Mempertanyakan Pernyataan Shandy Gibol tentang Kenaikan Harga Tiket Sebuah Keharusan

Shandy Gibol. Foto: Radio Suzana
Iklan

Bagi pendengar Radio Suzanna, Surabaya, nama Shandy Gibol tidaklah asing. Announcer spesial sepak bola ini memiliki suara khas dan wawasan sepak bola yang sangat baik.

Dalam pernyataannya di blog “ngopibareng.id” pada rilisan 15 Maret 2018, Shandy seakan “memperkeruh” polemik tiket antara manajemen dan Bonek. Ia mengatakan bahwa “kenaikan tiket adalah sebuah keharusan”, dengan argumen “matematis” versinya. Sontak beragam komentar menerpa pria yang kerap menjadi MC ini.

Orientasi Shandy sedikit banyak terpengaruh oleh sistem manajemen dan serba-serbi di Eropa dan lainnya. Shandy melihat bahwa fans di sana yang notabene adalah bagian pemegang saham klub mampu membeli tiket berapa pun yang ditawarkan manajemen. Sebab tentu deviden tahunan akan berimbas kepada mereka juga.

Yang paling menggelitik adalah analoginya pada “Supermall” dan “pasar grosir”. Shandy seakan kehabisan kata-kata hingga harus menyebut “nama” dan “merk” sebagai pembanding argumentasinya. Celakanya, itu seakan menunjukan kredibilitasnya pada sepak bola yang harus dikaji ulang.

Iklan

Siapapun tahu kebutuhan Liga 1 dan 2 itu jauh berbeda. Segala yang menyangkut financial pun jauh berbeda. Namun, Persebaya dan Bonek adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jangan “dijagal” daya beli Bonek untuk mendukung tim yang mereka cintai. Tidak ada mata uang di dunia ini yang bisa menyamai nilai loyalitas mereka pada Persebaya. Cinta harus berbalas Cinta.

Poin ketidakcakapan Shandy membaca konteks adalah ketika ia mengatakan laga “Blessing game” ini sebagai sinyal manajemen menaikan tiket pada musim mendatang. Di situ Shandy melebihi dari kewenangan manajemen dalam memberikan kepastian tiket di Liga 1 nanti. Bukankah tiket Rp 50 ribu ini hanya pada laga blessing ini saja. Dan manajemen belum memberikan keterangan resmi, namun Shandy sudah “mendahului” di hadapan media online itu.

Memang Shandy tidak sepenuhnya “mendahului” official, tapi isi dari pernyataan yang direkam pewarta media itu mengisyaratkan bahwa Shandy pribadi setuju adanya kenaikan dengan alasan alasan yang ia sebut tadi.

Jadi, banyaknya perlawanan Bonek soal tiket tentu akan menjadi koreksi manajemen. Dan manajemen pulalah yang berhak memberi keterangan resmi beserta hitung-hitungan jika memang harus ada kenaikan tiket di liga besok.

Maka, “kegilaan” bola announcer kondang seperti Shandy harus dipertanyakan. Sebab analogi supermall dll itu tidak relevan. Persebaya bukan klub baru di kasta atas sepak bola nasional. Mereka (manajemen) sudah tentu paham alur manajemen sebuah tim yang sehat dan kuat. Kita bukanlah official, jangan menambah beban Bonek dengan pernyataan yang tidak “menghibur” kegundahan mereka.

Salam satu nyali! Wani!

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display