SIVB Untold Stories (3): Perubahan SIVB Menjadi Persibaja

Pada tulisan kami sebelumnya, jika pembaca teliti seharusnya tergelitik dengan sebuah data yang kami tampilkan. Tahun 1940, SIVB dan SVB melakukan pertandingan persahabatan seperti tahun-tahun sebelumnya, bedanya kali ini pertandingan digelar untuk merayakan ulang tahun Putri Beatrix. Teka-tekinya adalah, pada cuplikan koran Soerabaiasche Handelsblad 29 Januari 1940, tidak disebutkan nama SIVB lagi, melainkan Persibaja.

Bukankah SIVB berubah nama menjadi Persibaja pada masa invasi Jepang seperti anggapan umum sebelumnya? Lalu mana yang benar, berita koran tersebut atau anggapan orang selama ini?

Ada beberapa referensi yang akan Anda dapatkan jika ingin mengetahui penggunaan istilah Persibaja, baik yang akademis maupun tidak. Namun hampir semua referensi tersebut selalu menuju pada titik yang sama. Skripsi Mahasiswa Unair Jurusan Sejarah Jemmy Husni M, yang berjudul Perkembangan SIVB Menuju Persebaya Tahun 1927 – 1978.

Bahasa Belanda yang menjadi bahasa resmi pemerintahan ketika zaman Hindia Belanda dilarang secara keras oleh Pemerintah Militer Jepang. … Akibat pengaruh kebijakan yang dilakukan Pemerintah Militer Jepang terhadap perkembangan SIVB adalah membuat perkumpulan sepakbola pribumi ini mengubah namanya menjadi Persibaja (Persatuan Sepakbola Indonesaia Surabaja) pada tahun 1943

Kutipan skripsi, diatas menjadi rujukan awal tentang perubahan nama SIVB menjadi Persibaja yang tak lain merupakan terjemahan dari singkatan SIVB sendiri dalam bahasa Belanda. Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan pandangan berbeda tentang perubahan nama SIVB menjadi Persibaja.

Rapat Tahunan SIVB

Cerita dimulai pada rabu malam 18 Mei 1938, petingggi-petinggi SIVB dan anggotanya berkumpul hingga larut. Benar, mereka sedang melangsungkan rapat tahunan dengan berbagai agenda [1]. Kongres tahunan tersebut dilaksanakan sebelum kongres tahunan PSSI di Solo ditahun yang sama pada bulan berikutnya. Selain pemilihan ketua baru, kongres juga memutuskan perwakilan SIVB dalam kongres PSSI.

Pada kesempatan tersebut kongres membahas berbagai hal terkait dapur organisasi, dari soal finansial, pelaksanaan kompetisi, laporan tahunan dan lain-lain. Kongres juga menghasilkan kepengurusan baru. J.K Lengkong yang menjabat pada periode sebelumnya menggantikan M Pamoedji menolak dicalonkan kembali. Peserta rapat kemudian sepakat memilih dr Soewandhi sebagai ketua. Perwakilan SIVB dalam kongres PSSI di Solo dibebankan kepada J.D Syaranamual dan M Pamoedji.

BACA:  SIVB Untold Stories (1): Mereka Di Balik Layar SIVB

Pembahasan selanjutnya adalah rencana perubahan nama SIVB, perubahan nama tersebut sejalan dengan himbauan PSSI agar klub-klub anggotanya sebisa mungkin menggunakan bahasa melayu dalam penamaannya. Besar kemungkinan himbauan untuk menggunakan bahasa melayu dilakukan sebagai balasan atas sikap buruk NIVU yang terus menunjukkan gejala-gejala keogahannya untuk mematuhi Gentlement Agreement (baca: SIVB Untold Stories-2). Pada kongres PSSI sebulan kemudian, Ir. Soeratin memutus kesepakatannya dengan NIVU secara sepihak. Dari sini bisa ditarik benang merah alasan yang melatarbelakangi himbauan tersebut.

Naamsverandering SIVB, Persibaja dan PORIS

Kembali ke kongres SIVB, pada hari itu juga SIVB (Soerabaiasche Indonesische Voetbal Bond) merubah namanya menjadi Persibaja atau Persatuan Sepakraga Indonesia Soerabaja yang tak lain merupakan terjemahan dari SIVB dalam bahasa Belanda.

Pemberitaan kongres SIVB tahun 1938 yang memuat pemberitaan penggantian nama SIVB menjadi Persibaja. - Dikutip dari (De Indische Courant 21 Mei 1928)
Pemberitaan kongres SIVB tahun 1938 yang memuat pemberitaan penggantian nama SIVB menjadi Persibaja. – Dikutip dari (De Indische Courant 21 Mei 1928)

Pebruari 1942, Jepang berhasil menghancurkan kekuatan militer Hindia Belanda. Sejak itu situasi berubah total termasuk olahraga, Jepang mendirikan Tai Iku Kai. Sebuah lembaga yang membawahi semua bidang olahraga, alhasil kompetisi sepakbola eksisting saat itu mulai dari PSSI, NIVU hingga HNVB menjadi vakum.

Setelah Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan tahun 1945, Tai Iku Kai dirubah menjadi GELORA (Gerakan Latihan Olahraga). Selanjutnya GELORA berubah menjadi PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) yang berkembang pesat hingga ke daerah-daerah, tentunya hingga ke Surabaya. PORI membawahi berbagai cabang olahraga mulai sepakbola, atletik, bola keranjang, panahan dll.

Persibaja (baca : SIVB) yang telah lama vakum sejak invasi Jepang, kemudian bertransformasi menjadi PORI Surabaya (PORIS) untuk cabang sepakbola. Permasalahan tidak berhenti disana, meski telah aktif kembali tahun 1948, induk organisasi sepakbola Pribumi (PSSI) belum aktif. Lalu bagaimana perkembangan klub-klub anggota Persibaja sebelumnya (Tjahaja Laoet, Rego, PS Hizbhoel Wathan, Selo, Oliveo)? Sayang hingga kini belum ada catatan yang bias dijadikan rujukan terkait klub-klub anggota tersebut. (bersambung)

@bajulijonet

[1] De Indische Courant 21 Mei 1938