Azrul Ananda: Yang Paling Bertanggung Jawab di Persebaya Adalah Saya

Azrul Ananda dalam keterangan pers usai Persebaya kalah telak dari Arema FC. Foto: Rizka Perdana Putra/EJ
Iklan

EJ – Malam setelah kekalahan telak Persebaya Surabaya atas Arema FC 0-4 di Stadion Kanjuruhan, Malang (15/8/2019), muncul tuntutan mundur dari Bonek yang ditujukan kepada manajer Candra Wahyudi dan Direktur Media Officer, Nanang Prianto.

Bonek yang kecewa, mengutarakan tuntutannya secara langsung dihadapan Azrul Ananda, presiden Persebaya, Kamis malam. Candra dan Nanang dianggap sebagai yang paling bertanggung jawab atas hasil minor Persebaya selama Liga 1 musim ini.

Dalam delapan laga terakhir Green Force hanya berhasil meraih satu kali kemenangan lawan Persipura Jayapura (2/8/2019). Sedangkan tujuh laga lainnya berakhir dengan empat imbang dan tiga kali kalah.

“Tadi malam saya sampaikan didepan teman-teman suporter. Kita mungkin terbuai dengan awal musim yang terlalu baik. Disaat tim tim lain mendapat kesempatan untuk melakukan evaluasi dan perombakan, kami terbuai dengan hasil yang kita anggap baik, yang teman-teman suporter juga anggap baik,” kata Azrul.

Iklan

“Tapi ketika musim benar-benar dimulai ada beberapa hal tidak sesuai dengan apa yang kita perkirakan. Itu sangat normal, natural,” tambahnya.

Dan ketika Persebaya tak kunjung mendapat hasil memuaskan sampai pekan ke-14 Liga 1, Azrul mengatakan itu bukan salah pelatih, pemain dan juga manajer, tapi sepenuhnya tanggung jawab dirinya sebagai Presiden Persebaya.

“Mungkin target mereka adalah A, mungkin target mereka adalah B. Tapi saya tahu, orang yang paling bertanggung jawab di Persebaya bukan A bukan B, bukan pelatih, bukan pemain, bukan manajer, bukan karyawan yang tadi malam dirampas ponselnya, bukan staf marketing yang bekerja keras mencari uang untuk Persebaya, bukan karyawan Persebaya Store yang setiap hari menjaga toko supaya klub ini mendapat pemasukan. Yang paling bertanggung jawab di Persebaya adalah seorang Azrul Ananda,” tambahnya.

Tidak Akan Membuat Kebijakan Bersifat Emosional

Azrul melanjutkan jika dirinya tidak akan melakukan perombakan yang sifatnya emosional karena dianggap tidak menyelesaikan masalah. Kini, ia meminta semua orang yang terlibat di Persebaya untuk menjadi satu.

“Melakukan perubahan sebesar tim Persebaya tidak bisa dilakukan emosional. Saya sudah melakukan ini sejak 2017. Saya sudah bicara dengan teman-teman, justru kita semua harus menjadi satu. Bagaimana membuat Persebaya kembali,” kata pria yang sering dipanggil dengan inisial Aza itu.

“Dan sebenarnya langkah-langkah ini sudah disiapkan bukan tadi malam (setelah kalah lawan Arema FC), bukan pagi ini, itu sudah beberapa minggu yang lalu dilakukan,” terangnya.

Pria berusaia 42 tahun itu kemudian mencontohkan kebijakan pemecatan Djanur sebagai tindakan tidak emosional.

“Mengenai pelatih misalnya kenapa kok baru kemarin melakukan pergantian ? Karena saya yang meminta Candra untuk segera membuat keputusan segera melangkah,” ucap Azrul.

“Game-game sebelumnya, jauh sebelum pertandingan lawan Madura, sebenarnya mas Djanur sudah minta menyerahkan kepada manajemen seperti apa, tapi kami masih menguatkan karena yang terbaik selalu menilai dengan tenang tidak emosional,” tambahnya. (riz)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display