Sebuah Kecintaan Bonek Luar Kota Pada Persebaya

Dukungan bonek pada laga Persebaya vs Persita di Gelora Bung Tomo, Senin (1/8)/Foto : Joko Kristiono/EJ
Iklan

“Dalam hidupnya, Seorang pria bisa mengubah istri, partai politik, atau agama, tetapi tidak dapat mengubah tim sepak bola favoritnya,” – Eduardo Galeano.

Mungkin nama Eduardo Galeano sangat asing terdengar khususnya di kalangan suporter sendiri. Namun, beliau sendiri adalah penulis dan jurnalis asal Uruguay yang melahirkan karya tentang sosial, politik, budaya dan sepak bola.

Memang, jika kita memahami sepak bola, maka akan ada banyak hal yang memaksa sepak bola menjadi alat terbaik untuk mengenalkan sebuah budaya atau karakteristik sebuah daerah. Itulah, mengapa saya selalu mempertanyakan tentang mereka yang mencintai sebuah klub sepak bola, sekalipun jaraknya sangat jauh dari kota atau wilayah pendukungnya.

Saya pribadi memang mengagumi salah satu klub asal Inggris, Manchester United, dan klub asal Italia, yakni Lazio. Memang sedikit aneh rasanya, tetapi menonton pertandingan kedua klub ini dalam layar televisi membuatku secara dekat seolah-olah menjadi bagian dari klub tersebut.

Hal ini sempat kupertanyakan kepada mereka yang mengaku sebagai Bonek luar kota, bagiku sedikit menarik, mengingat bahwa banyak orang yang mencintai klub-klub Eropa nan jauh di sana, ketimbang menyukai klub sesama peserta liga Indonesia. Namun, faktanya memang benar ada individu tersebut yang rela membagi hatinya untuk mendukung Persebaya karena alasan tertentu. Sebut saja rekanku bernama Febri, dia ini kelahiran Bojonegoro dan asli Bojonegoro, kota yang berjarak 109 kilometer dari Surabaya. Bahkan kita harus menggunakan moda transportasi darat, seperti bus, mobil dan kereta api, itupun harus memakan waktu 2 – 3 jam lamanya.

Iklan

“Sebenarnya saya sudah tertarik dengan Persebaya sudah lama, setiap pertandingan yang disiarkan di televisi. Hanya Persebaya dan Persibo yang saya tunggu,” ucap Febri. Kecintaan tersebut memang secara gamblang ditunjukkan dengan mulai membeli pernak-pernik Persebaya atau menggambar tembok dekat rumah dengan slogan Persebaya.

Semakin dewasa, kecintaan terhadap Persebaya juga makin tinggi, ditambah akses informasi dan bertemu rekan baru sesama Bonek yang pada akhirnya membentuk sebuah komunitas kecil di Bojonegoro. Harapan menjadi salah satu bagian Surabaya terasa tampak nyata ketika memutuskan untuk menempuh pendidikan di salah satu universitas swasta di Surabaya.

Menjadi bonek merasa lebih dekat untuk mengakses semuanya, bahkan ada sebuah kebanggan ketika meihat megahnya Gelora Bung Tomo dan betapa indahnya sebuah sejarah Gelora 10 November. Dalam harapannya, Febri berujar, “Saya selalu berharap Persebaya bisa menjadi barometer utama klub Indonesia, khususnya klub daerah saya Persibo, saya selalu ingin melihat Persibo sebesar Persebaya dan Persibo setidaknya setara dengan Persebaya, suatu mimpi yang semoga bisa terwujud suatu hari nanti”.

Mungkin apa yang dirasakan rekanku Febri sepertinya sama halnya yang dirasakan oleh mereka yang menjadi Bonek luar kota, tetapi ada sebuah hal unik, sebuah hal yang mungkin bisa menjadi alasan lain kenapa mereka yang dari luar Surabaya bisa fanatik mendukung Persebaya daripada klub lokalnya sendiri.

Ketika melakukan research kecil, saya menemukan salah satu komunitas kecil dalam instagram, akun instagram bernama Jn27 membuatku penasaran tentang siapa mereka, dari mana, dan kenapa bisa mencintai Persebaya? Ketika memberanikan diri untuk bertanya, saya mendapatkan nomor telepon. Sebut saja Cak AN sebagai koordinator firm tersebut.
Segera kupersiapkan beberapa pertanyaan yang nantinya akan menjadi jawaban atas rasa penasaran selama ini. Dan ketika berjumpa langsung, Si Febri mengungkapkan, “Saya suka Surabaya saat masih duduk di Taman Kanak-Kanak (TK) ketika itu sedang ada kunjungan liburan ke sana, jika ditanya suka Persebaya saat medio 2006-an, menonton di televisi dan saya tertarik dengan Bonek, mereka begitu militan dan terilhat sangar bagi saya”.

Mengingat pada era tersebut militansi Bonek sudah menjadi buah bibir masyarakat. Seperti masyarakat lain yang mengidolakan tim sepak bola Eropa, berbagai hal dijadikan alasan untuk mencintai klub tersebut, sekalipun tidak pernah berada di kota atauupun daerah lainnya.

“ Saya tidak pernah bekerja ataupun hidup di Surabaya mas, jika dikatakan hati saya membelah dua, antara klub lokal atau Persebaya, jujur saya memilih Persebaya sebagai klub tunggal, hanya Persebaya mas, sekalipun saya terlahir di Pati dan besar di Pati.”, ujar pecinta ledre, makanan khas dari Bojonegoro.

Kisah cinta terhadap klub sepak bola memang sebuah tema yang menarik, lebih unik daripada catatan Romeo dan Juliet yang saling mencintai antarindividu. Berbeda dengan suporter, individu mencintai sebuah logo memang terlihat abstrak, namun hanya mereka yang paham sebuah seni saja yang bisa memahami.

Bonek luar kota bagiku layak diberikan hormat setinggi-tingginya. Sejatinya, tidak ada Bonek yang paling Bonek. Namun, jika ada penghargaan tersebut, maka Bonek luar kotalah bagiku yang berhak mendapatkan. Tidak ada laga kandang bagi mereka, apalagi jika mereka hidup atau tinggal di wilayah tanpa sepak bola “Setiap Laga Persebaya adalah Away Days!”

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display