Bagaimana Sikap Bonek Jika Pembekuan PSSI Dicabut?

pssi
Foto: liputan6.com
Iklan

Kabar pencabutan pembekuan PSSI bersliweran di media sosial sejak Rabu (24/2) siang. Kabar ini berawal dari pertemuan antara Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menpora Imam Nahrawi, dan Ketua Komite Ad Hoc Reformasi PSSI Agum Gumelar. Semua stake holder sepakbola nusantara langsung berpendapat menanggapi kabar tersebut.

Bonek sebagai pendukung klub Persebaya juga mempunyai pendapat. Bagaimana sebaiknya Bonek bersikap?

Ada baiknya kita lihat dulu penjelasan resmi dari Menpora melalui akun twitter resminya @Kemenpora_RI. Menpora menegaskan jika Surat Keputusan (SK) RI No 01307/2015 tanggal 17 April 2015 tentang Pengenaan Sanksi Administratif Kegiatan Keolahragaan PSSI akan ditinjau kembali dalam minggu ini. Peninjauan ini harus sesuai tuntutan semangat menegakkan reformasi sepakbola nasional. Pernyataan resminya bisa dilihat di bawah ini:

Cuitan @Kemenpora_RI.
Cuitan @Kemenpora_RI.

Sebagai klub yang belum diakui PSSI, ini akan membuat bonek ikut memikirkannya. Perjuangan selama enam tahun memang sangat berat. Selain mengembalikan Persebaya menjadi anggota federasi, tentu Bonek tidak boleh melupakan reformasi di tubuh manajemen Persebaya.

Iklan

Membaca cuitan Menpora, kita bisa menilai jika garis besarnya adalah tata kelola sepakbola yang lebih baik. Ini juga berlaku di level internal Persebaya sendiri. Apakah manajemen Persebaya sudah melakukan apa yang diminta Menpora? Semua pasti menjawab belum.

Jika SK pembekuan PSSI resmi dicabut, apakah Bonek ikut senang atau malah sebaliknya? Tentu Bonek bisa senang, bisa juga tidak.

Mereka senang karena dengan aktifnya PSSI maka ada peluang untuk mengembalikan Persebaya menjadi anggota PSSI.

Jika kita tengok secara mendalam, terdapat nama Persebaya Surabaya sebagai anggota PSSI, AFC, FIFA. Saya yakin jika Persebaya masih tercantum resmi. Bukan Jemursari United atau Wonokromo United. Ini penting karena Persebaya hidup dan berdomisili di Indonesia. Tentu saja butuh pengakuan PSSI untuk ikut kompetisi.

Sementara Bonek yang memilih tidak senang dengan pencabutan SK tentu punya alasan. Faktor pemicunya adalah internal Persebaya yaitu manajemen klub. Jika SK itu dicabut, tentu roda organisasi akan berputar dan kompetisi Liga Indonesia akan kembali digulirkan. Trus apa hubungannya?

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan manajemen Persebaya. Masalah tunggakan gaji pelatih dan pemain tentu harus diselesaikan.

Menurut saya, yang secepatnya harus dilakukan adalah perbaiki rumah beserta isinya, Jika memang sudah saatnya, kita harus berani ganti genting, plafon, rangka, atau merubuhkan dulu bangunannya untuk kemudian diganti yang baru. Semua demi perbaikan struktur bangunan untuk menghadapi masa depan lebih baik.

Semua Bonek pasti rindu tribun dan kompetisi. Tetapi kalau hanya mengulang hal yang sudah-sudah, justru bakal mematikan Persebaya lebih lama. Apakah kita rela meninggalkan mayat bernama Persebaya kepada anak cucu kita? Persebaya hanya akan jadi cerita legenda. Atau mungkin hanya mitos bagi generasi bonek mendatang. Jangan sampai ini terjadi.

Biarkan pencabutan SK diurusi orang-orang di Jakarta. Mari kita bangun pondasi Persebaya untuk masa depan. Jangan lupa dalam perjuangannya, Bonek mengenal slogan yang dahsyat: Tak Kan Ada Kata Lelah untuk Persebaya. (*)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display