AREMA FC: Genting di Saat Penting Hadapi Derby

193
Arema FC. Foto: Liga-indonesia.id

EJ – Derby Jawa Timur yang mempertemukan Persebaya melawan Arema di Stadion Batakan Kamis (12/12/19) akan menyajikan dua tim yang berbeda jalur. Persebaya berada di jalur positif sedangkan Arema sedang menghadapi tren negatif. Dalam sepuluh laga terakhirnya hanya mencatatkan dua kemenangan, empat hasil imbang dan empat kekalahan. Tentu ada sesuatu yang sedang dialami Arema saat ini. Mengingat dalam empat laga terakhirnya anak asuh Milomir tiga kali mengubah formasi. Faktor ini yang bisa jadi membuat Arema hanya mencatatkan tiga gol dan kemasukkan delapan gol. Produktifitas seret, lini belakang tidak konsisten, pemain depan minim kontribusi. Lantas apakah yang akan dilakukan Arema pada laga nant jika lawannya dalam keadaan ingin membalas kekalahan di leg pertama.

Inkonsistensi Strategi

Hasil minor ini tentu menjadi sebuah tanda tanya besar, mengingat skuat Arema punya nama diatas rata-rata. Inkonsistensi dinilai yang mendasari Arema mengalami tren buruk dalam 10 laga terakhirnya. Coach Milomir dalam empat laga terakhirnya sering merotasi pemain dan juga mengubah formasi. 4-4-2, 4-2-3-1, dan 4-3-3 pernah dipakai. Dari perubahan formasi tersebut tentu berimbas pada pola permainan. Dalam produktifitas gol di lima pertandingan terakhirnya, Arema bahkan hanya memasukkan tiga gol dan kemasukkan sebanyak sebelas gol. Angka yang bisa dibilang tidak seharusnya diperoleh Singo Edan.

Perubahan komposisi pemain juga ikut menjadi hal mengapa saat ini Arema sulit meraih kemenangan. Milo sering merotasi pemain. Hanya Makan Konate dan Alfarizi, Dendy Santoso nama yang sering dipercaya pada posisinya masing-masing. Makan Konata menjadi sosok penting bagi Arema, ini yang harus diwaspadai oleh lawan nanti sore. Hampir serangan-serangan Arema dimulai dari Konate. Konate yang mendistribusikan bola ke arah rekan-rekannya. Dan pemain ini yang menjadi top skor tim dengan 16 gol.

Lini Depan Minim Kontribusi

Tumpulnya produktifitas gol Arema tak lain juga karena lini depan yang minim kontribusi. Arema punya Sylvano Comvalius, Dendy Santoso, Rivaldi Bauwo, Hardianto. Dari nama tersebut hanya Dendy dan Rivaldi yang menyumbang kontribusi dalam lima pertandingan terakhirnya, yang masing-masing mencetak satu gol saja, sedang satu gol tambahan lain di lima laga terakhirnya turut disumbangkan Konate. Comvalius yang sudah bermain 25 kali hanya mampu mencatatkan perolehan lima gol.

BACA:  Players To Watch: David Da Silva dan Makan Konate

Milomir juga pernah menggunakan formasi 4-4-2. Bukan tanpa alasan mengapa ia coba menggunakan dua striker sekaligus saat melawan Bhayangkara FC. Ia berharap dengan memasang dua striker tersebut yakni Hardianto dan Rivaldi, akan membuka kran gol bagi seretnya produktifitas gol. Tetapi pada laga tersebut Arema justru kalah dengan skor 1 – 0.

11 Gol dalam 5 Laga Terakhir

Sumbangan angka terbesar adalah ketika pekan lalu Arema kalah dengan skor telak saat melawan PSIS dengan skor 5-1. Ya, kemasukkan 11 gol dalam 5 laga terakhir untuk tim sekelas Arema bisa jadi preseden buruk jika lini belakang mereka masih melakukan kesalahan-kesalahan mendasar.

Jika dilihat memang, Milo sering merotasi para pemain belakangnya. Duet Hamka dan Cunha yang awal musim sering dipasang, akhir-akhir ini sering dirotasi. Bahkan Hanif Sjahbandi juga pernah dipasang menjadi centre back saat Arema menjamu Kalteng Putra. Hamka Hamzah, nama berikut adalah opsi selanjutnya ketika lini depan mulai tumpul dan tim sangat membutuhkan gol. Pada saat melawan Bhayangkara ia terlihat sering berada di kotak enam belas. Menunggu umpan-umpan crossing dari flank melalui Alfarizie juga Makan Konate yang sering drop bola ke kotak enam belas. Cara ini sebenarnya dapat dua keuntungan, selain dapat momen duel bola atas, cara ini juga bisa menciptakan kemelut di depan gawang. Apalagi jika lini belakang lawan lemah dalam duel bola udara.

Counter Attack Solusi Tim

Arema tak punya hal banyak jika melihat lima pertandingan terakhirnya selain bermain dengan cara menunggu untuk melakukan counter attack. Tetapi yang perlu digaris bawahi adalah cara built up. Arema yang memasanga dua defensive midfielder akan coba duel dengan dua defensive midfielder lawan. Lemahnya built-up dan bergantungnya pada Makan Konate tentu bisa saja dimanfaatkan oleh lawan dengan cara mematikan Konate. Milo harus punya opsi lain pada laga sore nanti. Menyerang melalui sisi flank dengan mengandalkan one two touch bisa jadi salah satu cara lepas dari duel lini tengah. (arv)

Ruben Sanadi Bicara Persiapan Persebaya Lawan Arema FC

Komentar Artikel