Mas Azrul Ananda, Iya Ta?

Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

Jelas sudah, tulisan saya adalah respon dari tulisan sampean yang dimuat hanya beberapa hari dari euforia Runner-up yang baru saja kita petik. Saya baru membacanya siang jam 1 tadi, bangun tidur. Saya kaget, jujur saja, kurang paham, mengapa sampean memuatnya ditengah euforia, di tengah BONEK yang di status-status media sosialnya berharap tak ada lagi drama-drama murahan seperti yang sudah dilalui di pra dan awal dua musim terakhir.

Oh, iya, perkenalkan, saya adalah salah satu BONEK dan bukan hanya sekadar penggemar Persebaya. “Bukan”, “hanya”, “sekadar”, mohon tidak lantas sampean simpulkan sebagai keangkuhan, kesombongan maupun keangkuhan. BONEK adalah sebenar-benarnya kekasih Persebaya. Saya hanyalah jelata, seperti BONEK lainnya, bukan seperti sampean yang Presiden Persebaya.

Pertama, saya ingin mengatakan, problematika laga kandang yang sudah Persebaya jalani. Sesuai dengan data yang sampean sampaikan. Hanya 7 kali menang dari 17 pertandingan. Memang menggelikan bagi tim sekelas Persebaya yang berjargon sustainable itu. Tim sekelas Persebaya yang di awal-awal menyampaikan target juara, nyatanya bermain seperti tim medioker Manchester United yang hanya menargetkan papan tengah agak ke atas. Namun tetap harus kita syukuri, Persebaya beranjak ke puncak, copy paste siklus musim sebelumnya.

Saya tidak menuding siapa yang salah. Sampean, manajer yang memakai kerpus biru itu, pelatih utama, asisten pelatih, pelatih kiper, pemain, anak gawang, atau justru kami, BONEK, yang sampean sebut hanya sebagai penggemar Persebaya. Yang saya tuding jelas apa yang salah. Tak perlu dijawab gamblang, biar kebesaran hati dan kejernihan pikiran yang menjawabnya.

Iklan

Kedua, mengenai kalimat sampean yang “….Wong tidak ada yang ditangkap meski telah melakukan perusakan….” itu sungguh membuat saya mesem. Dengan kegagahan yang sampean tunjukkan, lantas dengan seolah-olah lugu dan polosnya bertanya kepada publik, “Salah siapa?”. Sekali lagi saya mesem ketika membacanya, dan mesem lagi ketika menuliskannya.

Mas, ketika sampean, saya, ataupun siapa saja mencret, murus-murus, langkah alamiah yang diambil adalah mencari tombo-nya. Ketika mengolesinya dengan minyak angin dan dibuat rebahan tidak mempan, apa salahnya jika memanggil langkah yang lebih, menenggak teh hitam misalnya. Memang, efeknya mengejutkan dalam pencernaan. Tapi, hasilnya waras.

Lihat, pasca kejadian puncak dari kejengahan kami terhadap performa dan tindakan yang menurut sampean sudah benar itu, apakah lantas Persebaya menelan kekalahan di sisa laga? Tidak kan? Bukan lantas saya menghendaki terjadinya perusakan yang seperti sampean sebutkan itu loh, ya, yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai pitch-invasion, sebagaimana saya dan BONEK lainnya yang tidak menghendaki Persebaya yang sering kehilangan jati diri, tapi ngotot sudah mengenali diri.

Ketiga, setiap tim ini menemui titik yang tidak mengenakkan, sampean kerap mengeluarkan jurus “Memang masih ada pihak-pihak yang tidak ingin melihat Persebaya sukses. Atau, masih ada pihak-pihak yang iri melihat kemajuan Persebaya. Atau, masih ada pihak-pihak yang ingin mendapatkan keuntungan lebih dari Persebaya.” Kepada publik. Saya jadi menggaruk kepala saya yang gak gatal. Kalimat sampean itu kalimat bersayap. Bisa saja berdampak pada siapa yang saat itu dianggap “merusak” Persebaya. Saya gak baper, loh. Mungkin kalimat itu masih wajar jika disebutkan oleh BONEK yang jelata dan pernah berhadapan jelas dengan siapa saja yang membunuh Persebaya saat itu. Nah, sampean?

Kalau 17 tim lainnya jelas tidak ingin melihat Persebaya sukses, karena atas dasar kompetisi, mereka juga ingin sukses. Ukuran kesuksesan adalah berprestasi, dan hanya ada satu tempat untuk berprestasi; juara. Kalau ada yang iri melihat kemajuan Persebaya, ya jelas. Di tangan sampean, tim ini menjadi tim yang tampaknya profesional dan stabil keuangannya. Siapa coba yang tidak iri? Kemudian, masih ada pihak yang ingin mendapatkan keuntungan lebih dari Persebaya. Siapa pihaknya, orangnya, person-nya?

Jadi begini, Mas. Selama sampean tidak punya itikad atau keberanian untuk menyebutkan siapa-siapanya, saya kira kurang elok kalau kalimat-kalimat di atas kerap disebutkan dikala Persebaya sedang mengalami oleng atau kejayaan sekalipun. Itu bersayap, loh. Serius. Dan yang mengucapkan, sekelas Presiden Persebaya. Sangar, kan?

Keempat, tentang denda dan reputasi. “Denda bisa dibayar, uang bisa dicari. Tapi kebahagiaan mendukung langsung tidak bisa digantikan.” adalah kalimat yang saya kutip dari tulisan sampean. Izinkan saya meresponnya dengan kalimat kesombongan. Mas, arek-arek itu, gak duwe kerjoan ae wani rabi kok. Iki Suroboyo, Mas. Wong Jowo. Banyak akalnya untuk mensiasati keadaan. Ketika sampean merasa sambat dengan uang denda yang tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah dilakukan BONEK kepada Persebaya, saya gak habis pikir. Serius, saya gak habis pikir. Sampai stuck saya untuk menjelaskannya. Gila.

Juga reputasi. Kalau boleh saya menarik sejarah, justru ketika Persebaya kembali berlaga, di situlah puncak dari unjuk reputasi BONEK. Tapi, apakah sampean pernah berpikir jika justru BONEK sudah lebih dulu berproses, merevolusi diri ketika tahunan paksa Persebaya dibunuh paksa oleh federasi dan BONEK berkeringat darah mencari ramuan untuk membangkitkannya? Sampean enak, tinggal nampani istilahnya. Tetapi, jerih payah itu murni dari kesadaran dan pergerakan BONEK sendiri, bukan siapapun juga, termasuk sampean. Sudah jalan-Nya.

Sekarang sampean menyebutkan percuma teriak “Kami sudah berubah” atau bla-bla-bla kalau masih seperti ini. Mas, masing-masing BONEK itu punya cermin besar untuk berkaca. LEK SALAH NGOMONG SALAH, LEK BENER NGOMONG BENER. Itu slogan lama yang juga sudah BONEK lakukan lama. BONEK tidak akan menuding-nuding untuk mencari siapa yang salah. Karena, sekali lagi, yang dicari BONEK dan akan terus dicari adalah mencari apa yang salah, apa yang benar.

Bicara reputasi. Wong sampean sendiri saja, menurut saya, kayaknya malu kok untuk menyebutkan BONEK dan menurut saya, sampean merasa lebih aman untuk menyebutkan penggemar, fans, atau pecinta Persebaya. Opo iki, Mas? Ketika di luar sana, masyarakat luas, mulai menoleh dan memaafkan masa kelam BONEK, ketika respect itu muncul, ketika sekian apa yang kami lakukan untuk membersihkan dosa masa lalu, ketika mata dunia perlahan bahwa di Surabaya juga punya kebanggaan, dan sampean masih menyebutnya sebagai penggemar Persebaya dan bukan BONEK?

Bagi sampean mungkin sepele, atau mungkin yang sengaja dihindari. Karena, memang BONEK masih seksi di media tentang kenegatifannya. Bungkam seribu bahasa ketika berusaha menempuh kebaikan. Selain itu, BONEK mungkin kurang mendapatkan nama jual di perusahaan. Mungkin loh, ya. Tapi, mbok, ya, kita ini BONEK, bukan hanya sekadar penggemar Persebaya.

Ah, sudah lah, Mas. Lapar saya, tak ke warung dulu cari sego sadhukan. Jangan lantas tulisan ini dianggap kontra. Ini tulisan penyeimbang saja meskipun bobotnya tak seberat tulisan yang sudah sampean muat. Ini tulisan embongan, dari orang yang kurang berpendidikan. Intinya, berjaya atau terpuruknya Persebaya, mari kita hadapi sama-sama. Jangan menghindar ataupun cuci tangan bahkan nabok nyilih tangan.

Yah, semoga tak ada lagi adegan seakan-akan meminta maaf dengan menepuk-nepuk dada dihadapan BONEK yang sedang kecewa luar biasa. Tak ada lagi pitch-invasion kecuali ketika mengangkat trofi juara. Tak ada lagi drama-drama rendahan dan murahan. Tak ada lagi kebebalan-kebebalan. Semoga juga, 2020 kita tak punya lagi problems yang kita buat-buat sendiri.

Salam dari saya yang sok tahu dan sok menilai itu. Bismillah!

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display