Ele91 Esok Pa91, Ayo Bangkit Juara La91

Selebrasi pemain Persebaya di kandang Madura United. Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

Bagi penikmat musik nasional tentu judul di atas tidaklah asing. Kesamaan judul dengan single milik Ebiet G. Ade yang galau dalam ratapannya, senafas dengan perjalanan tim kebanggaan arek suroboyo Persebaya Surabaya di kompetisi nasional Liga 1.

Tepat 18 Juni 2018 esok adalah hari berdirinya klub yang sarat prestasi dan suka duka di dalam perjalanannya. Adalah tim yang banyak mencetak pesepakbola tangguh, adalah tim yang turut mengontruksi berdirinya PSSI, adalah tim yang hadir dalam kompetisi teratas sebagai juara, adalah tim yang berbalut sejarah, darah, dan air mata; Persebaya Surabaya.

Di usia 91 tahun ini, Persebaya telah berada di rumah besarnya. Nama besar di persepakbolaan tanah air menjadikan ia sebuah kekuatan besar mewarnai dinamika kompetisi. Tentunya, hal ini tak lepas dari fanatisme supporternya yang mampu menghidupkan kembali ketika Persebaya dimatikan paksa federasi, sebuah “nilai” yang tak ada di belahan dunia manapun, ujar Antoni Sutton.

Menjadi sebuah tim yang profesional luar dalam, menjadikan Persebaya sebagai kiblat klub lainnya bagaimana membangun sebuah tim yang swadaya dengan sinergi antara fans dan tim. Hal ini dibuktikan banyaknya store resmi yang diharapkan menghidupkan roda mengarungi kompetisi, walau, kedekatan tim dan fans serasa dijauhkan, berbeda dengan kemasan Persebaya tempo doloe yang dekat dengan fans ketika di Karanggayam.

Iklan

Persebaya tak pernah bersedih. Kecintaan Bonek menjadikan tim tak pernah merasa sendiri. Tim dijauhkan dari tradisi, tak lagi menghuni wisma Eri Irianto dan berlatih di Karanggayam. Mungkin, Persebaya saat ini telah menjadi “swasta”, tak lagi plat merah milik Pemkot yang notabene pemilik wisma legendaris dan lapangan pabrik pemain handal itu.

Kegundahan dan kegalauan di usia 91 ini menghantui siapapun yang mencintai Persebaya. Mendekati akhir putaran pertama Persebaya terpuruk di zona degradasi. Memang, masih ada putaran kedua dan beberapa laga home sebagai jaminan meraih poin penuh untuk merangsek naik sesuai target manajemen di papan tengah.

Sekelas Persebaya tentu naif jika hanya bermimpi di papan tengah. Tim besar tak boleh bermimpi kecil, karena secara psikis itu akan mengecilkan nyali pemain sekalipun itu bermain di kandang sendiri. Fakta telah terjadi, hanya melawan Perseru Serui dan Arema FC mereka menang, selebihnya kalah dan seri di kandang sendiri.

Ayo bangkit, tidak ada alasan frasa tim promosi dan pernyataan berkelit untuk menutupi kekurangan. Evaluasi dan berbenah adalah tindakan konkret ketimbang menebar pernyataan sebagai tim promosi, tabungan pekan, atau skema belum klik, dll.

Kita tak perlu lagi bersedu sedan dan galau menatap posisi di klasemen urutan 16 itu. Apa yang telah dilakukan Bonek dengan segala-galanya yang mereka miliki, tak pantas untuk dihargai sebagai tim yang hanya berkutat di papan bawah. Gantung cita dan harapan itu harus setinggi langit, agar terjatuh sekalipun masih di bintang, kata Soekarno.

Esok pagi kita harus menatap matahari yang sama. Buang semua elegi, resapkan syair (alm) Oka Gundul ke mindset pemain dan manajemen, “Tunjukan pada semua mata dunia Surabaya punya kebanggaan, terbang tinggi setinggi tingginya”, sebagaimana nama besar yang berulang tahun berusia 91 tahun. Ayo juara la91.

Tuhan menakdirkan kota ini sebagai pemenang, Jaksen Tiago mengatakan tim ini memiliki DNA juara, coach Indra Syafri mengatakan hati-hati dengan kekuatan dan kembalinya Persebaya. Ayo, kita buktikan bahwa apa yang mereka katakan memang benar adanya. Dengan ijin Tuhan kita tatap posisi yang lebih baik. Amin.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display