EJ – Anniversary Game Persebaya saat menghadapi PSIS (19/7) akan ada beberapa moment mengenang Andie Peci. Kabar duka menyelimuti keluarga besar Persebaya. Salah satu tokoh penting Bonek, Andie “Peci” Kristianto, berpulang pada Jumat (10/7) pukul 11.15 WIB di RSUD dr. Mohamad Soewandhie, Surabaya.
Kepergian pria yang akrab disapa Cak Andie itu meninggalkan kesedihan mendalam bagi banyak pihak, terutama keluarga besar Persebaya dan Bonek yang selama ini mengenalnya sebagai sosok yang setia mengawal perjalanan Green Force dalam berbagai situasi.
Andie Peci lahir di Madiun, Jawa Timur. Selain dikenal sebagai pentolan Bonek, ia juga aktif sebagai pegiat buruh dan menjadi bagian dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). Rencananya, jenazah almarhum akan dimakamkan di Desa Manisrejo, Madiun.
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan Persebaya, Ram Surahman, mengaku sangat kehilangan atas wafatnya sosok yang selama ini dikenal dekat dengan perjuangan Persebaya.
“Kami sangat berduka atas kepergian Cak Andie. Beliau adalah sosok yang memiliki kecintaan luar biasa kepada Persebaya. Banyak kontribusi dan perjuangan yang telah beliau berikan untuk klub ini, terutama pada masa-masa sulit yang pernah dilalui Persebaya,” ujar Ram.
Menurut Ram, Andie Peci merupakan figur yang selalu memegang teguh prinsip dan keyakinannya dalam memperjuangkan apa yang dianggap benar demi masa depan Persebaya.
“Beliau dikenal sebagai pribadi yang berintegritas, berani menyuarakan kebenaran, dan memiliki kepedulian besar terhadap Persebaya. Semangat serta dedikasi yang ditunjukkan selama ini akan selalu menjadi bagian dari perjalanan sejarah klub,” tambahnya.
Nama Andie Peci memang memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Persebaya. Saat klub menghadapi masa-masa sulit akibat konflik dualisme dan kehilangan status keanggotaan di PSSI, ia menjadi salah satu sosok yang berada di garis depan bersama elemen-elemen Bonek lainnya untuk memperjuangkan kembalinya Persebaya ke kompetisi resmi.
Di tengah situasi ketika Persebaya tidak diakui federasi dan harus menjalani masa-masa penuh ketidakpastian, kecintaan Andie terhadap Green Force tidak pernah surut. Bersama banyak pihak, ia terus mengawal perjuangan hingga akhirnya Persebaya kembali mendapatkan pengakuan dan kembali berlaga di kompetisi resmi pada 2017.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan dedikasinya, Persebaya akan mengenakan pita hitam serta menggelar satu menit mengheningkan cipta sebelum kick-off laga 99 Anniversary Game menghadapi PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (12/7).
“Kami ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Cak Andie atas segala dedikasi, pengorbanan, dan kecintaannya kepada Persebaya. Pita hitam dan mengheningkan cipta menjadi simbol rasa hormat sekaligus doa dari seluruh keluarga besar Persebaya untuk beliau,” ujar Ram.
Selain mengenakan pita hitam dan menggelar satu menit mengheningkan cipta sebelum pertandingan, Persebaya juga menyiapkan sejumlah bentuk penghormatan khusus untuk mengenang sosok Andie Peci.
Setelah laga melawan PSIS Semarang berakhir, akan diputar film pendek yang mengisahkan perjalanan dan perjuangan Andie Peci melalui videotron Stadion Gelora Bung Tomo.
Tak hanya itu, Persebaya juga menghadirkan wall of condolences yang dapat menjadi ruang bagi Bonek, Bonita, dan seluruh elemen keluarga besar Persebaya untuk menyampaikan pesan, doa, serta ungkapan belasungkawa.
Sebuah kursi di area VIP Stadion Gelora Bung Tomo juga akan dikhususkan dengan pemasangan foto Andie Peci sebagai simbol bahwa sosoknya akan selalu memiliki tempat istimewa dalam perjalanan Persebaya.
Penghormatan tersebut menjadi wujud rasa terima kasih dan penghargaan kepada sosok yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang Persebaya. Di tengah perayaan menuju usia 100 tahun, Green Force tidak melupakan mereka yang turut menjaga nyala perjuangan klub hingga tetap berdiri kokoh sampai hari ini.
Sugeng tindak, Cak Andie. Terima kasih atas perjuangan dan cintamu untuk Persebaya










