Jadilah Leader Bukan Boss

Bonek di Gelora Bung Tomo/Foto : Official Persebaya
Iklan

Dalam dunia pekerjaan, mungkin rekan-rekan sudah sering mendengar istilah Jadilah Leader bukan menjadi Boss“. Secara garis besar Bos dan Leader memiliki perbedaan yang cukup berbanding terbalik, sekalipun tugasnya sama, yaitu memimpin jalannya sebuah organisasi.

Menurut Higher Studies, boss adalah sosok yang mendominasi orang lain, baik secara gelar, status, atau cara kerja. Sementara itu, leader adalah sosok yang membimbing dan memberi pedoman, sehingga orang-orang yang dipimpinnya dapat bekerja lebih baik.

Tiga tahun yang lalu, saya masih mengingat betul saat Bonek Gruduk Sutos, usai pertandingan Persebaya vs Arema. Kedatangan ratusan Bonek bertujuan meminta pertanggungjawaban atas hasil buruk yang diterima Persebaya.

Hal yang masih teringat saat itu, Azrul Ananda datang sambil menunjuk kawan supporter dengan berteriak “ DUDUK !! “, sikap kurang elegan bagi saya sudah memberikan acungan jempol kebawah, karena sikap arrogan beliau ini yang membuat saya berfikir bahwa sepertinya orang ini akan sulit diajak berbicara untuk mencari solusi disetiap permasalahan.

Iklan

Tipikal Boss seperti ini akan mencari sebuah kebenaran dalam dirinya, terbukti kekhawatiran saya terjadi juga dilive streaming Persebaya tgl 16 September 2022 kemarin. Saya membayangkan bagaimana capeknya rekan Bonek kepada  Azrul Ananda.
Setiap menitnya kami selalu disuguhi setiap prestasi yang dihasilkan oleh beliau, mulai membahas soal pemain hingga soal Marcelino yang sudah ada sejak umur 12 tahun.

Kami tak pernah menampik semua prestasi yang dicipta namun adakalahnya jika sebuah proses malah menjadikan sebuah kegagalan, maka hal yang terbaik adalah mengajak berbicara ada permasalahan apa.

Selayaknya seorang Boss, rekan-rekan Bonek juga sulit untuk menjelaskan apa maksud kedatangan mereka kesana, pembicaraan dua arah juga tidak akan pernah terjadi, orang-orang yang merasa dirinya bos akan cendrung meminta sebuah pengakuan tanpa perlu anda memberikan sebuah saran, sekalipun harusnya seorang yang memiliki kekuasan dan jabatan lebih bijaksana dalam hal ini.

Branding yang dibuat Azrul seolah mengena ke setiap element Persebaya, soal kalau tidak ada saya Persebaya tidak selamat, soal kalau bukan saya pasti endingnya adalah orang politik dengan berbagai macam warna partai yang akan memimpin tonggak estafet organisasi.

Minimnya pengetahuan dan Startegi Brand yang berhasil menyebabkan perpecahan pendapat dari sesama Bonek bahkan orang-orang yang menggemari sepakbola.

Jika anda menginginkan sebuah reaksi, maka lihat lah setiap media sosial terbesar, bisa dari Facebook , Instagram , Twitter maupun Grup Whatsapp.
Terlebih statement soal beliau mundur dari CEO bagi saya adalah langkah yang kurang bijak sebagai pemimpin sebuah organisasi.

Lantas siapa korban sebenarnya ? siapa mereka yang harus bertanggung jawab ? jawabanya sudah jelas Bonek sebagai korban karena branding image berlebih dan Bonek yang ingin mengadakan sebuah jalan diskusi.

Pada situasi ini Bonek harus kembali ke marwahnya sebagai sebuah dewan pengawas dalam struktur organisasi, adanya sinergi antara supporter dan team dapat membuat lingkungan menjadi lebih sehat dan tidak ada saling curiga satu sama lain, namun disini bonek juga harus paham, jika terlalu dekat dengan manajemen, dikhawatirkan nantinya ada hal yang tidak diinginkan seperti era terdahulu.

Harusnya Persebaya sangat bersyukur memiliki supporter militan seperti bonek, bonek sangat beragam.
Bonek bukan hanya supporter untuk sebuah kesebelasan, di sini adalah sebuah budaya yang sudah melekat kepada setiap element masyarakat khususnya mereka yang mencintai Persebaya.
jadi tidak perlu kaget nantinya jika bonek diisi mereka yang akademisi, kelas pekerja,kaum borjuis dan lainya dalam sebuah budaya ini.

Ada baiknya saat nantinya jika jajaran manajemen khususnya dewan komisaris lebih bijaksana nantinya jika keingin Pak Azrul dikabulkan, kami berharap nantinya ada perwakilan dari bonek khususnya yang bisa ditunjuk untuk membentuk sebuah dewan pengawasan agar lebih bersinergi ke depannya.

Bagi saya yang bekerja di lingkungan industri, saya sering sekali berhadapan dengan mereka yang merasa bos dan lainya,merasa langkah yang diambil adalah langkah terbaik dan menuduh setiap orang tak pernah menghargai setiap keringatnya.

Saya berharap sungguh jika nantinya aka nada CEO yang baru, dia adalah orang yang bijaksana, orang yang mau menjadi pendengar, tau caranya berdiskusi yang baik, tau apa yang harus dilakukan untuk mencapai Gol dalam sebuah organisasi.

Bapak/Ibu Komisaris Persebaya, bukan kah kalian pernah mengahadapi situasi yang sama dengan kami? ketika ada sebuah masalah dengan apa yang kalian ciptakan, bagaimana memutar otak agar apa yang kalian ciptakan diterima baik oleh masyarakat?

Dan pesan saya untuk bonek, tetaplah menjadi bonek, sebuah kultur yang sulit tunduk, sebuah kultur yang sulit ditemukan dimana pun.
Rekan Bonek ku, menjadi pengawas adalah salah satu tugas supporter, tanpa perlu berfikir seperti Eropa soal Saham 51+49, karena Persebaya adalah milik kita, untuk apa jika punya 51% tapi kita sendiri nantinya akan kembali ke jaman lalu? Untuk apa kalian mengaku anti kapitalisme jika klub kalian masuk keadalam sebuah bursa saham ? untuk apa ?

Tetaplah sebagai Bonek ! Salam Satu Nyali, Wani !

 

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display