Menyelesaikan Dilema Lini Depan Persebaya

232
Foto: Joko Kristiono/EJ
511Shares

Sudah lama kita menanti kehadirannya. Setelah sekian pekan menepi akibat cedera, wajah yang nampak familiar itu melakukan pemanasan di pinggir lapangan. Tak lama kemudian, ia turun gunung disambut teriakan riuh penonton. Prosesnya sederhana: sebuah umpan lambung, bola spekulatif dari Mokhamad Syaifuddin. Bola menggantung di udara dengan canggung. Steven Paulle, palang pintu bongsor PSM Makassar, bangkit meraih bola.

Lantas sosok itu datang. Dengan enteng, ia memenangkan adu fisik dengan Paulle. Bola dikontrol dengan paha, sentuhan pertama yang nyaris sempurna. Tiba-tiba kita melihat ruang kosong di antara garis pertahanan PSM yang rapat. David da Silva mengebut ke arah gawang, sontekan kaki kanannya tak mampu dijangkau Rivki Mokodompit. Skor 2-0, Gelora Bung Tomo bergemuruh. Comeback yang sempurna.

Setelah kepindahannya ke Pohang Steelers dipastikan, gol selamat datang ini terulang kembali di kepala saya. Sempat diragukan di awal, David da Silva membuktikan diri sebagai sosok penyerang yang ideal bagi skema permainan Persebaya. Lugas, kekar, cepat, teknik tinggi, dan tanpa basa-basi. Berikan bola pada da Silva di tiga perempat lapangan, dan Anda tahu apa yang ia cari: Rute paling cepat ke arah gawang.

Menggantikan sosok yang begitu ikonik jelas tak mudah. Namun, da Silva memang pemain yang rumit. Anda harus mengikuti kemauannya, membangun skema tim sesuai dengan kekuatannya, dan berdoa ia sedang berada di mood yang tepat. Persis sebelum cedera yang membuatnya menepi sampai partai ikonik kontra PSM tersebut, pelatih Djadjang Nurdjaman bahkan sempat mengkritik da Silva sebab ia dianggap jarang membantu pertahanan.

Bersama da Silva, Persebaya wajib bermain direct. Ia berdiri di tengah, agak jarang turun ke daerah pertahanan sendiri, dan menjadi titik tumpu serangan. Ini hajatan dia, dan kita semua penonton. Imbasnya, Persebaya membentuk ketergantungan yang tak sehat. Jika ia sedang on fire, da Silva bisa memporak porandakan pertahanan tim mana pun di Asia. Namun jika suplai bola kepadanya dimatikan, atau jika dia memang sedang sial saja–misalnya di pertandingan terakhir kontra PSIS–serangan Persebaya buntu.

Kondisi jadi tambah runyam karena Irfan Jaya bolak-balik absen karena panggilan negara, Misbakus Solikin diplot sebagai deep-lying playmaker yang tak begitu menyerang, dan Osvaldo Haay baru memutuskan jadi false nine jagoan di paruh kedua musim. Opsi gol Bajul Ijo pun terbatas.

Kabar baiknya, Osvaldo Haay bertahan, begitu pula Irfan Jaya. Kita pun mesti berdoa bahwa jadwal perhelatan internasional PSSI akan lebih masuk akal di musim depan, sehingga tak banyak nama yang absen terlalu lama. Namun, pasca gagalnya Samsul Arif Munip bergabung ke Persebaya, satu perkara terus terulang: (si)apa solusi bagi masalah lini depan Persebaya?

Menilik Ketiga Pilihan

Sejauh ini, tiga nama penyerang asing santer dikabarkan akan merapat ke Persebaya: Christian Bekamenga, Amido Balde, dan Malick Mane. CV ketiganya memang mentereng. Semuanya punya pengalaman bermain di Eropa, semuanya rutin berpindah-pindah klub, dan semuanya pernah dianggap pemain muda menjanjikan pada masanya.

Kita mulai dengan nama yang paling dekat dengan telinga pencinta sepak bola lokal, Bekamenga. Secara statistik, pemain asal Kamerun ini adalah pilihan yang cerdas. Ia pernah merajai lini depan Persib Bandung saat pertama main di sini pada 2007. Rekam jejaknya saat bermain di Perancis, Turki, dan Tiongkok juga apik.

Rekornya untuk Laval di Liga 2 Perancis (50 partai, 22 gol) diimbangi oleh performa impresif di klub bersejarah FC Metz (17 partai, 8 gol), dan setahun yang produktif bersama Balikesirspor di kasta kedua liga Turki (28 partai, 14 gol). Hanya saja, pasca angkat kaki dari Turki, ia seperti hilang arah. Bekamenga gagal membuktikan diri di Liaoning Whowin (Tiongkok) dan bahkan gagal menembus tim utama di BB Erzurumspor saat ia kembali ke Turki.

Musimnya yang baik di 2016 sempat membawanya kembali mengenakan baju timnas Kamerun. Ia pun bukan tipikal penyerang seperti da Silva yang lebih individualistis dan mengandalkan kekuatan serta kecepatan. Bekamenga adalah fox-in-the-box kelas wahid, dengan pergerakan tanpa bola yang cerdik serta antisipasi yang baik. Sekali selip saja di lini pertahanan musuh, penyerang oportunis sepertinya akan menerima peluang dengan riang. Dengan gaya bermain yang mengandalkan pengalaman dan kemampuan membaca permainan seperti ini, Bekamenga bukan opsi buruk.

Namun, pasca kegagalan ganda di Turki dan Cina, tersisa berbagai pertanyaan menggelitik. Apakah 2016 membuktikan bahwa ia belum habis, atau justru itu momen keemasan terakhir dari pemain yang sudah selesai masanya? Jelang kickoff Liga 1 musim ini, ia akan menginjak usia 33 tahun. Apakah ia masih merasa punya urusan tak terselesaikan di Indonesia, pasca undur diri dari Persib bertahun-tahun lalu?

Kandidat berikutnya adalah Amido Balde. Di atas kertas, ini kandidat yang paling menggiurkan. Lulusan akademi Sporting Lisbon yang pernah melahirkan Cristiano Ronaldo dan Luis Figo. Tampil menjanjikan dengan Vitoria Guimaraes di kasta teratas liga Portugal, dengan torehan 9 gol dalam 27 partai. Kemudian dua tahun di Celtic, klub legendaris asal Skotlandia yang rutin mencicipi gelar juara serta tampil di Liga Champions.

Gaya permainannya canggung, tapi efektif. Balde bukan sosok dengan sentuhan pertama dan teknik mumpuni macam Da Silva. Dribbling-nya ganjil, larinya tidak mulus. Namun ia penyerang yang oportunis dan efektif. Cari highlight reel Balde, dan Anda akan kesulitan menemukan gol cantik. Namun ia selalu ada, selalu muncul, bahkan hingga detik-detik terakhir. Beberapa kali ia terlihat mencetak gol kemenangan atau penyama kedudukan di injury time, terutama saat ia tergabung di Guimaraes. Insting dan mental bajanya bisa menjadikannya aset berharga bagi Persebaya. Apalagi usianya masih 27 tahun.

Hanya saja, ada satu faktor yang sejauh ini jarang dibicarakan tentang Balde, padahal amat penting: rekam jejak kesehatannya. Pada 2017, Balde tengah bermain untuk Tondela di kasta kedua liga Portugal dengan status pinjaman dari Maritimo. Belum lama bergabung, ia masuk rumah sakit akibat penyakit paru-paru yang parah. Selama hampir setahun, ia tidak bisa bermain. Maritimo bahkan sempat berhenti membayar gajinya sehingga Balde sempat terlunta-lunta.

BACA:  Eri Cahyadi dan Gembok-Gembok Dispora Surabaya

Setelah penyakit paru-parunya sembuh, Balde berulang kali mencoba membangkitkan lagi kariernya tanpa hasil yang baik. Ia gagal trial di sebuah klub Afrika Selatan akibat kondisi kebugarannya yang amat buruk. Saat ia gabung di FK Kukesi, klub asal Albania, ia bermain bola untuk pertama kalinya setelah 11 bulan menepi. Tak lama di Albania, ia terakhir tercatat bermain di Al-Nasr Benghazi, klub asal Libya. Balde memang masih muda, tapi kariernya tak hanya sedang menurun. Ia tengah berada dalam kondisi krisis.

Terakhir, Malick Mane. Sama seperti dua kandidat sebelumnya, Mane pun pemain musafir. Pertama mencuat di liga Norwegia bersama tim kasta teratas Sandefjord, ia dipinjamkan ke raksasa Kazakhstan, Aktobe, pada 2011. Awal mula dari kisah cintanya yang epik dengan negara Asia Tengah itu. Setelah gagal bersinar dengan tim top Swedia, IFK Goteborg, ia mulai berkelana ke berbagai negara sebelum kembali ke fitrahnya di Kazakhstan.

Di sana, ia menjadi andalan tim papan tengah Taraz (30 partai, 13 gol), pindah ke Tiongkok sebentar, lantas kembali ke Kazakhstan. Terakhir, ia membela Akzhayik, tim gurem di liga teratas Kazakhstan. Timnya terdegradasi, tapi Mane membuktikan tajinya. Tercatat ia tampil 27 kali, mencetak 9 gol, dan jadi top skor tim.

Pemain berbodi bantet ini adalah opsi yang menarik. Tekniknya mumpuni, pergerakan tanpa bolanya apik, ia eksekutor bola-bola mati yang handal, dan ia punya insting menaklukkan perangkap offside musuh. Mane punya kecepatan yang baik dan tendangan yang bertenaga. Data dari Transfermarkt pun menunjukkan bahwa ia juga bisa bermain di sayap kiri maupun kanan.

Menengok video-video Mane, kemampuannya bermain di berbagai posisi ini nampak kentara. Ia sering menusuk dari sayap, berkeliling lapangan alih-alih terpaku di tengah sambil menunggu bola manja. Menilik strategi Persebaya musim lalu, pemain sayap Bajul Ijo kerap bertukar posisi dan melakukan variasi serangan–Irfan Jaya hobi menusuk ke tengah lapangan, Oktafianus Fernando suka melebar dan mengirim umpan crossing, hingga Osvaldo Haay yang giat menyelinap ke kotak pinalti. Hadirkan Mane di sana, dan variasi serangan Persebaya akan tambah mengerikan.

Mencegah Ketergantungan

Pilihan terakhir tentu ada di tangan Djadjang Nurdjaman. Namun, ia mesti belajar dari dilema David da Silva musim lalu. Jika Anda memiliki pemain yang sejago da Silva, kurang ajar bila Anda tidak menjadikannya bintang utama tim. Hanya saja, jika pergerakan da Silva dihabisi, solusi apa yang tersisa?

Penyerang baru Persebaya tak hanya perlu memberikan dimensi lain bagi penyerangan tim. Ia juga harus bisa berbagi panggung dengan Irfan Jaya, Osvaldo Haay, dan sosok-sosok lain yang juga berpotensi jadi mesin gol. Penyerang anyar ini harus bisa memimpin di lini depan, tapi ia tidak boleh memaksa tim bergantung padanya. Ia mesti memberi solusi dan pilihan. Bukan memberikan satu opsi yang menjadi harga mati.

Christian Bekamenga tak hanya pernah mengenal atmosfer sepak bola Indonesia. Ia pemain yang berpengalaman dan mampu menjadi contoh baik bagi pemain depan Persebaya yang rata-rata masih muda. Jagad persepakbolaan lokal disesaki oleh penyerang-penyerang gaek yang terus moncer di usia kepala tiga ke atas karena mereka mampu mengadaptasi gaya permainan mereka.

Simak Cristian Gonzales. Usianya 42 tahun sekarang. Ia tak bisa lari, tak bisa adu fisik, tak bisa adu skill, dan staminanya menurun. Namun kenapa ia masih bisa mencetak belasan gol dan membawa PSS Sleman promosi? Sederhana: ia pemain yang cerdas. Gonzales selalu berada di tempat yang tepat, di saat yang tepat pula. Christian Bekamenga punya potensi menyusul jejak Gonzales, Hilthon Moreira, Beto Goncalves, Boaz Solossa, bahkan Samsul Arif Munip sebagai geng tua-tua keladi.

Ada banyak tanda tanya yang menaungi Amido Balde. Rekam jejak kariernya, rekor golnya yang kurang baik, bahkan kondisi kesehatannya. Namun ia masih muda. Bisa jadi ia merasa perlu membuktikan diri, perlu menunjukkan pada dunia bahwa ia belum habis dan napasnya masih panjang. Badannya tinggi besar, kuat adu fisik dan berbahaya di udara. Sebagai target man, ia bisa memberikan opsi lain bagi serangan Persebaya. Dan jika ia dapat membuktikan diri, Balde bisa jadi investasi jangka panjang yang baik.

Sementara, Malick Mane adalah pemain yang eksplosif, ngeyel, dengan kemampuan teknik yang baik. Tipikal pemain yang mudah dicintai publik Surabaya. Kemampuannya bermain di berbagai posisi membuat serangan Persebaya jadi lebih sulit dibaca lawan. Meski tubuhnya pendek, pergerakan tanpa bola serta antisipasinya yang baik menjadikannya musuh yang berbahaya di udara. Karier Mane pun tak banyak rapor merah. Ke mana pun ia pergi, ia konsisten mencetak gol. Hanya saja, jumlah golnya tak pernah luar biasa. Ia konsisten, tapi tidak mengagumkan.

Sisi sentimental saya ingin Christian Bekamenga datang. Saya ingin melihatnya reuni dengan Djadjang Nurdjaman dan membuktikan bahwa usia bukan masalah baginya. Sementara rasa penasaran saya tertuju pada Amido Balde. Ia masih muda, dijegal masalah kesehatan, dan harus membangun kembali kariernya. Akankah ia menerima tantangan ini?

Namun, nalar saya memilih Malick Mane. Gempal, boncel, canggung, tapi nekat. Saya membayangkannya meliuk-liuk dari sayap hingga tengah lapangan, bertukar posisi dengan Osvaldo Haay dan membuka ruang bagi Irfan Jaya. Saya membayangkan free-kick spektakuler dan sontekan jarak jauh yang tepat guna.

Apakah Mane akan mencetak 25 gol dalam semusim? Belum tentu. Namun jika ia membuka jalan bagi Irfan Jaya dan Osvaldo Haay untuk mencetak belasan gol dan berhasil bagi-bagi tugas, saya tidak keberatan.

Toh, Persebaya tidak butuh pemain bintang. Tidak butuh individu. Sejak dulu dan seterusnya, Persebaya berjaya sebagai tim. (*)

Facebook Comments