Ini Lima Model Relationship Yang Bisa Dikembangkan Klub dengan Media Komunitas Suporter

60
Kuntowiyoga dalam acara BELABAR. Courtesy: FMS

EJ -- Di era digital, peran media komunitas dan suporter terhadap pemberitaan sebuah klub tidak bisa lagi dianggap remeh. Sayang, hingga saat ini belum banyak klub yang memperhatikannya. Kepala Pengembangan Bisnis Simamaung.com, Kuntowiyoga membagikan lima model relationship yang seharusnya dibentuk klub dengan media komunitas dan suporter.

Simamaung.com merupakan media komunitas (fan site) yang memberitakan berbagai hal tentang Persib Bandung. Berdiri sejak tahun 2009, mereka saat ini terus berkembang menjadi salah satu media komunitas paling konsisten di Indonesia.

Nah, Kuntowiyoga, lewat acara Belajar Bareng (Belabar) virtual yang diselenggarakan Forum Media Suporter (FMS) dan diikuti berbagai media komunitas sepak bola pada Rabu (3/6/2020) lalu membagikan berbagai tips agar media komunitas bisa berkembang. 

Selain itu ia juga memberikan saran soal bagaimana klub seharusnya membangun hubungan dengan media komunitas. EJ merangkum kelima model relationship tersebut:

  1. Klub memberi edukasi. Apa saja Do and Don’t

Langkah paling penting yang harus dilakukan klub adalah memberikan edukasi kepada media komunitas. Apa saja yang boleh dan tidak boleh media lakukan. Terkait hal ini, Kuntowiyoga memberikan satu contoh:

“Baru-baru ini ada sebuah media di Bandung. Kebetulan media ini backup-nya adalah sebuah perusahaan rokok yang merupakan kompetitor salah satu sponsor yang ada di Persib. Ketika media ini membuat berita, dalam liputan tandang, dia menunjukkan bahwa liputan itu dipersembahkan oleh jenama rokok tersebut (yang jadi kompetitor sponsor di Persib, red). Ternyata ini enggak boleh.”

Masalah tersebut akhirnya merembet panjang, bahkan sampai somasi. Nah, untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan, Kuntowiyoga berharap klub seharusnya bisa memberikan edukasi terlebih dahulu, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

“Kita perlu dapat edukasi juga. Misalnya, terkait hak atas foto pemain ketika bertanding, tandang pula, itu punya siapa sih?”

“Ada baiknya memang klub mencoba mengundang, silaturahmi dulu dengan teman-teman media, terutama dengan media digital yang cukup cepat. Disitu bisa diceritakan apa sih filosofi, apa sih do and don’ts-nya. Ini jujur saja tidak pernah ada di Bandung, sehingga kami waktu tahun 2013 ke depan harus learning by mistake.”

  1. Verifikasi Media Komunitas

Poin kedua adalah soal verifikasi. Klub sebaiknya mendata dan melakukan verifikasi media yang terafiliasi dengan mereka. Tujuannya, menurut Kuntowiyoga, supaya klub juga tahu penanggung jawab media tersebut. 

“Jangan sampai ada kejadian begini,” Kuntowiyoga mencontohkan. “Misalnya saya adalah pegiat media sosial. Saya bisa bikin konten bagus, orang-orang pada suka, follower saya banyak. Lalu saya klaim media saya terafiliasi memberitakan klub ini. Kemudian saya melakukan hal-hal yang ternyata tidak boleh dilakukan media.” 

“Ketika akhirnya klub menegur, dia (klub,red) kirim pesan ke akun saya misalnya. Saya bisa saja tidak menjawab, akhirnya akan kejadian seperti itu terus. Makanya verifikasi media cukup penting,” ujar Kuntowiyoga.

Akan tetapi, ketika media komunitas atau suporter sudah terverifikasi bukan berarti media lantas dibungkam, tidak boleh bersikap kritis terhadap klub. Biasanya, media akan diancam dicabut ID-nya, dan tidak boleh melakukan liputan.

“Klub juga harus paham, kalau media diverifikasi oleh klub, bukan berarti jadi “corongnya” klub juga. Klub harus paham media bisa jadi kontrol atas klub, melakukan evaluasi ketika performa tidak bagus, evaluasi rekrutan, dll. Bukan berarti ketika terverifikasi oleh klub media jadi terbungkam,” tutur Kuntowiyoga.

“Saat ini, yang saya lihat, relationship (klub dengan media komunitas,red) hanya sebatas ID. Klub memberikan ID kepada media yang sudah terverifikasi. Media kemudian mencari cara supaya klub tidak marah dengan pemberitaan, supaya id media tetap bertahan. Relationship-nya ya udah disitu saja, padahal enggak gitu seharusnya.”

  1. Klub Memberikan Nilai Tambah (Added Value)

Ketiga, klub bisa memberikan nilai tambah kepada media. Sebagai contoh, klub bisa memberikan foto bagi media yang tidak melakukan liputan tandang. Klub bisa membagikan foto tersebut di grup Whatsapp (WA) misalnya.

“Setahu saya, di Persib, liputan tandang yang posisinya cukup jauh, Persib juga menyediakan foto. Tentu klub akan mempublish foto untuk mereka juga, tapi ada juga foto-foto lain yang dipublikasikan di grup media.”

“Sekarang ini media officer klub sudah punya grup WA, tentu dengan media-media yang sudah terverifikasi. Proses ini menurut saya cukup penting untuk proses jangka panjang.”

  1. Pembinaan

Soal pembinaan ini sebenarnya berkaitan dengan nilai tambah (added value). Nilai tambah yang diberikan klub tidak hanya berbentuk pemberitaan tetapi juga berbentuk edukasi lainnya seperti pembinaan. “Media yang sudah terverifikasi bisa dibuatkan kelas,” ujar Kuntowiyoga.

Selain itu, ia menambahkan, klub juga bisa memberikan akses ekosistem sponsor klub. Artinya, bukan berarti sponsor klub berkewajiban membiayai media komunitas, tetapi klub mampu memberikan akses kepada media komunitas untuk berkomunikasi dengan sponsor.

“Tidak ada kewajiban bahwa si sponsor harus membiayai media komunitas. Tapi ketika kita (media komunitas,red) dapat akses ke arah sponsor kita bisa nge-pitch (mempresentasikan) sebuah ide. Itu bisa jadi cara supaya media juga bisa bertahan,” ucap Kuntowiyoga.

  1. Media Komunitas/Suporter Menjadi Content Creator Klub

Poin ini biasanya terjadi ketika klub belum memiliki sebuah tim media yang saklek. Biasanya, klub akan menggaet jurnalis atau fotografer dari kalangan suporter. 

“Ketika media klub tidak cukup kuat, media suporter bisa jadi sinergi untuk content creator,” tandas Kuntowiyoga. (riz)

BELABAR 1 || Bagaimana Media Komunitas Hidup: Studi Kasus Simamaung

 

Komentar Artikel