Ketahuilah Yogyakarta, Bonek Berwajah Ramah

Catatan Sekitar Laga di SSA

Bonek di Stadion SUltan Agung Bantul. Foto: Nova for EJ.

Dan untuk paras dan resam seindah itu rasanya tak diperlukan sesuatu perhiasan. Bahkan telanjang bulat pun masih akan tetap indah. Keindahan karunia para dewa itu masih tetap lebih unggul daripada rekaan orang. Dengan segala perhiasan dari laut dan bumi ia kelihatan jadi orang asing. Sedang pakaian yang tiada biasa dikenakannya itu membikin gerak-geriknya menjadi seperti boneka kayu. Keluwesannya hilang. Segala yang ada padanya diliputi keseakanan. Tapi tak apalah, yang indah akan tetap indah. Hanya aku yang harus pandai menyingkirkan keberlebihannya.” (Gumam Minke saat melihat sosok Annelies, dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer).

BACA:  “Penyakit” Lini Belakang Persebaya, Kapan Warase?

Penulis awali tulisan ini dengan mengutip kalimat yang dilukiskan Pram dengan begitu imajinatif tapi tetap realistis. Tentang sosok Annelis yang digambarkan laksana bidadari an sich. Dengan tetap dengan gaya ‘realisme sosialis’, Pram menunjukkan semangat berbeda dari kebanyakan mata memandang suatu keindahan. Pram lebih dalam melihat ‘keindahan’ melalui lensa substansial: yang indah akan tetap indah.

Sama dengan yang dilakukan Pram kala melihat suatu hal lebih subtil, penulis ingin mengajak kepada pembaca terutama Yogyakarta untuk memandang Bonek lewat sudut pandang ‘apa adanya’ tanpa diper-lebay. Bonek berwajah ramah, begitulah seharusnya. Bonek berwajah marah, itu kecelakaan sejarah dan-toh-hanya insidentil suatu masa-peristiwa. Itu berarti, standing position penulis terkait ‘keramahan’ adalah upaya merawat kritisisme supaya tidak terjebak pada hal yang bersifat reduksionis, yakni memposisikan Bonek secara objektif. Agar i’tikad itu bisa tercapai, maka penulis akan menggunakan rumusan tentang ‘bagaimana publik Jogja dan sekitarnya memandang Bonek’ sekaligus ‘bagaimana Bonek merawat kepercayaan publik’. Satu hal yang perlu dicatat, meski tulisan ini mengambil kajian di Jogja, terutama Bantul juga, tetapi tulisan ini tidak berarti menafikan kejadian serupa di daerah lainnya, hanya saja sejauh ini kondisi Jogja sangatlah berbeda.

Halaman 1 2 3 4 5 6 7

Komentar Artikel