EJ — Nama Persebaya Surabaya kembali harum di kancah internasional. Bukan sekadar mengirim wakil, Green Force berhasil mendelegasikan empat talenta terbaik jebolan Persebaya Future Lab untuk memperkuat Timnas Indonesia U-15 dalam ajang bergengsi FIFA U-15 World Cup & Festival 2026 yang dihelat di Baku, Azerbaijan, pada 24–30 Oktober 2026.
Keempat pemain muda berbakat tersebut adalah M. Hariri Maulana, Renaldy Rizky Syahreza, Rendra Maulana, and Jasshen Janneiro. Mereka menjadi bagian dari 14 pemain pilihan yang dipercaya pelatih Furqon Alkatiri untuk mengibarkan panji Merah Putih di panggung dunia.
Keberhasilan ini disambut penuh rasa bangga oleh Kepala Persebaya Future Lab, Ganesha Putera. Menurutnya, pencapaian ini membuktikan bahwa kurikulum dan orientasi pembinaan internal klub yang menitikberatkan pada pengembangan kemampuan individual telah berada di jalur yang benar.
“Sebuah kegembiraan tentunya empat dari 14 pemain Timnas di Piala Dunia U-15 ini berasal dari Persebaya. Artinya, orientasi pembinaan klub yang terfokus pada pengembangan individual sudah berada di trek yang benar,” ungkap Ganesha, Sabtu (24/10).
Buah dari Scouting Panjang di EPA 2025–2026
Terpilihnya keempat pemain ini tidak diraih dengan instan. Ganesha mengungkapkan bahwa pemanggilan mereka merupakan hasil dari proses pemantauan (scouting) jangka panjang yang ketat oleh tim PSSI dan I.League, baik melalui pengamatan langsung di lapangan maupun lewat rekaman video sepanjang bergulirnya kompetisi Elite Pro Academy (EPA) musim 2025–2026.
Kerja keras para pemain, pelatih akademi, hingga klub-klub internal pembinanya sejak usia dini kini berbuah manis di panggung global.
Menimba Ilmu, Merajut Relasi Multibudaya di Baku
Tampil di turnamen dunia dengan format 8 pemain melawan 8 di lapangan berukuran 68 x 47 meter memberikan tantangan tersendiri bagi Garuda Muda. Bergabung di Grup G bersama Bangladesh, Burundi, Fiji, Portugal, dan Wales, Indonesia langsung membuka turnamen dengan kemenangan gemilang 7-1 atas Fiji, di mana dua penggawa Persebaya, Renaldy Rizky Syahreza dan Jasshen Janneiro, dipercaya turun sebagai starter.
Namun, bagi Ganesha Putera, nilai dari keikutsertaan ini jauh melampaui sekadar hasil di papan skor. Ia berpesan agar para pemain memanfaatkan kesempatan emas di Baku untuk menyerap ilmu sepak bola modern sekaligus memperluas wawasan internasional.
“Bisa belajar dari kebiasaan top profesional pemain muda negara maju. Menganalisis bagaimana mereka melihat, mengambil keputusan, dan mengeksekusi berbagai aksi sepak bola,” pesannya.
Tidak hanya urusan taktik di atas rumput hijau, Ganesha juga mendorong para pemain muda ini untuk menikmati pengalaman berinteraksi dengan anak-anak muda dari berbagai belahan dunia. Pertemuan lintas negara ini dinilai sebagai momentum berharga untuk menempa karakter yang terbuka dan toleran.
“Ketika seluruh negara di planet ini berkumpul di Baku, mempelajari multibudaya dan bahasa adalah kemewahan. Jalinlah relasi sosial internasional sebanyak mungkin dan rayakan perbedaan dengan toleran yang bermartabat,” tandas Ganesha.
Dengan mentalitas Wani yang mendarah daging, kehadiran empat talenta Persebaya Future Lab di Azerbaijan diharapkan tidak hanya menjadi batu loncatan bagi karier profesional mereka di masa depan, tetapi juga inspirasi bagi pembinaan sepak bola usia dini di seluruh Indonesia.










