Kartu Merah Lawan PSIS Mengubah Sosok Oktafianus Fernando

Oktafianus Fernando. Foto: Rizka Perdana Putra/EJ
Iklan

EJ – Oktafianus Fernando mulanya dikenal sebagai pemain yang cukup temperamental. Tapi, laga Persebaya Surabaya melawan PSIS Semarang di Stadion Moch. Soebroto, Magelang, 22 Juli 2018 mampu mengubah sosok pemain 26 tahun itu.

Saat itu Liga 1 2018 memasuki pekan ke-17. Ovan dipercaya tampil sebagai kapten tim oleh pelatih Angel Alfredo Vera. 

Kepercayaan yang akhirnya gagal dijawab dengan baik oleh Ovan. Jebolan klub internal Indonesia Muda itu harus diusir keluar lapangan oleh wasit Fariq Hitaba pada menit ke-41. Ia mendapat kartu kuning kedua setelah melanggar bek PSIS, Frendi Saputra.

Keluarnya Ovan sejak babak pertama cukup mempengaruhi permainan Persebaya. Green Force akhirnya harus menerima kekalahan tipis 0-1 lewat gol Komaruddin di menit ke-49.

Iklan

Seusai pertandingan, Alfredo mengakui jika keluarnya Ovan cukup mempengaruhi permainan Persebaya. 

“Dari awal kami sudah menguasai pertandingan. Mungkin karena kami sudah kena kartu merah, PSIS punya beberapa kesempatan,” ucap pelatih asal Argentina itu.

Ovan pun mendapat berbagai kritik di media sosial. Bagaimana tidak, saat itu Ovan menjadi pemain Persebaya yang paling banyak menerima kartu. Dari 12 kali diturunkan, Ovan menerima 5 kartu kuning dan 2 kartu merah.

“Tolong Anda instrospeksi diri. Jika anda tidak dikeluarkan di pertandingan ini, Persebaya sudah naik peringkat,” tulis salah satu Bonek di akun Instagram Ovan.

Ovan pun sadar dengan catatan buruk tersebut. Apalagi, selama 12 kali tampil, Ovan belum mencetak satupun gol untuk Persebaya.

“Waktu itu musim 2018 saya sempat dapat kartu terbanyak. Kalau gol terbanyak atau assist terbanyak nggak apa-apa, tapi ini kartu terbanyak. Saya posisinya apa dapat kartu terbanyak,” kenang Ovan ketika berbincang live dengan EJ, Jumat (22/5) lalu.

Berusaha Introspeksi

Seusai kartu merah tersebut, Ovan sadar jika sikap temperamennya dapat merugikan tim. Ia pun sempat tak kuasa ketika rekan-rekannya terpaksa berjuang dengan 10 pemain sejak babak pertama.

“Saya lihat teman-teman nangis sendiri. Sudah ditinggal sejak babak pertama, berjuang dengan 10 orang. Saya cuma nonton di babak kedua. Itu jadi pelajaran bagi saya,” cerita Ovan.

“Saya jadi kapten terus saya dapat kartu merah. Rasanya benar-benar jadi pelajaran dalam hati dan pikiran. Saya tidak bisa seperti ini terus,” tambahnya. 

Ya, beruntung, insiden kartu merah lawan PSIS tidak membuat Ovan terpuruk. Justru, eks pemain Persita itu merasa perlu lebih banyak belajar. 

Hal pertama yang kemudian ia lakukan adalah menghubungi orang-orang terdekat. Ovan berusaha meminta berbagai masukan demi menampilkan performa yang lebih baik.

“Saya telpon orang tua juga, meminta masukan. Saya ingin coba (cari tahu) bagaimana sih caranya.”

Selain itu, Ovan juga berusaha mempelajari teknik merebut bola yang baik dan benar. Bagaimana caranya ia tetap mampu bermain ngeyel tanpa harus bermain kotor.

“Saya mulai menemukan cara bagaimana saya berubah. Saya boleh ngeyel, ngotot, tapi harus benar-benar pas, harus benar-benar tepat,” ucapnya.

Perjuangan untuk mengubah diri itu akhirnya berbuah manis. Kartu merah lawan PSIS menjadi kartu merah terakhir yang diterima Ovan. Dalam 36 laga selanjutnya, Ovan tidak menerima satupun kartu merah dan hanya meraih 6 kartu kuning.

Ia pun menjadi salah satu pemain yang tetap dipertahankan Persebaya selama tiga setengah tahun terakhir. Jika winger utama Persebaya absen, Ovan, dipastikan menjadi sosok utama yang bisa diandalkan sebagai alternatif. (riz)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display