Mahakarya Bonek Campus “History of Persebaya” untuk Generasi yang Ingin Tahu Sejarah

Seorang Bonek bertanya kepada mantan pelatih Persebaya Freddy Muli di acara Talk Show Pelaku Sejarah Persebaya. (Foto: EJ)
Iklan

EJ – Minggu siang 22 Mei 2016, matahari di langit Surabaya sangatlah terik. Sesuatu yang biasa terjadi saat musim kemarau. Salah satu mesin pencatat suhu di jembatan penyeberangan Wonokromo yang saya lewati menunjukkan angka 35 derajat celcius. Panas dan kering.

Perjalanan dari Tambaksari menuju JX International di Jalan A Yani, hampir semua warung kopi dan kafe yang saya lewati ramai-ramai menonton siaran televisi. Siang itu, ada siaran langsung final pertandingan bulu tangkis Piala Thomas. Indonesia menantang Denmark. Penantian 14 tahun sejak 2002 saat meraih piala terakhir menjadi kerinduan yang sangat hebat. Digambarkan oleh cuitan twitter Cak Fim, penulis buku Mencintai Sepakbola walau Kusut, Piala Thomas laksana film AADC. Secara kebetulan jarak antara AADC pertama dengan AADC 2 juga 14 tahun. Sayang, penantian panjang belum akan berakhir dan masih menunggu dua tahun lagi. Denmark akhirnya memboyong Piala Thomas ke Eropa.

Sekitar pukul 13.00 WIB, saya memarkirkan motor di basemen gedung. Menaiki dua tangga kecil di belakang langsung menuju Coffe Toffee. Di kafe itulah tujuan saya. Terlihat banyak pengunjung memakai kaos hijau. Mahakarya Bonek Campus, History of Persebaya. Itulah gelar karya anak-anak yang tergabung dalam Bonek Campus (Boca) Surabaya.

Sebelum bercerita tentang acaranya, saya akan sedikit menggambarkan apa yang saya tahu sebelum acara dilaksanakan. Empat sampai tiga bulan sebelumnya, saya mendengar akan ada acara dari Boca. Bayu, salah satu anggota Boca, bercerita kepada saya, juga Nindi dan Ilham. Dan tak terlupakan senior Boca yang biasa saya panggil Mas Kaji (entah nama aslinya siapa). Mereka bersama anggota Boca yang lain bekerja sangat keras dan cerdas. Membuat konsep yang bagus, mengelola manajemen dengan bagus, dan berkomunikasi dengan semua pihak. Mereka melakukannya siang dan malam.

Iklan

Mereka mulai mengeksekusi draft program yang telah disusun sebelumnya. Mengumpulkan semua data dari berbagai pihak. Mencari berita-berita Persebaya di media seperti Jawa Pos dan perpustakaan. Mengunjungi mantan pemain dan pelatih pun mereka lakukan. Ya, siang malam mereka allout demi suksesnya acara. Beberapa mantan pelatih dan pemain bahkan ditemui di tempat mereka bekerja. Mereka juga bekerjasama dengan komunitas Surabaya Jersey Community dan mengundang seluruh komunitas sepak bola Eropa hadir di acara tersebut.

Pengunjung berpose di photobooth EJ. (Foto: EJ)
Pengunjung berpose di photobooth EJ. (Foto: EJ)

Di dalam kafe terlihat beberapa piala bersejarah berjajar. Piala ini dipinjam dari pengurus Wisma Persebaya beberapa hari sebelum acara. Ada juga koleksi kliping dengan pigura mewah kepunyaan Soebodro, seorang legenda Persebaya. Beberapa foto hitam putih juga terpajang. Ada beberapa medali kejuaraan koleksi para mantan dipamerkan di bagian dalam kafe.

Sementara, di sisi luar terdapat beberapa papan kayu. Tiap-tiap papan terdapat tempelan berita koran yang dibagi dalam beberapa edisi. Mulai edisi tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an, dan 2000-an. Potongan berita memperlihatkan Persebaya pernah melawan beberapa kesebelasan dari Eropa dan Amerika latin. Tepat di depan papan, tergantung puluhan jersey original dari masa ke masa.

Awalnya, acara ini rencananya digelar dua hari, Sabtu dan Minggu, 21-22 Mei 2016. Akan tetapi, di detik-detik terakhir, panitia hanya mendapatkan ijin di hari Minggu. Sabtu siang sampai malam masih dipakai untuk acara lain.

Kerja keras anak-anak Boca dimulai lagi Sabtu Malam. Diiringi hujan deras, mereka sudah melakukan loading properti pameran untuk keesokan harinya. Luar biasa.

Tepat pukul 13.30 WIB, acara dimulai dengan bedah buku terbitan Fandom.id, sebuah portal online sepak bola berbasis di Yogyakarta. Dalam bedah buku berjudul Sepakbola 2.0, dihadirkan tiga pembicara. Ketiganya juga terlibat dalam penulisan buku tersebut. Fajar Junaedi (Dosen Komunikasi), Sirajudin Hasbi (Founder Fando.id), dan terakhir anak muda Surabaya Arif Chusnudin (Mahasiswa Unair).

Mereka membahas isi buku dengan gaya masing-masing. Para pengunjung semakin banyak. Mas Fajar, biasa saya menyebut, mendapat giliran pertama. Dilanjutkan Hasbi dan Arif. Suasana makin cair dengan dialog interaktif dengan pengunjung. Kalau pingin mendapatkan buku Sepakbola 2.0 bisa langsung klik websitenya fandom.id. Buku ini sangat menarik dan inspiratif. Percayalah, ini bukan promosi.

Penontoh Talk Show yang didominasi Bonek. (Foto: EJ)
Penontoh Talk Show yang didominasi Bonek. (Foto: EJ)

Setelah bedah buku, acara demi acara dilaksanakan. Diskusi dengan Fredy Muli, Soebodro, Yongki Kastanya, dan Mat Drai silih berganti meramaikan area dalam kafe. Semakin sore, pengunjung semakin membludak. Banyak yang lesehan di lantai. Acara ini juga diliput secara online oleh teman-teman dari Arek Bonek 1927 yang tergabung dalam kru Radio AB1927. Digawangi Cak Gerson Sumolang, Pieter Ambon, dan penyiar kocak Oka Gundul. Mereka menyiarkan live streaming via radio dan aplikasi televisi ustream. Sejarah akan mencatat ini, kawan.

Siaran ini sangat membantu Bonek yang tidak bisa hadir ke acara. Dari pantauan komputer, terlihat pengunjung radio dan televisi streaming mereka sangat banyak. Penyiar Oka dan kameramen Pieter terlihat berkeliling arena di luar kafe untuk mengabarkan dan menjelaskan apa yang ada disana. Tunggu saja rekamannya. Dalam waktu dekat akan mereka unggah ke jejaring online.

Semakin malam suasana semakin panas. Pengunjung sangat banyak, baik di dalam dan maupun di luar. Antusiasme mereka untuk mengenal dan mempelajari sejarah panjang sangatlah besar. Ini sangat baik untuk generasi berikutnya. Terlihat banyak yang membawa putra-putrinya mengenalkan apa dan siapa itu Persebaya dan Bonek.

Jojo Bonek muncul saat Soebodro, mantan pelatih Persebaya, berdialog. (Foto: EJ)
Jojo Bonek muncul saat Soebodro, mantan pelatih Persebaya, berdialog. (Foto: EJ)

Sekitar pukul 18.45 WIB pengunjung di dalam terkejut. Saat itu ada dialog dengan Soebodro, tiba-tiba munculah Jojo Bonek, sebuah karakter boneka bajol menyeruak di antara pengunjung.

Teriakan memanggil Jojo membahana. Banyak di antara anak kecil yang malah ketakutan kaget. Jojo berjalan keluar dan di luarlah para pengunjung berebut berfoto bersama. Sambil belajar sejarah, pengunjung juga dihibur dengan kehadiran Jojo yang khusus dihadirkan anak-anak Boca di acara ini. Jojo adalah sebuah karya dari teman-teman Bonekpedia.

Mat Drai, dua dari kanan, fisioterapis Persebaya berpose bersama Bonek. (Foto: EJ)
Mat Drai, dua dari kanan, fisioterapis Persebaya berpose bersama Bonek. (Foto: EJ)

Ada dua MC acara terlihat di depan photobooth utama. Mereka memanggil satu persatu semua yang membantu acara tersebut. Ada kru emosijiwaku.com, Surabaya Jersey Community, kru RadioAB1927, dan Pemerhati Sejarah Persebaya. Panitia mengucapkan terima kasih atas semua support dan dukungannya.

Tibalah di acara paling akhir yaitu musik akustik yang diisi lagu-lagu tentang Persebaya. Beberapa lagu terdengar dibawakan teman-teman Bonek dari lintas generasi. Tentu saja diikuti oleh koor dari sekitar ratusan Bonek yang memenuhi area depan kafe. Sesuai jadwal, tepat pukul 22.00 WIB, acara selesai.

Live musik akustik lagu-lagu Persebaya setelah acara Talk Show. (Foto: EJ)
Live musik akustik lagu-lagu Persebaya setelah acara Talk Show. (Foto: EJ)

Lelah itu pasti. Tapi semua terbayarkan lunas dengan hasil kerja kalian. Tetapi janganlah berpuas diri. Kalian masih bisa berbuat jauh lebih baik dan berguna. Tak ada gading yang tak retak. Tetaplah semangat berkarya. Tularkan semangat dan kecintaan pada Persebaya kepada generasi selanjutnya. Itu jauh lebih penting agar generasi Boca tidak hilang. Generasi ini tetaplah hebat dan akan tercatat dalam sejarah Persebaya dan Bonek.

Saya sebagai penonton hanya bisa berkata: “Kalian Luar Biasa!”. Terima kasih Boca. Kalian telah membuka mata saya dan semuanya tentang hal yang sangat berharga dan mengajarkan kita semua untuk membaca, menghormati, dan mempelajari sejarah untuk kejayaan masa depan.

Surabaya 23 Mei 2016 – Warkop Pitulikur (bim)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display