Menggagas Wisata Bola di Kota Surabaya

museum
Foto: demotiximages.com
Iklan

Beberapa hari yang lalu ada tulisan yang menarik di Emosi Jiwaku berjudul Sudah Saatnya Persebaya Punya Museum Sendiri. Tentu dalam hal ini semua kalangan pasti akan mengamininya. Termasuk saya.

Tapi, tantangannya sangat besar. Sebab, banyak kepingan puzzle yang berceceran. Andai kata puzzle itu bisa tersusun, mungkin akan terasa sempurna jika nantinya ada penelitian tentang Persebaya. Tapi, di situlah letak tantangannya ketika kita ingin melakukan penelitian atau penulisan tentang sejarah. Mulai dari heuristik hingga historiografi. Meminjam kalimat dari teman-teman Bajuliji.net, “Persebaya Lebih Besar dari yang Kalian Kira”.

Well, kembali ke pembahasan tentang museum Persebaya. Fungsi museum sendiri tidak sekadar datang berkunjung dan melihat barang-barang yang ditampilkan kemudian pulang. Lebih dari itu, museum berfungsi sebagai tempat aktualisasi dokumen dan visualisasi sejarah. Untuk saat ini, saya yakin kita akan lebih tertarik dengan tampilan visual daripada tulisan.

Nah, museum akan benar-benar bermanfaat ketika kita menampilkan sebuah benda atau foto di masa lampau. Hanya, dengan hal itu kita bisa berimajinasi dan membayangkan, “Oh jadi dulu itu seperti ini ya”. Atau, “Dulu seperti ini saja bisa, seharusnya sekarang juga bisa”.

Iklan

Kalimat terakhir ini juga menunjukkan salah satu fungsi sejarah ataupun museum itu sendiri. Bercermin dari masa lampau untuk masa depan yang lebih baik.

Jika memang manajeman Persebaya atau siapapun yang bertanggung jawab terhadap Persebaya tidak mempunyai misi untuk membuat museum, iseng-iseng kita bisa membuat museum mini Persebaya. Ide museum mini ini pernah saya sampaikan beberapa tahun yang lalu saat mendekati hari jadi Persebaya. Namun, tidak terealisasi. Ya, sudahlah.

Apa itu museum mini Persebaya? Sederhana saja, kok. Kumpulkan jersey-jersey Persebaya dari masa ke masa, sepatu pemain, ban kapten, tiket pertandingan, foto-foto atau bahkan sekadar sobekan koran. Percaya atau tidak? Hanya dengan benda-benda tersebut akan mampu memunculkan cerita yang panjang.

Pernah, dosen Museologi saya berkata, “Sebuah benda jika itu berasal dari masa lalu akan memunculkan sebuah romantisme di masa lalu.” Setuju? Buktikan saja sendiri.

Tapi, ada lagi yang lebih menarik dari sekadar keberadaan museum Persebaya, yaitu wisata bola Surabaya. Kenapa wisata bola? Asal penggunaan nama tersebut saya dapatkan dari almarhum Supangat yang pernah membuat program itu sebelum akhirnya diajak kerjasama oleh Jawa Pos yang muncul dengan nama Tret tet tet. Tapi, wisata bola yang diusung almarhum Pak Pangat dengan apa yang saya maksud ini berbeda.

Wisata bola ala Pak Pangat adalah Tret tet tet atau yang selama ini kita kenal dengan nama away day. Saat mengikuti tim bertandang ke luar kota, suporter berkunjung ke tempat-tempat wisata yang berdekatan dengan stadion lawan.

Sedangkan wisata bola Surabaya di sini hampir sama dengan city tour bersama Surabaya Heritage Track (SHT). Namun, hanya beda konsep dan destinasinya. Jika SHT mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah di Surabaya, wisata bola mengunjungi tempat-tempat bersejarah sepak bola di Surabaya. Potensi untuk menggarapnya ada. Sebab, sejarah Kota Surabaya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Persebaya.

Seperti kita tahu, Persebaya didirikan pada 1927. Bahkan sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Bagaimana sepak bola bisa menjadi alat perjuangan kemerdekaan, dan di mana saja lokasi tempat para pejuang sepak bola itu berkumpul, adalah beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk wisata bola.

Itu belum termasuk klub-klub internal yang mewakili sekian banyak elemen etnis, kelas sosial, dan kelompok masyarakat yang ikut menopang Kota Surabaya. Wisata bola bakal tidak hanya sempit soal prestasi di lapangan hijau. Tapi juga soal membangun multikulturalisme, pluralisme, dari sekian banyak perbedaan di Kota Pahlawan.

Dengan adanya wisata bola dan museum Persebaya, kita akan sadar betapa panjangnya sejarah klub ini dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial warganya. Dan upaya-upaya untuk menghapuskannya dari catatan sejarah dunia akan terus mendapat perlawanan. Dengan demikian, keyakinan kita terhadap Persebaya tak hanya sekadar jargon. Bahwa Persebaya memang benar-benar lebih besar dari yang kita kira.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display