Ajari Para Pemain Persebaya “Melawan” Ketidakadilan

Irfan Jaya mencetak gol pertamanya di Liga 1. Foto: Official Persebaya
Iklan

Pekan ke-8 melawan Borneo FC, Persebaya seharusnya membawa pulang 3 poin ke Surabaya, Namun apa dikata kontroversi yang terjadi hanya menjadi bahan gunjingan semata. Dua gol tercipta seperti yang dikatakan Alfredo Vera lahir dari keputusan yang tidak benar,  namun dibenarkan oleh hasil yang diterima Persebaya: seri.

Sesuatu yang tidak benar itu tidak mendapatkan pressure dari pemain, yang jelas-jelas mengetahui posisi Lerby adalah offside. Dan bahkan gestur Lerby pun seakan tak percaya bahwa golnya diakui menjadi gol sah.

Pemain Persebaya yang senior saat itu, Ruben Sanadi, ia paling senior di antara Fandry Imbiri dan Syaifuddin. Namun ia terlihat pasrah dan tidak ngeyel atau minimal melayangkan protes ke asisten wasit. Setidaknya jika ia protes mungkin kapten Rendi tentu tak akan tinggal diam.

Melawan sesuatu yang kita yakini kebenarannya adalah suatu keharusan. Bilamana itu tidak berbuah hasil, paling tidak kita sudah melawan. Semua mata insan bola di mana pun tahu bahwa sundulan Lerby adalah offside. Tapi yang lebih mengejutkan adalah sikap pasrah pemain yang menerima keputusan kontroversi itu.

Iklan

Bahasa sportivitas tidak cukup untuk memaklumi gol itu. Pemain Persebaya seakan tidak memiliki mental melawan seperti Bonek kala berjuang menghidupkan klub ketika dibunuh paksa. Bukankah sekelas CR7 dan Lionel Messi juga pernah melakukan protes ketika ia meyakini itu benar sekalipun salah. Mengapa defender Persebaya yang di posisi benar justru seperti salah.

Mental melawan juga harus dibenahi. Sebab jika tidak, mereka-mereka akan menganggap pemain Persebaya sabar, pasrah, dan nrimo ing pandum. Main ngotot dan ngeyel itu harus, namun juga harus diikuti keberanian melawan sesuatu yang kita anggap benar sampai kapanpun.

Salam 1 nyali! Wani!

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display