Serial Ferril Hattu (2): Dapat Perhatian Spesial dari Bos Niac Mitra 

Ferril Hattu.
Iklan

Di usia muda, bakatnya sudah tercium oleh klub-klub besar. Namun, Niac Mitra yang beruntung mendapatkan.

***

Di ajang Galatama, Niac Mitra termasuk klub yang disegani. Di klub asal Surabaya tersebut bertabur pemain bintang.Ada Joko Malis dan Syamsul Arifin serta Rudy Keljes yang sudah bersinar di perserikatan dengan bendera Persebaya Surabaya.

”Tapi, saya nggak canggung sama sekali meski mereka pemain bintang. Saya sudah akrab karena mereka anak asuh ayah (J.A Hattu) di Persebaya,” ujar Ferril saat ditemui di rumahnya di Nginden Inten, Surabaya, pada Sabtu (10/9/2016).

Iklan

Bahkan, dia ikut masuk dalam Tim Jawa Timur Proyeksi PON 1981. Sayang, tim yang mayoritas diisi oleh pemain Niac Mitra tersebut gagal lolos.

”Kami kalah dari Bali. Sebuah kejutan juga nggak bisa lolos,” jelas Ferril.

Karirnya di Niac Mitra tak bertahan lama. Keinginannya kuliah di Universitas Surabaya (Ubaya) ditentang oleh bos klub tersebut, A. Wenas.

”Beliau ingin saya konsentrasi main bola saja. Tapi saya tetap ngotot kuliah buat masa depan,” lanjut suami dari Nurul Hasanah tersebut.

Imbasnya, Ferril terpental dari Niac Mitra. Padahal, klub tersebut tengah berjuang di Galatama yang akhirnya menjadi juara musim 1980-1982.

”Saya kembali lagi ke Persebaya. Di saat itu,musim 1983, Persebaya mampu menjadi peringkat III dengan juara PSMS Medan yang mengalahkan Persib Bandung,” ungkap Ferril.

Semakin matangnya Ferril ternyata mendapat perhatian dari Wenas. Dia pun ditarik masuk Niac Mitra kembali.

”Saya menpat perhatian ektras dari beliau. Saya tidur di rumahnya dan selalu dikasih makan steak seminggu dua kali,” papar dia.

Tujuannya, ungkap Ferril, agar badan dia lebih kuat. Sebagai pesepak bola, skillnya harus ditunjang fisik yang prima.

”Yang masak steak Pak Wenas sendiri. Dia perhatian benar dengan saya,” tutur Ferril.

Berkat itu pula, tambahnya, namanya masuk dalam Timnas Indonesia yang tengah mempersiapkan diri ke Pra Piala Dunia 1986. Lelaki kelahiran 9 Agustus 1962 itdipercaya pelatih Sinyo Aliandoe menggalang lini tengah.

”Kami nyaris lolos kalau gakl dikalahkan Korea Selatan,” terang Ferril.

Hanya kalah 1-2 di Seoul, Korea Selatan, membuat Indonesia percaya diri. Mereka optimistis bisa membalas kekalaan.

”Namun di Senayan, Jakarta, kalahnya malah lebih besar. Kami kalah 1-4,” tambah lelaki yang mengawali karir dari klub HBS, Surabaya, tersebut.

Ketika itu, Ferril sudah bergabung dengan Persegres Gresik. Dia diminta bisa mengangkat prestas klub dari Kota Pudak, julukan Gresik.

”Saya ditawari kerja oleh Petrokimia. Tapi, saya ingin menyelesaikan kuliah,” ujarnya. (Bersambung)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display