Serial Ferril Hattu (5): Emas SEA Games Jadi Kado Pernikahan 

Ferril Hattu.
Iklan

Usia yang terus merambah tua membuat Ferril sudah ancang-ancang pensiun. Apalagi, cedera membuatnya harus meninggalkan timnas Indonesia.

***

Keberhasilan menjadi juara SEA Games 1991 membuat nama Ferril Hattu mendapat banyak sanjungan. Salah satunya dari daerahnya sendiri, Jawa Timur.

Lelaki yang kini berusia 54 tahun tersebut dinobatkan sebagai atlet terbaik Jawa Timur 1991. Di tahun tersebut, dia menjadi atlet paling menonjal dari provinsi paling timur Pulau Jawa selama tahun tersebut.

Iklan

”Ini penghargaannya,” kata Ferril sambil memegang sebuah kayu seukuran 20 sentimeter tersebut.

Pulang dari SEA Games 1991, dia juga membuka lembaran baru. Ferril mempersunting gadis ketururun Solo, Jawa Tengah, yang tinggal di Gresik, Nurul Hasanah.

”SEA Games dilaksanakan November, saya menikah pada 21 Desember 1991. Jadi emas SEA Games bisa disebut menjadi kado pernikahan,” kenangnya.

Di klubnya, Petrokimia Putra Gresik, Ferril tetap menjadi andalan. Sayang, cedera menimpa dia pada musim 1993.

”Saya disekolahkan ke Belanda untuk menimba ilmu di sana sebagai pelatih. Saya melakukannya pada Agustus 1993 hingga Desember 1993,” lanjut lelaki yang memulai karirnya sebagai gelandang serang tersebut.

Di bawah naungan KNVB (Asosisasi Sepak Bola Belanda), Ferril ditempa di klub Feyenoord. Dengan ilmu yang dimiliki, dia dipromosikan menjadi asisten pelatih.

”Saat Liga Indonesia digelar pada musim 1994/1995, saya sudah asisten pelatih. Posisi kepala dipegang Andi Teguh (alm),” terang dia.

Saat menjalankan tugasnya, Ferril terlibat dalam rekrutmen pemain, termasuk penggawa asing. Dia termasuk jeli dalam mendapatkannya.

Petrokimia akhirnya mendapatkan kiper Darryl Sinerine dari Trininad-Tobago dan dua pemain Brasil yang akhirnya menjadi bintang di sepak bola Indonesia, Carlos de Mello di lini tengah dan Jacksen F. Tiago di depan.

Kolaborasi Ferril dan Andi Teguh tergolong sukses.Hanya, di babak final, Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra Gresik, kalah 0-1 dalam final yang dilaksanakan di Stadion Senayan, Jakarta.

”Kesibukan di kantor membuat saya tak bisa lama menjadi pelatih. Saya juga memilih konsentrasi kerja,” ujar lelaki kelahiran 9 Agustus 1962 tersebut.

Ternyata, pilihan Ferril tak salah. Pelan tapi pasti, karirnya di Petrokimia, yang merupakan pabrik pupuk, terus naik.

Hingga pada 2012 hingga September 2014, dia menjadi petinggi di Jakarta. Usai balik dari ibu kota, Ferril mendapat kepercayaan menjadi direktur dari anak perusahaan Petrokimia, PT Graha Sarana Gresik Property.

”Tugasnya mengurusi jual-beli rumah, pergudangan, dan juga travel. Setahun harus bisa mendapatkan 200 Miliar,” ungkap Ferril. (Bersambung)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display