Tujuh Dosa Cholid Goromah Sehingga Membuatnya Layak Dipecat Sebagai Dirut Persebaya

Cholid Goromah. (Foto: bola.net)
Iklan

EJ – Euforia kemenangan Persebaya di PN Surabaya masih terasa. Bonek dan manajemen larut dalam sukacita. Namun, ada persoalan lain yang seharusnya segera diselesaikan agar Persebaya bisa eksis kembali.

Cholid Goromah, Direktur Utama PT Persebaya Indonesia (PT PI), adalah orang nomor satu di manajemen yang seharusnya berada di barisan terdepan dalam menyelesaikan permasalahan Persebaya. Dengan jabatannya sebagai Dirut, dia diharapkan mampu membenahi Persebaya dengan terobosan dan inovasi baru.

Sayangnya, Cholid mempunyai dosa-dosa yang membuatnya sulit untuk membenahi Persebaya. Karena dia sendiri merupakan bagian dari permasalahan.

Apa saja dosa-dosa Cholid sehingga dia layak dipecat dari jabatannya?

Iklan

1. Gagal lunasi tunggakan gaji mantan pemain dan pelatih

Cholid Goromah adalah Direktur Utama PT PI saat Persebaya mengarungi kompetisi Indonesia Premier League (IPL) 2011-2013. Setelah IPL berakhir, gaji pemain, pelatih, dan ofisial Persebaya tidak dibayar. Jumlahnya mencapai Rp 6,4 Miliar. Sampai saat ini, masalah tersebut belum tuntas. Cholid sempat dilaporkan Bonek kepada Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya karena permasalahan ini. Cholid kemudian dipanggil, namun dia tidak datang.

2. Roda manajemen PT PI tidak berjalan

Semenjak Persebaya absen dalam kompetisi resmi, tidak ada kegiatan yang dilakukan manajemen. Sampai saat ini belum jelas bagaimana nasib para pegawai PT PI. Besar kemungkinan mereka dirumahkan. Pengurus-pengurus manajemen PT PI hasil RUPS pun terlihat tidak bekerja.

3. Kondisi Mess Persebaya sangat memprihatinkan

Mess di Jalan Karanggayam yang biasa dipakai untuk kegiatan manajemen kini ditinggal penghuninya. Mess legendaris yang menjadi saksi sejarah Persebaya kini nasibnya semakin merana. Kondisinya kusam dan kumuh. Sarang laba-laba menghiasi beberapa sudut bangunan. Mess merupakan fasilitas yang diberikan Pemkot kepada manajemen Persebaya. Sayangnya, tidak ada perhatian dan kepedulian dari manajemen. PLN sempat memutus jaringan listriknya selbanyak 3 kali karena rekeningnya tidak dibayar. Bonek sempat mengadakan kegiatan bersih-bersih mess. Beberapa bagian mes seperti papan nama dicat ulang. Kini, mess dijadikan pusat kegiatan Bonek.

4. Janji mendatangkan investor tidak dipenuhi

Cholid Goromah sering menyatakan jika banyak investor yang tertarik mengelola Persebaya. Dia berjanji akan mendatangkan investor untuk Persebaya. Namun janji tinggal janji. Sampai saat ini, tak ada satu pun investor yang mendekat. Besar kemungkinan, skema yang ditawarkan Cholid tidak menarik investor. Investor yang diharapkan Cholid memang hanya sebagai pengelola tanpa diberi persentase saham. Namun, investor dibebani membayar tunggakan gaji mantan pemain dan pelatih Persebaya.

5. Kompetisi internal Persebaya tidak berjalan

Sebelum konflik melanda, ajang kompetisi klub-klub internal Persebaya selalu dimainkan. 30 klub anggota dibagi menjadi tiga kelas yang masing-masing memperebutkan gelar juara. Dari kompetisi itulah, bibit-bibit pemain Persebaya didapat. Kini, kompetisi tersebut menghilang karena manajemen tidak mampu menggelarnya.

6. Kepastian Persebaya sebagai peserta kompetisi resmi belum jelas

Sampai saat ini Persebaya belum tercatat sebagai salah satu peserta di kompetisi resmi yang diadakan PSSI. Tak ada langkah-langkah dan terobosan yang disiapkan manajemen agar Persebaya bisa bermain lagi. Di saat klub yang bernasib sama seperti Arema Indonesia, Persema, Persibo membentuk tim dan mengenalkan jersey, Persebaya memilih pasif dan pasrah. Cholid pernah menyatakan hanya akan membentuk tim jika PSSI mengakui Persebaya.

7. Hasil RUPS PT PI belum diwujudkan dalam Akta Perubahan

Cholid adalah pemegang saham 30 persen PT PI sebelum RUPS. Pasca RUPS, komposisi sahamnya berubah menjadi 15 persen. Namun setelah tiga bulan berjalan, hasil RUPS belum diwujudkan dalam akta perubahan. Artinya, persentase saham Cholid di PT PI masih seperti semula.

***

Tujuh dosa Cholid seharusnya membuat manajemen berpikir. Mempertahankan jabatannya sebagai Dirut sama saja dengan membunuh Persebaya pelan-pelan. Karena Cholid terbukti gagal, miskin inovasi, dan tak ada gebrakan yang dilakukannya selama bertahun-tahun menjabat sebagai Dirut. Jadi, tunggu apa lagi? (*)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display