Analisis Persebaya vs Persija: Kreasi Umpan Pendek Yang Belum Sempurna

358
Foto: Rizka Perdana Putra/EJ

EJ – Satu perbedaan besar yang coba diterapkan Bejo Sugiantoro di Persebaya adalah menampilkan permainan atraktif dengan mengandalkan umpan-umpan pendek. Meski sudah cukup “berkarakter” ketika berhadapan dengan Persija (24/8/2019) tapi tumpulnya koneksi dari lini tengah kedepan membuat serangan Persebaya seringkali gagal.

Babak Pertama: Kombinasi Umpan Pendek Yang Tak Maksimal

Persebaya ala Bejo selalu mencoba membangun serangan dari belakang. Strategi ini cukup penting bagi tim yang ingin melakukan penguasaan bola selama mungkin.

Ketika bola berada di kaki Miswar Saputra misalnya, ia memilih mengumpan kepada dua bek tengah Andri Muliadi dan Mokhammad Syaifuddin atau dua bek sayap Abu Rizal Rodeg dan Ruben Sanadi. Miswar hampir tak pernah menendang bola langsung kedepan kecuali dalam situasi terdesak.

Persebaya ala Djadjang “Djanur” Nurdjaman sebenarnya juga menggunakan cara yang sama. Bedanya, ketika bola sampai di lini tengah, Djanur menginstruksikan dua gelandang Muhammad Hidayat atau Rachmat Irianto (atau terkadang Misbakus Solikin) untuk langsung mengirimkan umpan lambung ke kedua sayap.

Sedangkan Persebaya ala Bejo lebih banyak memperagakan kombinasi satu dua ketika bola sampai di lini tengah. Di fase ini Rendi Irwan menjadi sosok sentral bagi permainan “dari kaki ke kaki” Persebaya ala Bejo.

Dalam laga melawan Persija, Rendi menjadi sosok paling menonjol di lini tengah. Ia membantu serangan dengan melakukan umpan-umpan pendek satu dua sambil sesekali melewati lawan. Di lain sisi ia juga mau untuk menjemput bola dan membuka ruang.

Meski begitu Persebaya tidak hanya butuh sosok Rendi sebagai pengatur serangan. Ia juga butuh kerjasama dengan tiga pemain lainnya di lini depan yaitu Oktafianus Fernando, Elisa Basna dan juga Dzhalilov.

Sayang, beberapa kombinasi umpan yang dilakukan Persebaya masih mentah ketika sampai di sepertiga akhir lapangan. Entah itu karena salah umpan atau bola malah berhasil direbut bek Persija. Selain itu beberapa kali bola, ketika sampa lini tengah, malah dikembalikan lagi ke lini belakang.

Babak Kedua: Masuknya Supriadi Tak Langsung Mengubah Permainan

Masuknya Mohammad Supriadi sejak menit ke-45 mulanya tak langsung memberikan pengaruh instan terhadap eskplosivitas permainan Persebaya. Beroperasi di sisi kiri menggantikan Elisa, Supriadi cukup jarang mendapat bola.

Ia bahkan beberapa kali harus berpindah posisi ke posisi nomor 10 (gelandang serang). Sedangkan Dzhalilov yang semula berada di posisi striker justru mengisi pos Supriadi di sisi kiri. Oktafianus Fernando yang sebelumnya berada di sayap kanan juga beberapa kali beroperasi di sisi kiri.

Overload di sisi kiri, Supriadi lantas mengisi sisi kanan yang kosong. Menariknya, satu-satunya gol Persebaya bermula dari tusukan yang dilakukan Supriadi di sisi kanan. Berhasil melewati dua pemain belakang Persija, Supriadi memberikan umpan silang ke kotak penalti.

Umpan itu tak sempurna. Tapi, bola sapuan dari pemain Persija juga tak sempurna dan mengarah ke Oktafianus. Ofan lantas berhasil melewati tiga pemain dan melakukan umpan satu dua dengan Fandi sebelum akhirnya “dijatuhkan” oleh bek Persija di kotak penalti.

Beruntung, Misbakus dengan segala beban mental yang diembannya, mampu mengeksekusi penalti dengan sempurna 10 menit jelang akhir pertandingan. Persebaya terhindar dari kekalahan.

BACA:  Persija 1, Persebaya 2: Kedewasaan Cara Bermain Bajol Ijo

Persebaya Masih Lemah di Antisipasi dan Aliran Bola ke Depan

Jika dilihat dari penguasaan bola Persebaya memang unggul hingga 58 persen. Penampilan cukup atraktif mampu ditampilkan Persebaya terutama ketika Rendi Irwan masih beroperasi di lini tengah. Tapi, hal itu menjadi sia-sia ketika aliran bola dari tengah kedepan juga tak sempurna.

Oktafianus Fernando dan Elisa Basna masih beberapa kali salah umpan. Ofan, sebelum aksi luar biasanya melewati tiga pemain dan jatuh di kotak penalti- juga tampak sulit melakukan tusukan ke kotak penalti. Tendangan yang dilakukan juga sering terlalu lemah. Begitu juga Elisa.

Sedangkan Dzhalilov, meski cukup rajin mencari bola, tapi ia juga terlalu mudah kehilangan bola. Absennya Irfan Jaya dan Osvaldo Haay tampaknya cukup berpengaruh. Tak ada pergerakan menusuk dan tembakan berbahaya ke kotak penalti seperti yang biasa dilakukan Irfan.

Akibatnya serangan Persebaya pun jarang ada yang mengancam. Dari 17 peluang yang dimiliki hanya empat yang mengarah ke gawang. Di tengah kebuntuan itu, Persebaya bisa dikatakan cukup beruntung akhirnya mendapat “hadiah penalti”.

Sedangkan lini belakang Persebaya tak banyak mendapat ujian berarti. Sebab, pemain Persija lebih banyak menunggu bola.

Penampilan dua winger Persija, Riko Simanjuntak dan Heri Susanto juga tampak kurang maksimal. Keduanya jarang melakukan aksi-aksi berbahaya dari sayap. Masuknya Feby Eka Putra menggantikan Heri juga belum membawa perubahan berarti.

Tapi, satu kelengahan di menit ke-68 harus dibayar mahal. Dua bek tengah Muhammad Syaifuddin dan Andri Muliadi yang maju terlalu jauh dari kotak penalti, tak mampu mengantisipasi pergerakan Marko Simic. Usaha keduanya untuk merebut bola hingga kotak penalti juga tak membuahkan hasil.

Permainan “Ala” Bejo Yang Belum Sempurna dan (Mungkin) Hanya Seumur Jagung

Berbagai kekurangan yang ada dalam laga melawan Persija mungkin bisa dimaklumi. Bejo baru tiga partandingan melatih tim. Selain itu ia juga dihadapkan absennya beberapa pemain seperti Osvaldo Haay, Irfan Jaya, Hansamu Yama dan Rachmat Irianto.

Padahal Hansamu dan Rachmat merupakan dua pemain yang punya akurasi umpan pendek cukup bagus. Kelebihan itu sangat mendukung untuk gaya permainan satu dua ala Bejo. Sedangkan kehadiran Osvaldo dan Irfan Jaya tentu saja juga akan menambah daya gedor Persebaya.

Artinya, permainan Persebaya melawan Persija (dan juga Badak Lampung) belumlah mencapai performa puncak. Karena itu patut ditunggu ketika Persebaya bisa menampikan formasi terbaiknya. Penilaian secara lebih objektif tentang gaya bermain “Persebaya ala Bejo” baru bisa dilakukan ketika syarat itu terpenuhi.

Tapi sebelum bisa tampil full team, Persebaya tampaknya lebih dulu kedatangan pelatih anyar Alfred Riedl. Rencananya dalam waktu tiga pekan mendatang pelatih asal Austria itu akan mulai menangani Ruben Sanadi dkk.

Jika Riedl keburu datang, maka Persebaya tampaknya bakal kembali mengubah gaya bermain. Dalam beberapa laga melatih timnas Indonesia, Riedl memiliki tipikal sepakbola pragmatis dengan umpan-umpan panjang mengandalkan kedua sayap.

Jadi akankah Persebaya akan kembali mengubah gaya permainannya?

Komentar Artikel