Kisah Pak Jamal, Pawang Hujan Langganan Persebaya

persebaya
Tak Biasa Main di Lapangan becek. Itu kata Manajer Persebaya Letkol Budianto setelah Aji santoso dkk dikalahkan Arema dengan skor 1-0 di Stadion Gajayana pada 29 Maret 1995. Dalam foto, Mursyid Effendi (kiri) berebut bola dengan pemain Arema Dery kristanto. (Foto: Kholili Indro)
Iklan

Emosijiwaku.com – Final Piala Bhayangkara yang diadakan di Gelora Bung Karno telah berakhir Minggu (3/4). Pertandingan berjalan lancar dan berlangsung dalam cuaca cerah. Melalui pemberitaan media, kita bisa tahu jika ada “panitia” yang bertugas membuat pertandingan berlangsung lancar tanpa terganggu hujan. Dialah pawang hujan.

Di negara yang hanya mempunyai dua musim, kemarau dan penghujan, profesi pawang hujan sangat penting. Sebagai negara berkembang, hampir semua stadion dan lapangan di Indonesia drainase dan tata kelola manajemen airnya kurang bagus. Penyebabnya terkait dengan pembangunan awal lapangan itu sendiri. Membuat lapangan bola bukan hanya sekadar menaruh pasir di bawah permukaan tetapi ada teknologi drainase yang harus diterapkan. Libur kompetisi adalah waktu tepat membongkar semua lapangan di Indonesia agar drainase lapangan menjadi bagus saat hujan deras tiba.

Saat masih menjadi bagian dari tim Persebaya musim Liga Indonesia III s/d VII, salah satu kewajiban saya adalah mencari pawang hujan. Pak Jamal sebut saja demikian adalah langganan tetap Persebaya saat ada pertandingan kandang. Tempat tinggalnya berada di kampung sekitar mess Karanggayam. Orangnya sangat ramah dan perokok berat. Syarat menggunakan jasanya sangat mudah. Selain karena dia seorang bonek yang mencintai Persebaya, Pak Jamal juga melakukannya dengan suka rela. Hanya dengan 3-5 bungkus rokok dan air putih tanpa perlu membelikan ubo rampe segala macam, tugas akan segera dilakukannya.

Pertandingan kandang Persebaya di Gelora 10 Nopember Tambaksari hampir semua dilakukan sore hari sekitar pukul 15.30 WIB. Jika ada pertandingan, Pak Jamal akan mulai melakukan tugasnya sekitar pukul 11.00 sebelum sholat dhuhur dimulai. Berjalan keliling lapangan dilakukannya sebelum pintu stadion dibuka. Mulutnya komat-kamit membacakan mantra. Di salah satu sudut di sisi barat depan tribun utama, Pak Jamal biasanya akan berhenti dan duduk sampai pertandingan berakhir. Jauh dari sorot kamera dan lepas dari perhatian, Pak Jamal bekerja dalam senyap dan ikhlas.

Iklan

Dalam kepercayaannya, apa yang dia lakukan bukan menolak hujan ataupun menghentikannya. Akan tetapi meminta kepada Yang Kuasa untuk memindahkan lokasi hujan atau setidaknya menundanya sampai pertandingan selesai. Bagi Pak Jamal, hujan adalah rejeki bagi mahluk hidup. Menurutnya, dosa jika menolaknya. Semua yang dia lakukan adalah ikhtiar. Jika hujan tetap turun maka itu di luar kehendak Pak Jamal. Dari pekerjaannya sebagai pawang hujan Persebaya, dari informasi gethok tular atau mulut ke mulut, Pak Jamal mulai dikenal di lingkungan event organizer dan beberapa instansi pemerintah.

Pernah suatu saat Kodam V Brawijaya membuat acara outdoor. Waktu itu salah satu personil yang kebetulan sering menjaga di Tambaksari merekomendasikan nama Pak Jamal ke komandannya. Dari situlah, Pak Jamal kemudian menjadi langganan tetap pihak Kodam. Jajaran Gubernur Jatim dan bawahannya juga menjadi pelanggan tetap.

Lima tahun yang lalu, Pak Jamal meninggal dunia. Sosok ramah rendah hati dan sangat berjasa ini kini telah tiada. Entah siapa lagi yang meneruskan ilmunya.

Ini hanya sepenggal kisah di luar lapangan Persebaya yang bisa saya ceritakan. Masih banyak kisah lain yang jarang diangkat media saat ini. Sepakbola sangat menarik justru di luar lapangan. Kehidupan yang penuh dengan cerita baik riil maupun mistis. Lucu dan konyol pun biasa terjadi, baik dialami pemain, staf pelatih di kandang dan luar kandang. Sepakbola begitu menggembirakan di luar lapangan.

*) Edhie R.K adalah Bidang Promosi Persebaya era Liga Indonesia III – VII

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display