertanyaan namun penggemar Persebaya ini, dengan segala tradisi dan budaya, tidak bisa menjawabnya meskipun bahasa Inggrinya cukup bagus. Di Indonesia jawabannya sangat sederhana. Karena mereka adalah Bonek. Katakan itu saja. Namun itu tidak bisa diterima dengan baik dalam pandangan orang-orang barat yang mempunyai kata favorit, “mengapa”.

Ada sebuah kisah yang diceritakan apakah Persebaya melihat dirinya sebagai Muang Thong United versi Indonesia, klub Thailand yang juga dimiliki perusahaan media dan saat ini tampil baik di Liga Champions Asia. Saya menduga jawabannya tidak. Mereka adalah Persebaya dengan sejarah 90 tahun dan sebuah pembaharuan citra tidak akan berjalan baik dengan dukungan. (*)