Respon Bonek Soal Kemungkinan Liga 1 Dilanjutkan

Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

EJ – PSSI pekan lalu membuka peluang untuk melanjutkan kembali Liga 1 pada bulan September mendatang. Sebuah wacana yang dianggap cukup beresiko oleh beberapa koordinator tribun Bonek.

Melalui ketua umum Mochamad Iriawan, PSSI pekan lalu mengajukan sejumlah usulan. Dalam rapat virtual dengan klub-klub Liga 1 itu PSSI menginginkan Liga 1 tetap dilanjutkan mulai bulan September. Sebagai antisipasi bahaya Covid-19, seluruh pertandingan rencananya akan digelar tanpa penonton. 

Nah, salah satu koordinator Bonek di tribun utara, Husein Ghozali menganggap keinginan tersebut cukup beresiko. Apalagi, jika sampai bulan September mendatang situasi belum 100 persen normal.

“Saya berpendapat kalau diteruskan di masa pandemi sangat beresiko terhadap keselamatan pemain dan staf.  Walaupun tanpa penonton, tahu sendiri kondisi Bonek seperti apa, melihat animonya (ada kemungkinan) anak-anak tetap berangkat (ke stadion),” ujar pria yang akrab disapa Cak Conk itu.

Iklan

“Harapan saya pribadi liga dimulai dengan kondisi normal, bukan kondisi darurat. Supaya bisa ditonton (suporter), dan itu (sepertinya) cukup sulit,” tambahnya.

Ya, menurut Cak Conk liga bisa digelar ketika pandemi ini sudah benar-benar berakhir. Sayangnya, hingga saat ini, terutama di Surabaya, Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Tapi, jika PSSI tetap memaksa liga tetap digelar, maka menurut Cak Conk, protokol kesehatan harus diterapkan dengan sangat ketat. Selain itu, faktor keamanan juga harus diperhatikan untuk mengantisipasi suporter yang “bandel”.

“Kalau federasi masih ingin menyelenggarakan ya monggo. Tapi protokol dilakukan secara ketat, keamanan juga benar-benar ketat. Kalau tanpa penonton ya tanpa penonton beneran,” ucapnya.

Penilaian lebih tegas diucapkan oleh Erik Wicaksono. Koordinator Gate 21 itu, secara pribadi, tidak setuju liga tetap digulirkan di tengah pandemi.

“Angka kasus positif di Surabaya masih sangat tinggi. Kemanusian dan kesehatan lebih penting daripada sepakbola itu sendiri,” ucap pria yang akrab disapa Cak Eyik itu.

Selain faktor kesehatan, menurut Eyik, klub juga terancam tidak mendapat pemasukan dari tiket penonton. Padahal, Persebaya merupakan salah satu klub yang mengandalkan pemasukan dari tiket penonton.

“Alasan kesehatan tetap yang utama. Tapi, kalau kompetisi bergulir tanpa penonton apakah bisa bertahan lama. Di Indonesia tiket jadi salah satu pendapatan besar sebuah klub seperti halnya Persebaya,” ucap Eyik.

“Tidak bisa dipungkiri semua suporter rindu tribun dan klub kebanggaan masing-masing, meskipun hanya di layar kaca. Tapi bagaimana caranya kita bisa segera lepas dari pandemi ini yg utama,” tandasnya. (riz)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display