Memutus Tali Rantai Estafet dengan Manajemen Kelompok

166
Foto: Dok. pribadi Bonek Hoofdbureau.
2498Shares

Beberapa hari ini isu tentang pejuang estafet masih menjadi topik hangat bagi Bonek dan kalangan pecinta Persebaya. Ya, kabar tentang Bonek yang bermasalah ketika awayday itu masih saja muncul. Berbagai solusi dan analisis ditawarkan untuk mengatasi Bonek estafet ini, namun faktanya masih ada saja yang melakukan tradisi ini. Ada yang menyebutkan bahwa estafet ini sudah budaya dan melekat sebagai Bondho Nekat yang sebenar-benarnya.

Saya tergelitik untuk sedikit melakukan analisis tentang fenomena estafet ini. Oke, kita coba analisis satu-satu.

Karakter Kelompok Bonek

Bonek merupakan salah satu kelompok suporter besar yang mendukung klub bernama Persebaya. Jumlahnya sangat banyak dan tersebar di mana-mana, ada yang di luar Surabaya, luar Jawa, bahkan di luar negeri sekalipun. Mereka juga terdiri dari berbagai kelompok usia, mulai dari yang masih sekolah, kuliah, kerja, bahkan yang sudah lansia pun ada. Bonek juga memiliki komunitas-komunitas kecil atau biasa disebut korwil, misalnya Bonek Gresik, Tribun Kidul, Airlangga Bonek, Green Nord, Bonek Malaysia, dan lain sebagainya.

Tokoh Bonek yang kita kenal sedari dulu ialah Andie Peci. Dia mampu menjadi “panutan” bagi beribu eh mungkin sudah berjuta Bonek yang tersebar di seluruh belahan bumi. Sosoknya memberikan kekuatan agar para Bonek ‘nurut’ pada instruksinya. Bersama dengan anggota Bonek yang lain, ia berusaha mengubah stereotip negatif masyarakat pada Bonek, demi Persebaya. Begitu pula untuk komunitas-komunitas kecil dalam Bonek, masing-masing juga memiliki koordinator atau pemimpin. Mereka pula yang bertanggung jawab untuk mengatur dan mengoordinasikan keputusan-keputusan Bonek sebagai sebuah kelompok suporter, sekaligus membantu kerja ketua.

Selanjutnya kita juga harus tahu bagaimana para Bonek ini menyebarkan informasi yang mereka dapat pada masing-masing anggotanya. Mungkin melalui media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook, WhatsApp, Line, atau kertas selebaran. Dengan mengetahui karakter kelompok dan media apa yang digunakan untuk menyebarkan informasi, setidaknya kita sudah mendapatkan sedikit gambaran tentang media apa yang akan digunakan untuk melakukan sosialisasi menghentikan tradisi estafet.

Hubungan Bonek, Klub, dan Stakeholder

Tak perlu ditanyakan bagaimana hubungan antara Bonek, pihak kepolisian, dan manajemen Persebaya. Manajemen, kepolisian, dan sponsor sudah banyak membuat acara yang ditujukan sekaligus untuk sosialisasi safety riding dan menjadi Bonek yang baik. Ada pula Bonek Fair yang membuat para Bonek merasa lebih dekat dan mengenal tim kesayangan mereka, Persebaya. Kurang nikmat apalagi sebenarnya kan? Tapi tradisi estafet kok ya masih aja dipertahankan dengan meminggirkan resiko besar dan jauh dari manfaat.

Kalaupun hubungan dengan pemerintah setempat, faktanya dari pihak Pemkot Surabaya maupun Pemkab/Pemkot lain juga masih dengan tangan terbuka menyambut kehadiran Bonek yang luar biasa banyaknya itu. Sambutan positif lainnya pun datang dari Gubernur Jawa Timur kita yang baru, Ibu Khofifah Indar Parawansa. Beliau sempat dengan gamblang membahas tentang kesiapannya menjadi mediator bagi Aremania dan Bonek. Berarti kan beliau juga memiliki kepedulian terhadap kelompok suporter, termasuk Bonek. Kita dapat memanfaatkan hubungan-hubungan baik dengan berbagai kalangan ini untuk benar-benar menyelamatkan saudara-saudara kita dari jeratan estafet yang merugikan bahkan membunuh.

BACA:  Bonek, Bondho, No Nekat

Solusi yang Ditawarkan

Setelah melewati analisis singkat di atas, mungkin ada beberapa pilihan solusi yang dapat dilakukan ke depan, dengan memandang kerja sama seluruh pihak. Baik itu Bonek sendiri, manajemen klub, kepolisian, sponsor, maupun pemerintah setempat.

  1. Goes to School/Campus

Perwakilan manajemen, kepolisian, dan pemain yang dianggap memiliki daya tawar besar bagi suporter dapat didatangkan ke sekolah-sekolah atau kampus untuk sekaligus sosialisasi safety awayday. Acara model ini juga dapat digunakan sebagai media berbagi inspirasi bagi siswa dan mahasiswa agar terpacu berprestasi seperti para pemain idola mereka di Persebaya.

  1. Sosialisasi masing-masing komunitas/korwil

Tiap komunitas kecil/korwil yang membawahi para Bonek dapat melakukan forum diskusi atau kopdar rutin dengan sesekali membahas mengenai tata cara keberangkatan awayday. Mereka dapat bekerja sama menyediakan fasilitas seperti bus, elf, maupun penginapan bagi para Bonek yang akan berangkat awayday. Mereka pun harus mendata siapa saja yang ikut dan kendaraan apa yang digunakan, sehingga dapat benar-benar dikoordinasikan dengan suporter maupun panpel tim tuan rumah. Gunakan kekuatan sebagai koordinator untuk merangkul para Bonek yang mungkin biasanya tak mau ikut rombongan, sehingga mereka mau ikut rombongan. Jelaskan pula bahwa resiko awayday estafet seadanya jauh lebih besar dibanding berangkat bersama-sama, misalnya tiket dan kendaraan sudah terjamin, makan dan tiket stadion sudah dipesankan, atau tentang kekurangan biaya yang masih bias dibantu talangan dari teman-teman yang lain. Tak lupa pula menjelaskan agar selalu berusaha menjaga nama Bonek dan Persebaya. Tanamkan benar-benar tentang Kita Persebaya.

  1. Mengadakan Lomba Safety Awayday

Klub bersama kepolisian dapat bekerja sama mengadakan lomba foto atau video tentang kebaikan Bonek selama awayday. Misalnya, foto tentang safety riding dengan memakai helm ketika mengendarai motor, memakai sabuk pengaman ketika mengendarai mobil, memungut sampah dan mengumpulkannya terlebih dahulu jika tidak menemukan tempat sampah, membantu orang lain menyeberang ketika berpapasan di jalan, dan lain sebagainya. Hadiahnya juga bisa berupa tiket pertandingan atau merchandise Persebaya.

Mungkin terlihat sedikit tawaran solusi di atas, tapi yakinlah jika dapat digabungkan dengan ide-ide baik dari berbagai kalangan pasti akan menemukan hal baik lebih banyak lagi. Tak hanya niat untuk menghentikan tradisi estafet ini, tapi langkah nyata yang benar-benar dapat diterapkan.

Jadi gimana? Wani?

Facebook Comments