Apa Manfaat Agenda Fight di Atas Ring?

Gelora Bung Tomo/Foto: Joko Kristiono
Iklan
Ketika identitas kolektif dibangun di atas konflik dan pembuktian superioritas, maka proses pendewasaan kultur sepak bola menjadi jauh lebih sulit.

Rencana agenda fight yang melibatkan tokoh suporter melalui promotor di Ring Entertainment memang bisa dianggap sebagai hiburan atau simbol adu gengsi. Namun jika dilihat lebih dalam, agenda semacam ini justru memiliki banyak risiko sosial yang jauh lebih besar dibanding manfaatnya, terutama dalam konteks hubungan panjang antara Aremania dan Bonek yang selama ini memiliki sejarah rivalitas emosional cukup kuat.

Pertama, kegiatan semacam ini berpotensi memperuncing relasi antar kelompok suporter. Meski dikemas dalam konsep sport entertainment atau duel terorganisir, persepsi di akar rumput tidak selalu sama. Banyak anggota suporter bisa melihatnya sebagai representasi harga diri kelompok. Ketika salah satu pihak kalah, muncul potensi ejekan, provokasi, meme penghinaan, hingga perang narasi di media sosial yang dapat memperpanjang konflik emosional antar basis massa.

Kedua, agenda tersebut berisiko menciptakan legitimasi baru terhadap budaya kekerasan. Dalam situasi sepak bola Indonesia yang masih berupaya memperbaiki citra pasca Tragedi Kanjuruhan, publik sebenarnya membutuhkan contoh edukasi, rekonsiliasi, dan pendewasaan suporter. Jika figur-figur leader justru tampil dalam agenda adu fisik, maka pesan yang sampai ke suporter muda bisa menjadi ambigu: bahwa konflik dapat diselesaikan melalui duel dan kekuatan fisik.

Ketiga, ada risiko efek turunan yang sulit dikontrol. Awalnya mungkin hanya “fight resmi”, tetapi kultur rivalitas suporter sering kali tidak berhenti di arena acara. Potensi munculnya tantangan antar kelompok kecil, sweeping, konvoi provokatif, hingga bentrokan lanjutan dapat meningkat karena ada atmosfer kompetisi dan pembuktian harga diri. Dalam konteks massa besar seperti Bonek dan Aremania, gesekan kecil saja bisa berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Iklan

Keempat, secara psikologis acara ini dapat memperkuat identitas “kami versus mereka”. Dalam rivalitas suporter, hal paling berbahaya bukan hanya kekerasan fisik, tetapi terbentuknya mentalitas bahwa kelompok lain adalah musuh permanen. Ketika identitas kolektif dibangun di atas konflik dan pembuktian superioritas, maka proses pendewasaan kultur sepak bola menjadi jauh lebih sulit.

Selain itu, ada kemungkinan pihak luar memanfaatkan momentum ini demi popularitas, konten, atau keuntungan ekonomi tanpa benar-benar memikirkan dampak sosial jangka panjang di lapangan. Ketika tensi meningkat dan terjadi kericuhan lanjutan, pihak yang paling terdampak justru suporter biasa, masyarakat sekitar, aparat keamanan, hingga citra sepak bola nasional secara keseluruhan.

Sepak bola Indonesia saat ini lebih membutuhkan figur suporter yang mampu menjadi jembatan perdamaian, memberi edukasi, dan menunjukkan bahwa rivalitas bisa tetap hidup tanpa kebencian dan kekerasan.

Rivalitas yang sehat seharusnya diwujudkan lewat kreativitas tribun, koreografi, loyalitas mendukung klub, kegiatan sosial, dan atmosfer stadion, bukan adu fisik yang berisiko membuka luka baru di kemudian hari. Cukuplah tragedi Kanjuruhan sebagai pengingat kita semua.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display