Pantaskan Diri Demi Persebaya

Bonek mendukung Persebaya di GBT/Foto : Official Persebaya
Iklan

Kamis kemarin di dalam mobil saat perjalanan pulang dari kantor saya bilang ke suami, aduh ini kok rusuh ya orang-orang, kalau Pak Aza wis kesel, iso-iso mundur iki. Suami menanggapi, ga mungkin lah, sudah banyak rencana yang dibuat ke depannya.

Jumat siang saya liat IG akan ada pernyataan sikap dari Pak Aza selaku presiden Persebaya. Udah feeling ga enak, dan benar, Pak Aza mundur sebagai presiden Persebaya Surabaya. Masih mencoba mencerna di kepala, gimana ya Persebaya ke depan tanpa Pak Aza dan pikiran-pikiran negatif lainnya.

Sebagai anak seorang bonek yang sudah sejak kecil diajakin nonton bola depan TV, diceritain sama papa sepulang tretet tet ke luar kota, Persebaya sudah menjadi bagian dalam kehidupan saya. Meskipun nonton langsung di tribun baru hitungan jari karena ga pernah diijinkan haha..

Akhir musim lalu, saat hampir semua pemain meninggalkan klub ini, saya sempat bad mood berhari hari, karena menurut saya, angkatan musim lalu itu adalah paling ideal.

Iklan

Saya disadarkan sama omongan dari suami, klub sepak bola itu profesional, ada orang-orang yang bekerja di dalamnya, ngga bisa kamu nuntut semua pemain dipertahankan sedangkan harganya udah ga masuk dalam hitungan keuangan klub.

Saya langsung ingat cita-cita IPO dari Pak Aza di 100 tahun Persebaya. Oke, saya harus move on dari skuad musim lalu.

Pengumuman perekrutan musim ini dimulai, agak lega karena barisan belakang, kiper dan jajaran pelatih sebagian masih sama. Dan kabar gembiranya, Alwi Slamat dan M. Hidayat juga masih bersama Persebaya musim ini. Alhamdulillah.

Barusaha tetap optimis, sambil terus inget kalo sekarang sedang berproses, proses itu ga selalu lancar. Sampai minggu ke-7 kok maennya gini ya, entah grogi, atau bingung, atau ga paham instruksi, saya ngga tau kenapa, sampai sempat diskusi sama Pak Afif di postingan beliau tentang Mental Imagery (bisa dilihat di feed Pak Afif).

Dan sampai sekarang saya ngga nemuin apa yang salah dari tim kebanggaan saya sejak kecil ini, ya memang mereka sedang berproses, dan dalam proses, trial dan eror itu hal yang biasa.

Saya paham dengan keinginan teman-teman bonek yang ga mau tim kesayangannya jadi bulan-bulanan karena terus mengalami kekalahan, hanya saja mereka lupa kalau mereka ini juga bagian dari tim.

Apa yang mereka lakukan juga akan berdampak pada tim. Mungkin kejadian di GDS kamis lalu adalah klimaks kekesalan bonek dan juga Pak Aza. Ibarat guru dan murid yang sedang ujian, tujuan sama ingin nilai 100 tapi muridnya ngga mau belajar, pengennya cepet, udahlah nyontek aja kan beres haha…

Keputusan sudah diambil, gimana Persebaya kedepannya ngga ada yang tau, saya memilih percaya pada janji Pak Aza akan mencarikan orang yang tepat untuk memimpin Persebaya selanjutnya. Saya tetap optimis karena memang banyak yang mencintai Persebaya, mencintai bukan mengintimidasi, mencintai itu menghargai usaha dan prosesnya, mencintai itu tidak memberi makan ego sendiri.

Tetap dukung Persebaya dengan cinta, Persebaya bukan milikmu seorang tapi milik kita bersama, perbaiki dan pantaskan dirimu untuk mencintainya.

—————————–

Sampai tadi bangun tidur masih berharap mundurnya Pak Aza itu cuma gimmick haha…

Untuk Pak Aza, jika nanti kunci rumah sudah bapak berikan pada yang lain, saya berharap tetap nama bapak yang ada dalam kepemilikannya. Salam hormat, dari saya bonita pekerja kantoran yang bisa nribun cuma hari minggu.

Salam Satu Nyali, WANI

@fannyekayanti

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display