Arogansi Panpel, Profesional atau Bebal?

Bonek mengantri pemeriksaan tiket di Stadion GBT. Foto: IWan Iwe/EJ

Kekerasan sebenarnya sebentuk kebodohan juga. Manusia yang cerdas dengan sendirinya tidak suka kekerasan karena manusia yang suka kekerasan lebih dekat dengan dunia binatang buas daripada makhluk manusia yang bermartabat. Jika kekerasan bodoh menjawab kekerasan yang bodoh juga, akan ke mana nasion kita? (Y.B. Mangunwijaya, Politik Hati Nurani).

Laga melawan PSIM (18/05) telah usai. Hasil imbang menjadi buah tangan para elemen Persebaya yang hadir di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul. Meski demikian, berhentinya pertandingan tidak lantas hanya menyisakan telapak kaki di lapangan. Suatu kritik permainan, analisis taktik, serta kejadian-kejadian yang mengitari perjumpaan kedua tim pendiri PSSI itu, pun musti dihadirkan. Terlebih bagi suporter tim tamu-Bonek Mania-, pemberian catatan sebagaimana tersebut di atas tampaknya wajib dituliskan, terutama mengenai perbedaan atmosfer sebelum masuk stadion, bahwa apa yang dilakukan Panpel laga kemarin sangat jauh berbeda dengan yang dialami Bonek tatkala hadir di rumahnya sendiri, Surabaya, penulis yakin itu. Walhasil, meski Panpel laga kemarin tidak terlalu mendikte dan arogan ‘ketat’ dalam memeriksa suporter, tetapi sama sekali tidak muncul hal-hal yang dilarang, seperti flare dan sajam. Suporter telah dewasa sekaligus membantah tuduhan miring pelaksana laga.

Halaman 1 2 3 4 5 6 7

Komentar Artikel

BACA:  Om, Kami Juga Mbonek Lo