Persebaya 1, Semen Padang 1: Green Force Sulit Tembus Low Block

143
Diogo Campos. Foto: EJ

EJ – Persebaya menjamu penghuni dasar klasemen Liga 1, Semen Padang di Stadion Batakan Kamis (28/11/2019). Hasil seri serasa tak adil bagi anak asuh Aji Santoso, mengingat banyaknya peluang yang tidak bisa maksimalkan dengan baik.

Sepuluh menit pertandingan berjalan, Persebaya gempur Semen Padang dari berbagai sisi. Hasilnya pada menit ke sembilan gol pertama terjadi. Jika melihat performa sepuluh menit pertama dan satu gol yang telah tercipta, gol kedua dan seterusnya bisa saja terjadi tidak lama lagi.

Tetapi hingga peluit akhir dibunyikan, Bajol Ijo hanya mampu mencetak satu gol saja. Lantas apa benar ketidak beruntungan sedang berada di Persebaya? Apakah ada faktor lain yang membuat pertandingan ini berkesudahan dengan skor 1-1? 

Eksplorasi Final Third dengan Fandi

Grafis: Arvian Bayu/EJ

Ada pemandangan menarik saat awal laga. Fandi Eko yang pada laga sebelumnya melawan Persipura juga dipasang sebagai attacking midfielder, kali ini lebih berani maju. Berbeda pada saat melawan Persipura, Fandi buruk dalam hal positioning ketika Persebaya lakukan counter attack melalui Diogo Campos atau built up serangan. Ia terlihat selalu berada di posisi yang tidak tepat. Alhasil jarak lini tengah ke depan cukup jauh.

Tetapi pada pertandingan melawan Semen Padang, ia sering berada di final third lawan. Lini tengah terlihat penuh, meski di tengah Semen Padang juga memainkan tiga gelandangan. Tetapi sering adanya Fandi di final third lawan, membuat defence line Semen Padang menjadi rendah.

Fandi Final Third. Grafis: Arvian Bayu/EJ

Sebab lain mengapa Fandi lebih eksplosif pada pertandingan kali ini adalah hadirnya dua defensive midfielder (Aryn dan Alwi). Dua pemain ini lebih rapat dan rapi dalam mengatur ritme baik bertahan atau pun menyerang. Meski sebenarnya pada laga melawan Persipura, Persebaya juga memasang dua defensive midfielder. Tetapi peran Aryn dan Misbakus berbeda. Aryn lebih rapi dan pintar atur ritme kapan harus naik dan kapan harus turun.

Nilai tinggi patut diberikan kepada Alwi Slamat yang dalam laga tersebut mengemas satu assist dan tiga intersep. Catatan tersebut tergolong impresif, mengingat defensive midfielder adalah posisi baru baginya. Tapi visi bermainnya membuat transisi Persebaya menjadi lebih rapi. Terbukti gol Diogo Campos pada menit ke 9 adalah hasil kecerdasan Alwi. Bola rebound setelah free kick Diogo Campos yang mengarah ke Alwi langsung ia pantulkan ke arah Diogo Campos yang berlari. 1-0 Persebaya unggul.

Dua Defesive Midfielder Sebagai Transisi

Alwi Press Half Space. Grafis: Arvian Bayu/EJ

Peran besar pada pertandingan kemarin patut diberikan kepada gelandang Persebaya yang bermain rapi, dari mereka transisi menyerang ke bertahan Aryn dan Alwi bermain sederhana, tidak menghabiskan tenaga, tidak banyak duel, tetapi lebih melengkapi, salu pressing satu menutup ruang kosong. Apalagi dibantu oleh pergerakan Diogo yang kerap pressing lawan, sehingga Alwi maupun Aryn tinggal menunggu atau menutup ruang kosong lawan Pada 20 menit laga awal, dua pemain tersebut tak kesulitan atasi lini tengah Semen Padang. Semen Padang lebih tertarik lakukan serangan disisi kiri pertahanan Persebaya melalui Dedi Hartono.

3 vs 2. Grafis: Arvian Bayu/EJ

Lini tengah Persebaya baru merasakan tekanan saat Manda Chingi (defensive midfileder) ditarik keluar dan digantikan seorang striker Karl Max. Semen Padang sekarang bermain 4-4-2 flat. Meski lini tengah Semen Padang berkurang, tetapi transisi lini tengah agak kesulitan, karena Karl Max selalu mengganggu siapa saja yang pegang bola, serta ia masih berada di lini depan. Keutungan lain dari menempatkan pemain berkarakter pengganggu built-up ini adalah, lini dua defensive midfielder Semen Padang masih berada di posisi yang sama dan berkesan menunggu dengan low block.

Perubahan Formasi Semen Padang Buat Persebaya Susah

Berubahnya formasi Semen Padang dari 4-2-1-3 ke 4-4-2 flat membuat pola permain menjadi sedikit berubah. Tambahan satu striker Semen Padang membuat dua gelandang Persebaya jadi tak nyaman. Fokus jadi bertambah ketika Karl Max masuk. Benar saja, baru dua menit berjalan, Semen Padang mampu menyamakan kedudukan berkat aksi individu Vanderley melewati pertahanan Persebaya yang kurang konsentrasi.

BACA:  Tanpa Osvaldo, Persebaya Bawa 18 Pemain ke Padang

Selepas gol, Persebaya lebih naikkan serangan melalui flank. Dalam proses ini, nama Irfan Jaya hampir tidak pernah terlihat. Pasalnya posisi Diogo Campos yang mobile membuatnya kesulitan menentukan positioning. Diogo bisa sewaktu-waktu berada di sisi kiri ketika menyerang. Tetapi pergerakannya yang liar, termasuk dalam perebutan bola ia masuk ke wilayah Irfan Jaya. Selanjutnya kita bahas di bawah.

Posisi Bebas Diogo Belum Bisa dibaca Rekan

Ketika Diogo bergerak disisi kiri, maka sulai bola banyak berada diposisinya. Tetapi dia juga kerap punya jarak yang dekat dengan Irfan ketika Diogo coba ganggu lawan yang pegang bola dengan pressing. Jika lawan Persipura kemarin pergerakan Diogo yang aktif disisi kiri tetapi tidak bisa diimbangi Fandi, maka Fandi perannya tidak begitu hidup. Pada saat laga melawan Semen Padang Irfan bukan bermain buruk, ada dua faktor yang membuatnya tidak begitu terlihat. Pertama kurangnya suplai bola kepadanya. Yang kedua posisi bebas yang diberikan kepada Diogo tersebut kerap menutup space dari Irfan Jaya.

BABAK KEDUA: Lebih Aktif Menyerang dengan Pergantian Pemain

Babak kedua dimulai, tetapi tempo permainan masih sama. Kendali dipegang oleh Persebaya, tetapi Persebaya seperti terbawa tempo Semen Padang yang kadang bermain dengan defence rendah atau sedikit di middle third. Fandi Eko yang sebenarnya bermain baik diganti dengan Rendi Irwan. Pengalaman menjadi faktor mengapa Rendi dimasukkan.

Tetapi Rendi kali ini benar-benar menjadi metronom Persebaya. Tak seperti Fandi yang lebih banyak berada di depan. Rendi lebih kepada pengatur permaian. Ia banyak memegang bola di middle third. Hal ini mendorong Aryn dan Alwi leluasa bergerak ke depan.

Paksa Defence Line Lebih Rendah. Grafis: Arvian Bayu/EJ

Hingga akhir laga, Rendi lebih sering berada di belakang Aryn maupun Alwi yang bergerak mobile, mereka bukan lagi menjadi defensive midfielder. Tetapi paksa defence line lawan lebih rendah. Dutra pun sempat beberapa kali berada di kotak enam belas. Setelah pergantian selanjutnya dari Persebaya. Irfan Jaya yang tak begitu bayak pegang bola digantikan oleh Misbakus. Hal ini yang mendorong Alwi dan Aryn juga lebih paksa Semen Padang low block dengan sering berada di final third.

Terbawa Permainan Lawan, Direct pun Gagal

Meski bola lebih dikuasai Persebaya, tetapi sebenarnya kontrol permainan berada di Semen Padang. Garis pertahanan rendah dengan 4-4-2 flat dengan lebih menunggu bola membuat Persebaya kesulitan lakukan direct. Bola lebih sering berputar di sisi flank baik kanan atau kiri. Sambil sesekali peluang-peluang itu bisa dilakuan. Crossing, thorugh ball, bola-bola pendek, terus dilakukan Bajol Ijo. Tetapi peluang-peluang tersebut belum juga membuahkan hasil. Bukan hanya pertahanan lawan yang bisa membaca, tapi penampilan apik Teja Paku Alam membuat gawangnnya dalam keadaan baik-baik saja.

Kesulitan Lawan 4-4-2 dengan Low Block

Persebaya selama 90 menit catatkan 8 shoot on target. 6 diantarnaya terjadi pada babak pertama. Tambahan dua shoot on target dibabak kedua ini menjadi salah satu bukti jika pada babak kedua Persebaya benar-benar kesulitan membongkar tim dengan gaya bertahan rendah atau gaya bermain 4-4-2 flat. 4-2-1-3 vs 4-4-2 flat. Garis bermain lawan pola sejajar seperti kesulitan ditembus oleh anak asuh Aji Santoso.

Pada saat laga melawan Persipura, mereka sebenarnya tak jarang bermain dengan low block. Dan itu yang membuat Persebaya kesulitan bongkar pertahanan lawan, meski menaruh banyak pemain di kotak penalti lawan. Menyerang melalui flank pun juga sudah dicoba. Tetapi 4-4-2 flat seperti menjadi momok bagi mereka yang suka bermain. (arv)

Sang Kapten Kalahkan Sang Top Skor di Laga Reuni

Komentar Artikel