Persebaya, Kenangan Masa Remaja: Tikus-Tikus Stadion (6)

Foto: Reading Sideways
Iklan

Surya Cup 1977 telah berlalu tanpa kehadiran Ronny Pasla. Entah mengapa Persija tidak membawa kiper utama PSSI itu ke Surabaya. Meski kecewa, aku masih bisa menyaksikan dia dari layar TV jika PSSI ada pertandingan persahabatan.

Kini, aku, dan teman-teman di kampung yang semuanya mulai menekuni sepak bola, menyalurkan hobi dengan menyaksikan kompetisi internal Persebaya.

Hampir setiap hari kami hadir di Tambaksari, tanpa berpikir PR sekolah sudah dikerjakan atau belum. Cita-cita kami semua adalah menjadi pemain PSSI, tidak ada yang ingin menjadi hakim, jadii, apalagi menjadi dokter. Nah, nonton ini adalah bagian dari belajar, itu menurut kami.

Sebagian besar laga kompetisi dilaksanakan di Gelora 10 November, hanya sedikit yang dihelat di lapangan Karanggayam (Lapangan Persebaya).

Iklan

Kompetisi Persebaya saat itu sudah terbagi menjadi beberapa kelas. Kelas Utama terdiri dari: Assyabaab, Suryanaga, IM, PSAD, Thor, HBS, Angkasa, PSHW, POPS (Polisi), Sakti (Sasana Bakti). Sedangkan kelas 1 ada PSAL, Mitra, Pusura (Putra Surabaya), Mars, Setia, TEO, Pusparagam, Bintang Timur, dan lainnya yang aku tidak ingat.

Assyabaab diperkuat banyak pemain Persebaya, Suharsoyo, Iskak Ismail, Hamid Asnan, Rusdy Bahalwan, Wayan Diana, Subodro, Waskito, Hassan Maghrobi, Moch. Sochech dan beberapa lagi. Suryanaga diperkuat kiper Didik Nurhadi, Rudy Keeltjes, Yopie Saununu, Slamet Pramono, dipimpin pemain senior Lukman Santoso sebagai kapten. IM diperkuat oleh Johnny Fahamsyah, Sapoewan, I Ketut Suprapto, Hadi Ismanto dan Ketip Suripno. PSAD diperkuat Joko Malis dan kiper M. Asyik.

Kami nonton tidak pernah membayar karcis, selalu masuk dengan menyerobot, ada banyak pintu dan banyak tempat bersembunyi di Gelora 10 November ini. Apalagi penjagaan tidak terlalu ketat, karena ini hanya kompetisi internal yang sedikit peminatnya. Kalau bukan hari Minggu, penonton yang hadir hanyalah remaja-remaja penggila bola dan para petaruh, penjudi.

Barulah di hari Minggu penjagaan diperketat, apalagi bila yang bermain adalah klub papan atas semisal Assyabaab, Suryanaga, IM atau PSAD penonton dipastikan banyak, tapi dalam artian tidak sampai 2.000 orang. Tempatnya pun hanya tribun VIP. Aku tidak ingat, berapa harga karcis, mungkin berkisar Rp 50 atau Rp 100 sebenarnya amat terjangkau, tapi bagi kami uang 50-100 rupiah lebih baik dipakai keperluan lain.

Setiap pulang sekolah, sekitar pukul 13.00 WIB, kami (sekitar 5-10 remaja yang rajin nonton) sudah ngumpul dan hadir di depan Gelora 10 November pukul 15.00, tentu dari rumah kami berjalan kaki, begitu tiba langsung naik tangga yang ada di kanan kiri stadion, cukup tinggi. Di atas sana, kadang dijaga, kadang tidak. Tinggal melompati pagar kawat ram-raman, lalu pilih tempat duduk, beres.

Seringkali kami dibiarkan saja oleh petugas (biasanya Polisi/Brimob berpakaian preman), wajah mereka ya itu-itu saja, boleh dikata antara kami dengan para petugas itu sudah saling menghafal. Mereka menjuluki anak-anak yang rajin nonton via nyerobot seperti kami sebagai “Tikus-Tikus Stadion” yang kadang digebuk, kadang dibiarkan. Jika saat menyerobot itu ketahuan, maka kami berlari ke tribun ekonomi, biasanya mereka tidak mau mengejar.

Suatu saat, ada pertandingan yang amat menentukan siapa yang bakal jadi juara kompetisi Persebaya, kandidatnya ada dua, Assyabaab dan Suryanaga. Kami paham, tentu penonton bakal ramai dan penjagaan diperketat.

Maka dari itu, kami sudah harus masuk lebih siang, mendahului datangnya petugas keamanan, kami masuk diam-diam, lalu lari ke ekonomi utara sembunyi di balik Scoring Board.

Di sana sudah banyak juga tikus-tikus stadion yang lain. 30 menit sebelum laga dimulai, kami intai, para petugas melakukan sweeping ke tribun ekonomi, yang tidak punya karcis, akan digelandang keluar. Mereka ada 4 orang, semuanya membawa pentungan. Maka semua tikus stadion semburat mencari tempat aman, ada yang naik pohon, ada yang sembunyi di lorong masuk.

Aku dan dua temanku, Basuki, dan Suryanto, melompat turun masuk ke selokan tertutup base yang ada di timur lapangan, tepat di depan tribun scoring board. Panjang base penutup itu hanya sekitar 10-15 meter saja, tapi pas untuk dipakai bersembunyi. Nah, kalau nanti aman, petugasnya berlalu… baru kami akan keluar selokan.

Sial! Ternyata petugasnya berhenti di ujung selokan, masing-masing di ujung selatan dan utara sehingga kami tidak berani keluar, kami terkepung. Bagaimana ini ?

“Wah, awak dewe dipanjer iki,” keluh To, panggilan Suryanto.
“Yo wis, Jarno ae… timbang digepuk.”

Dari dalam selokan, kami mendengar suara bola ditendang, itu berarti kedua tim sedang pemanasan. Lalu kami mendengar peluit wasit, itu berarti laga sudah dimulai.

Kedua petugas tidak juga beranjak dari ujung selokan… kami bertiga terpenjara di situ, terus sampai peluit istirahat berbunyi.

Kalau kami nekad keluar selokan, resikonya kami bakal dihajar pentungan, tapi kalau tetap di dalam, kami terpenjara, percuma saja, gak bisa nonton Assyabaab vs Suryanaga.

Kurang ajar! Rupanya para petugas paham dan tahu ada kami yang bersembunyi di dalam got, mereka memberi kami pelajaran dengan membiarkan kami tetap di dalam, supaya kapok. Kami terkungkung di dalam situ dengan air setinggi betis dalam keadaan badan membungkuk. Bukan main gatalnya, bukan main capeknya.

Kami terkejut mendengar suara teriakan gembira penonton, rupanya terjadi gol, entah siapa yang unggul. Barulah sekira laga tinggal 15 menit menuju akhir, kami dipanggil keluar, mereka tertawa terpingkal-pingkal.

Kami bertiga lega, tapi ditertawai penonton lain, juga teman-teman yang tidak sembunyi di got, digojlok sepanjang perjalanan pulang. “Kapok koen!”

Suryanaga berhasil memenangi laga dan keluar sebagai juara kompetisi Persebaya. (*)

*) Penulis: Eko Wardhana, Pensiunan BUMN yang tinggal di Sawojajar, Malang.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display