Sedang Bertumbuh di Indonesia, Podcast Dianggap Menjanjikan Secara Bisnis

46
dlpng.com

EJ – Sejak dua tahun terakhir, siaran audio internet atau podcast mengalami pertumbuhan pesat di Indonesia. Tapi, apakah platform alternatif ini benar-benar menguntungkan dari sisi bisnis?

Pertumbuhan podcast di Indonesia berkembang pesat sejak Achor.fm dikenal. Berdiri sejak tahun 2014, Anchor merupakan salah satu platform distribusi podcast yang bisa digunakan secara gratis. Artinya, kini tiap orang bisa dengan mudah merekam, mengedit dan membuat siaran podcast tanpa harus memikirkan biaya langganan.

Menurut survey yang diselenggarakan situs DailySocial bekerjasama dengan Jakpat tahun 2018, sekitar 67,97 persen masyarakat Indonesia merasa familiar dengan podcast. Angka tersebut dipastikan bertambah ketika semakin banyak orang yang membuat dan mendengarkan podcast di tahun 2020 ini.

Nah, ketika jumlah dan pendengar semakin bertumbuh, apakah podcaster cukup menjanjikan secara bisnis? Dalam artian yang lebih spesifik, apakah brand-brand mau untuk mengeluarkan dana beriklan di channel podcaster Indonesia?

Apalagi, kehadiran sponsor cukup dibutuhkan mengingat podcast di Indonesia saat ini masih belum bisa dimonetisasi seperti Youtube atau seperti podcast di Amerika Serikat.

Tubagus Akmal, Manajer Produksi Box2Box Media Network mengungkapkan sedikit pandangan soal minat sponsor terhadap podcast. Pendapatnya itu ia sampaikan ketika menjadi pembicara dalam diskusi daring Belajar Bareng Media Komunitas Sepak Bola (BELABAR), Senin (6/7/2020).

Menurut Akmal, kini brand-brand di Indonesia sedang dalam posisi “kepo” terhadap media podcast.

“Sejauh ini brand masih kepo dengan podcast, jadi memang perlu edukasi. Kami, sebagai media podcast dengan network sangat banyak, mencoba mengedukasi teman-teman di agensi, brand, dan klien,” kata Akmal.

“Kami beritahukan dulu kepada mereka apa keuntungan menggunakan podcast. Karena kebanyakan brand saat ini sistemnya mencoba dulu, mereka datang ke podcast.”

Cara memperkenalkan tersebut tampaknya cukup membuahkan hasil. Meski tidak menyebut rincian secara spesifik, Akmal menyebut Box2Box masih dalam posisi “aman”.

Pendapat lebih meyakinkan diungkapkan salah satu founder Box2Box, Tio Prasetyo Utomo. Sejauh ini, eks pemimpin redaksi Four Four Two Indonesia dan Fox Sports Indonesia itu melihat podcast bisa jadi sangat menguntungkan. Menurutnya, sebagai media baru, podcast bisa jadi alternatif lain dari radio,

“Radio butuh waktu empat bulan untuk mendapat data pendengar yang pasti, sedangkan podcast hanya dua minggu. Sekarang zamannya digital, data pendengar itu dibutuhkan oleh klien. Nah, podcast bisa memberikan data itu,” beber Tio.

Lebih lanjut Tio mengakui jika market share podcast saat ini memang masih kalah jika dibandingkan dengan radio. Tapi, ini hanyalah awal. Ia percaya, dalam beberapa waktu kedepan podcast bisa menyamai atau bahkan melampaui radio.

Apalagi, hal itu didukung dengan sikap brand-brand yang tidak ingin kalah. Atau kalau bolaj dibilang, ‘latah’ dalam menyikapi perkembangan.

“Gue yakin (podcast,red) akan menuju kesana. Karena banyak banget brand-brand besar mencoba masuk ke dunia podcast,” kata Tio.

“Kan tipe orang Indonesia latah, misal brand A masuk ke podcast, terus ada saingannya brand B penasaran ‘kok saingan masuk tapi aku belum masuk podcast juga?’, akhirnya pasti ikutan juga dan itu sudah terjadi di beberapa brand Indonesia.”

“Jadi apakah (podcast) menjanjikan? Saya sangat yakin menjanjikan. Kalau nggak menjanjikan ngapain bikin Box2box Media Network?” (riz)

Komentar Artikel