Gara-gara Foto Setitik, Rusak Maskot Persebaya

Foto saat Jojo dan Zoro dengan sukarela tanpa dibayar datang untuk meramaikan acara di jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga yang kebetulan saya menjadi sie acaranya.
Iklan

Insiden itu terjadi ketika beredar foto maskot Persebaya yaitu Jojo dan Zoro saat menghibur di sebuah acara salah satu sponsor Persebaya yang berlokasi di Mall Jalan Tunjungan. Fotonya dinilai sensitif memang, karena yang mengajak foto sedang memakai kaos yang dikatakan rival abadi Persebaya.

Berbagai sambutan buruk dari khalayakpun muncul dan seketika itu Jojo dan Zoro berani meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Tapi apa yang terjadi? Permintaan maaf hanyalah tinggal permintaan maaf. Berbagai hujatan masih tetap saja muncul bahkan ada yang bernada seperti ingin mengganti maskot Persebaya atau mendingan Persebaya tanpa maskot saja. Menurut saya itu sudah keterlaluan.

Jika melihat perjalanan dari dua maskot ini, menurut mereka merupakan salah satu maskot yang luar biasa untuk sebuah klub sepak bola. Jojo dan Zoro hadir ketika tim ini (Persebaya) dalam ketidakjelasan. Meminjam kata Anies Baswedan (dalam penjelasannya terkait dengan Partai Arab Indonesia), apa yang dilakukan oleh Jojo dan Zoro adalah “nekat”. Nekat karena maskot ini muncul ketika Persebaya sedang mengalami mati suri. Bahkan Jojo sudah melakukannya jauh.

Bayangkan saja apabila Persebaya saat ini masih mengalami keadaan yang sama seperti beberapa tahun lalu, apakah lantas dua maskot ini akan gentar dan mengundurkan diri jadi maskot? Kalau kata Antony Sutton, penulis dari Sepak Bola Indonesian Way of Life, Jojo dan Zoro (bersama kawan Bonek lainnya) berusaha tetap menghidupkan Persebaya meskipun klub dalam keadaan yang tanpa kejelasan.

Iklan

Jojo dan Zoro rela tanpa dibayar menghibur temen-temen Bonek khususnya bagi anak-anak karena sesuai tujuan awalnya adalah agar Persebaya dan Bonek ramah terhadap anak-anak (meskipun hal ini tidak berlaku sekarang karena sudah mendapat kontrak dari manajemen Persebaya).

Sesama pecinta Persebaya, bukankah lebih baik menerima permintaan maaf dari Jojo dan Zoro. Apalagi ditambah dengan keadaan yang kebetulan sedang berada di bulan suci Ramadhan. Permintaan maaf dari Jojo dan Zoro menurut saya pribadi sudah merupakan wujud tanda keberanian itu sendiri. Keberanian mengungkapkan kalau dirinya sedang bersalah.

Dua maskot ini juga manusia yang bisa saja melakukan kesalahan dan perlu ditegur dengan cara-cara yang sopan. Seperti kata Emha Ainun Najib atau Cak Nun “Orang boleh salah, agar dengan demikian Ia berpeluang menemukan kebenaran dengan proses autentiknya sendiri”.

Dari Saya untuk Jojo dan Zoro tetap semangat meramahkan Persebaya dan Bonek, stadion akan nampak kurang tanpa kehadiran kalian berdua. (*)

*) Opini ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab emosijiwaku.com.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display