Merumuskan Ciri Khas Persebaya, Penuturan Penggawa Juara Perserikatan 1987/88

penggawa persebaya
Skuat Persebaya 1987/1988.
Iklan

EJ – Pelatih Persebaya boleh datang silih berganti. Tapi ada satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu harus menampilkan ciri khas Persebaya. Lalu, permainan seperti apa yang menunjukkan ciri khas Persebaya? EJ mencoba bertanya kepada beberapa pemain yang berhasil mengantarkan Persebaya juara perserikatan 1987/88.

EJ berkesempatan untuk mewawancarai empat penggawa Persebaya 1987/88. Mereka adalah kiper I Gusti Putu Yasa, dua gelandang Maura Hally dan Yongki Kastanja serta gelandang muda saat itu, Seger Sutrisno. 

Dari keempat nama tersebut, tiga diantaranya yaitu Putu Yasa, Maura Hally dan Yongki tampil dalam laga final kompetisi perserikatan 1987/88 melawan Persija Jakarta di Stadion Utama, Senayan. Saat itu Persebaya mampu meraih gelar juara setelah mengalahkan Macan Kemayoran dengan skor 3-2. 

Pemahaman Ciri Khas Persebaya Secara Taktik

Iklan

Menurut penuturan Yongki, Persebaya di era 80-an selalu membangun serangan menggunakan bola-bola pendek. Bola panjang dilancarkan hanya ketika keadaan terpaksa. 

“Persebaya itu memainkan bola pendek cepat berpindah arah. Itu ciri khas Persebaya. Ngeyel dan ngotot. Long ball hanya sekali-kali saja,” kata Yongki. “Tahun 1988 itu para pemain lawan sangat sulit mengambil bola dari kami. Bahkan, sering tiga kali sentuhan sudah terjadi gol. Kami sudah tahu kapan tempo turun dan kapan tempo naik,” tambahnya.

Gol-gol itu pun tercipta melalui proses yang sudah direncanakan. Tak hanya mengandalkan duo striker Mustaqim dan Samsul Arifin, pergerakan coming from behind dari lini kedua juga memegang peranan penting.

“Kami punya ciri khas sendiri bergerak muncul dari belakang, pergerakan tanpa bola. Kalau sekarang namanya coming from behind. Kemudian ciri khas pendek-pendek cepat berubah-ubah arah dan jangan terlalu lama bermain bola. Ojok sampek kakean nggiring,” ucap Seger Sutrisno melengkapi.

Pergerakan cepat berubah arah dari kiri kanan itu bertujuan untuk membuat lawan kebingungan. Tidak ada ceritanya, Persebaya tampil monoton hanya mengandalkan serangan dari satu sisi.

“Jadi membuat lawan kacau. Walau tidak dapat bola kami selalu bergerak supaya tidak mudah dibaca lawan. Persebaya bermain pendek cepat, banyak sentuhan, menciptakan irama permainan sendiri, tidak pernah main lambung kalau tidak terpaksa,” ungkap Seger. 

Ketika membangun serangan jarak antar lini juga tak boleh terlalu jauh. Dua bek tengah Nuryono Hariyadi dan Subangkit bergerak berdekatan dengan gelandang tengah Maura Hally dan Yongki Kastanja. Sesekali dua bek sayap Muharom Rusdiana (kanan) dan Usman Hadi (kiri) juga melakukan overlap membantu serangan.

“Semua bergerak bekerjasama. Mulai lini belakang, tengah dan depan. Kalau menyerang tidak boleh ada ruang kosong, semua bergerak merapat,” kata Seger.

“Organisasi tim akhirnya jalan semua, tidak asal-asalan. Kami juga memanfaatkan lebar lapangan, buat apa lapangan besar kalau main hanya separo dan menumpuk di satu arah saja. Jadi kita pakai pergerakan pendek cepat berubah arah dari kiri kanan itu,” beber Seger.

Ketika kehilangan bola para pemain Persebaya juga harus segera merebutnya dengan cepat. Yongki, yang berada di lini tengah, punya tugas ganda untuk memulai serangan dan juga memutus serangan bersama Maura Hally yang bermain lebih kebelakang.

“Bermain ngeyel dan ngotot itu tidak pernah lupa. Bagaimana kami bisa memotong cepat bola dari lawan. Lawan yang pegang bola itu yang paling berbahaya. Sumber masalah harus dimatikan dulu. Ketika orang pegang bola diberikan keleluasaan akan berbahaya,” kata Yongki. 

“Kami juga harus menguasai lini tengah. Kalau main bola, lini tengah adalah jantungnya. Lini tengah mati semua tidak akan jalan. Tapi, kami sudah tahu nanti posisi Yongki di mana, Budi Johanes dimana, Aries Syainyakit dimana. Intinya jangan sampai lawan pegang bola,” kata Maura Hally.

Pemahaman antar pemain itu tidak hanya terjadi di lini tengah. Seluruh pemain mulai dari kiper, bek, gelandang dan penyerang harus paham karakter masing-masing pemain satu sama lain.

“Kami saat itu sudah lama berkumpul sehingga tanpa ngomong pun sebenarnya kami sudah tahu. Artinya kalau posisi si A begini maka responnya harus begini. Di lini belakang saya juga sudah tahu maunya Subangkit dan juga maunya Nuryono. Komunikasi terus jalan,” kata kiper utama Putu Yasa.

Pemahaman Ciri Khas Persebaya Secara Mental

Pemahaman taktik tak akan berarti jika para pemain Persebaya tak punya mental bertanding yang kuat pula. Semua pemain Persebaya harus menunjukkan mentalitas berani dan tak ingin kalah khas arek Suroboyo.

“Kalau teknik tinggi tapi penakut ya sama saja. Pemain Persebaya harus punya jiwa tak mau kalah. Itu yang harus ditanamkan sampai kapan pun. Istilahnya iki Suroboyo rek, jangan main setengah-setengah,” kata Maura Hally.

“Tahun 1988 itu fanatisme daerah. Fanatisme itu jangan sampai hilang. Karakter Suroboyo harus tetap ada. Bagaimana caranya kami tidak boleh kalah. Kalau tidak mau dibunuh kami harus bunuh lebih dulu,” tambah Maura.

Mental tak mau kalah itu tetap tampak meski Persebaya berganti-ganti pelatih di tahun 80an. Mental tak mau kalah itu sudah seharusnya ditanamkan kepada seluruh pemain Persebaya di setiap era.

“Kalau dulu banyak orang-orang asli Surabaya yang main. Sekarang kan pendatang campuran, jadi perlu ditanamkan, bahwa you masuk ke Surabaya harus punya ciri khas itu. Walaupun pemain teknik tinggi tapi tidak punya idealis memenangkan pertandingan ya tidak bisa,” ucapnya.

Nah, mental bertanding tersebut, harus tampak, terutama ketika bermain di kandang. Pemain Persebaya punya tanggung jawab moral luar biasa besar untuk memastikan Bajol Ijo tidak kalah di kandang.

Sebab, jika tidak mampu bermain bagus, pemain tersebut sudah pasti menjadi bahan olokan publik. Saat era 80-an kritikan juga datang bahkan dari orang terdekat sekalipun.

“Dulu kadang kami diolok orangtua kalau kami kalah. Sebagai orang asli Surabaya pasti ada keterikatan. Jadi kami main di kandang jangan sampai mengecewakan penonton. Kami tidak boleh enak-enakan, harus fight. Penonton datang memenuhi stadion harus kami bela itu,” kata Maura.

Dengan cara bermain bermain umpan-umpan pendek berpindah arah serta mental bertanding tak mau kalah itu Persebaya akhirnya mampu meraih gelar juara kompetisi perserikatan 1987/88. Selain itu Green Force juga mampu tampil di dua final pada musim 1986/87 dan 1988/89.

Menyambut Positif Kedatangan Aji Santoso

Baik Maura Hally, Yongki, Seger dan Putu Yasa sepakat menilai bahwa Aji Santoso memang mampu mengembalikan ciri khas permainan Persebaya. Persebaya kini kembali mengandalkan umpan-umpan pendek dan mulai punya mental tak mau kalah.

Paling terlihat tentu kemenangan 3-2 atas Madura United pekan lalu (2/12/2019). Sempat tertinggal 1-2, Persebaya mampu membalikkan keadaan menjadi 3-2. Ciri khas tak mau kalah tampak di laga tersebut.

“Saya lihat lawan Madura United sudah ada perubahan. Meski sempat unggul dan kemudian tertinggal, Persebaya mampu membalikkan keadaan,” kata Yongki. 

“Dari situ kelihatan permainan tempo tinggi. Main ngotot, pressing, dan kejar terus harus seperti itu. Kalau mau berusaha tidak ada yang tidak mungkin, Persebaya bisa meraih kemenangan terus,” tambahnya.

Tapi, Yongki juga mengingatkan pelatih dan juga pemain Persebaya agar tidak mengecewakan Bonek. Suporter sudah rela mengeluarkan biaya dan berkorban sedemikian rupa untuk datang ke stadion. Karena itu para pemain harus mampu menampilkan permainan yang enak ditonton.

“Bonek keinginannya cuma satu, datang untuk melihat Persebaya menang. Kalau dulu penonton datang selalu senang karena Persebaya selalu menang. Sekarang saya berharap tidak ada istilah draw di kandang, kita harus menang,” harap Yongki.

“Apalagi pemain di era sekarang penghidupannya sudah disitu. Seharusnya ada timbal balik. Kalau segala kebutuhan sudah dipenuhi ya berikan yang terbaik buat Persebaya. Apa yang terbaik? Main di GBT hasilnya menang,” tambahnya.

Namun, Yongki percaya tim kepelatihan Persebaya saat ini sudah paham betul dengan karakteristik Persebaya dan Bonek. Trio pelatih Aji Santoso, Bejo Sugiantoro dan Uston Nawawi sama-sama pernah merasakan manis pahit sebagai pemain Persebaya.

“Saya pikir tiga pelatih ini tahu dan mereka lebih paham. Kami pantau dari luar saja. Penting pemain punya sangu. Artinya fisik pemain harus bagus supaya bisa main dalam tempo tinggi dan bisa bermain sesuai ciri khas Persebaya,” tandasnya. (riz)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display