Hai Bung, Kami Kembali!

Foto: Dwi Susanto.

Ujung Galuh begitu sibuk di minggu itu. Awan sejuk yang menyelimuti siap menyambut kerinduan besar yang sudah lama dielu-elukan. Rindu yang diperjuangkan.

Sebuah nama, laiknya magnet, bergelora di barat Ujung Galuh menarik kerinduan-kerinduan yang lama tak tersampai.

Para perindu yang tak sabar. tak sabar menumpahkan seluruh kegelisahan. Hijau di Ujung Galuh di minggu itu bukanlah sulap besar penguasa yang menumbukan puluhan ribu pepohonan bagai air mengalir. Hijau itu hijau kebanggaan, sebuah kebanggaan besar yang terpatri ke jiwa raga. Detik yang dirindu itu bergulir, sejuta ekspresi meluap-luap bersama cita, cinta dan cipta. Pasukan Angin Tuhan menyertai deret langkah para perindu, menyeretnya merdu.

Senja yang memerah jingga turut tersenyum atas saksi kembalinya sang Raja. Langit yang haru pun juga meneteskan air mata nya yang membasahi sekujur puluhan ribu perindu.

Kekuatan hati, kunci perindu terbuktikan di tajuk yang berdurasi 2×45 menit itu. Beton keras berisi enam puluh ribu nyali kembali riang bercengkerama dengan hampir lebih seratus ribu para perindu yang menggebu-gebu.

Sang Raja sibuk menyiapkan diri untuk kembali menegaskan nama besarnya, mengibarkan bendera kebesarannya, dan menyebarkan berita besar…

“HAI BUNG… KAMI KEMBALI!”