Persebaya Tetap Surabaya, Menafsirkan Joke dan Meme Persebaya Rasa Papua

Nelson Alom. Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

“Surabaya pun juga punya kebanggaan, Green Force Persebaya emosi jiwaku” secuil syair magis yang ditulis almarhum Oka Gundul ini bukanlah seruan belaka, ia hidup dan nyata di ruang ingatan setiap Bonek dimanapun dia berada.

Ketika regulasi sepak bola profesional tak memperbolehkan klub profesional disubsidi oleh APBD, maka pengelola klub harus profesional dan menanggalkan “atribut” serta fasilitas “plat merah”, dan harus berdiri tegak secara mandiri. Artinya, “saham” tak lagi dimiliki oleh warga melalui retribusi parkir, KTP, PDAM, dan iuran kebersihan sekalipun. Oleh karenanya, warga hanya dapat mendukung dan berbangga pada klub yang membawa nama kotanya sebagai sebuah identitas.

Persebaya telah menjadi sebuah klub “swasta” di bawah naungan perseroan terbatas yang sahamnya dimiliki klub internal dan pemilik duit tebal. Lain halnya seperti sebagian klub-klub di Inggris, Italia, dll yang saham kepemilikannya juga oleh fans dan suporter, sehingga mereka dapat “cawe-cawe” dalam kasak kusuk perekrutan pemain dan pelatih.

Persebaya adalah tim yang kini memaksa semua mata nasional tertuju padanya. Setahun setelah diakui kembali oleh PSSI, Persebaya langsung tancap gas dan menyabet gelar juara Liga 2. Artinya, klub ini seakan dikodratkan sebagai pemenang. Boneknya berjuang tanpa lelah, dan klubnya pun demikian. Dan, itu hanya ada di Surabaya kata Antoni Sutton penulis buku “Sepakbola: The Way of Life Indonesian Football”.

Iklan

Seiring sejalan, dalam mempersiapkan skuad mengarungi Liga 1, media sosial seakan menjadi ‘penghakiman’ massal bagi manajemen oleh kelompok supporter yang mendesak Persebaya mendatangkan Andik Vermansah. Beberapa “meme” pun melontarkan joke sarkatis yang mengatakan Persebaya saat ini seperti “Persipura cabang Surabaya”.

Di era 1987 di masa ke emasan AC Milan dengan trio Belanda-nya, publik Italia dan Milan tetap menyebut AC Milan sebagai klub asal Milan Italia, walau dominasi trio Belanda itu tak dapat dipungkiri. Meredupkah pemain asal Milan? Tidak. Paolo Maldini, Franco Baresi, Alex Costacurta justru menjadi aset terbaik Italia dan AC Milan pada khususnya. Di masa itu tak tampak “rasa” Belanda sedikit pun di sana, terlepas dari kuantitas pemain belanda tidak sebanyak pemain asal Papua di Persebaya.

Persebaya tetap rasa Surabaya, sebuah daerah yang tak pernah surut mencetak talenta bagi Persebaya dan tim nasional. Mimpi manajemen dan mimpi warga surabaya serta Bonek adalah mimpi yang sama. Sama-sama ingin juara di Liga 1, itu harapan bersama, hitunglah ada berapa kalimat “Juara” di chant-chant Bonek, dan, harapan itu di pundak manajemen yang harus total mempersembahkan yang terbaik bagi Bonek, sebagai apresiasi pada perjuangan mereka yang tak lekang oleh waktu.

Emosional joke dan meme yang marak sebagai jawaban kepedulian Bonek pada klub kebanggaan mereka, desakan menghadirkan Andik Vermansah adalah reaksi mengapa kuota pemain asal Papua seperempat dari potensi asli Surabaya. Inilah sebuah dilema sepak bola profesional. Liga Inggris pernah di suatu masanya tak berasa Inggris sama sekali, justru tampak menjadi liga Uni Eropa, sehingga federasi di sana kerap mengutak atik agar output liga mereka menjadikan timnas Inggris mumpuni.

Jika Andik Vermansah dikaitkan sebagai talenta produk internal dan asli Surabaya, itu telah tergantikan. Misbakus Solikin, Adam Maulana, Dimas Galih dll adalah bukti bahwa Persebaya masih memiliki putra daerah yang bagus dan mengantar klub kotanya menjadi kampiun Liga 2 tanpa nama dan bayang-bayang Andik Vermansah. Karena sejatinya sepak bola adalah team work 11 orang di lapangan. Dengan cita rasa apapun, selama itu untuk bersama mewujudkan impian menjadi juara, kita percayakan pada manajemen untuk menghasilkan yang terbaik.

Menafsirkan joke dan meme sarkatis yang paling sederhana adalah meresapi makna chant-chant yang ada. Persebaya tetap Surabaya, sebuah klub yang mengancam peserta klub-klub mapan penghuni Liga 1, karena orang asing, orang Papua, Makassar, Kalimantan, Aceh, dll di bawah panji Persebaya Surabaya, maka itulah tim Persebaya Surabaya.

Siapa yang anda dukung di liga 1?

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display