Mengapa Sebaiknya Bonek Menghentikan Tradisi Estafetan untuk Dukung Persebaya

Foto: Dok. pribadi Bonek Hoofdbureau.

Estafetan sudah menjadi tradisi Bonek sejak lama. Ini adalah cara sebagian Bonek untuk mendukung Persebaya, terutama di luar kandang. Mereka akan menumpang kendaraan dari satu kota ke kota lain hingga sampai ke kota tujuan di mana Persebaya berlaga. Minimnya dana untuk transportasi menjadi alasan mengapa sebagian Bonek masih bertahan dengan cara itu.

Aksi Bonek estafetan terkadang menuai pujian. Kenekatan mereka mempertaruhkan tenaga bahkan nyawa untuk mendukung Persebaya banyak diacungi jempol. Ada sisi heroik yang mengiringi perjalanan mereka. Tradisi ini terus bertahan dari tahun ke tahun dan menjadi ciri khas Bonek.

Sayangnya banyak aksi negatif yang dilakukan sebagian Bonek, terutama kriminal, setiap Persebaya berlaga di luar kandang. Diakui atau tidak, aksi-aksi itu sebagian besar berasal dari kelompok Bonek yang melakukan tradisi estafetan. Polanya selalu berulang. Laporan menyebutkan, satu atau dua hari sebelum hari H, ada kejadian seperti perampasan truk buah, oleh kelompok Bonek yang menumpang kendaraan. Atau aksi pencurian di sebuah rumah makan yang diduga dilakukan Bonek.

Banyaknya laporan tersebut membuat warga yang kotanya dilalui Bonek bereaksi. Mereka mencegat Bonek yang datang belakangan untuk dimintai pertanggungjawaban. Bonek yang tidak merasa melakukan aksi seperti yang dituduhkan kemudian melawan sehingga terjadi aksi tawuran antara Bonek dan warga. Hal inilah yang sering dijadikan alasan bagi pihak keamanan untuk melarang Bonek berkunjung ke sebuah kota.

Memang tidak semua Bonek estafetan melakukan aksi negatif. Saya juga tidak punya kapasitas untuk melarang Bonek meneruskan tradisi itu. Namun saya menyarankan agar Bonek menghentikan tradisi estafetan. Ada beberapa alasan mengapa sebaiknya Bonek menghentikan tradisi itu.

  1. Adanya pelanggaran hukum saat ada yang menumpang angkutan barang

UU nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 303 menyatakan bahwa Setiap orang yang mengemudikan mobil barang untuk mengangkut orang kecuali dengan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 ayat 4 huruf a, huruf b, dan huruf c dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Bonek yang menumpang kendaraan seperti truk, tronton, mobil pick up, sejatinya bisa membuat sopirnya dipenjara dan denda. Sayangnya, seringkali pelanggaran itu dibiarkan pihak kepolisian. Buktinya, masih banyak Bonek yang bisa menumpang angkutan barang dengan bebas. Sebagai Bonek yang taat hukum, semestinya kita tidak akan membiarkan pihak lain seperti sopir, dirugikan dengan aksi-aksi yang kita lakukan.

  1. Rawan kecelakaan

Setiap Persebaya berlaga, sering terjadi kecelakaan yang melibatkan Bonek estafetan. Entah itu jatuh dari truk, tertabrak saat akan naik angkutan, dll. Tak hanya korban luka, namun sering kali memakan korban jiwa. Angkutan barang memang tidak boleh digunakan untuk mengangkut orang karena tidak adanya standar keselamatan bagi orang-orang yang menaikinya.

  1. Rentan disusupi para pelaku kriminal

Menjadi Bonek itu mudah. Kita cukup memakai baju Bonek dan Persebaya berwarna hijau maka kita sudah sah menjadi Bonek. Karena Bonek tidak mengenal struktur organisasi dan kepemimpinan sehingga berbeda jika dibanding Jakmania, Viking, atau Aremania. Ketiga kelompok suporter tersebut mempunyai pemimpin dan struktur organisasi yang jelas. Ada syarat-syarat tertentu jika ingin menjadi anggota.

BACA:  Kalau Kalian Gagal Move On, Kami Bisa Apa?

Kemudahan menjadi Bonek inilah yang sering dimanfaatkan orang-orang yang memang ingin berbuat kriminal. Sifat Bonek yang cair itu menyebabkan kita kesulitan mendeteksi para pelaku kriminal yang menyaru jadi Bonek. Sementara Bonek estafetan yang murni mendukung Persebaya juga tidak mempunyai cara untuk mengatasi ulah para pelaku. Bahkan, mereka sendiri sering menjadi korban seperti perampasan hape dan uang.

  1. Mudah timbulkan gesekan antara Bonek dan warga

Para pelaku kriminal yang menyaru jadi Bonek sering menimbulkan korban yang berasal dari warga. Tentu saja warga kemudian tidak tinggal diam. Mereka akan mencari Bonek untuk dimintai pertanggungjawaban. Celakanya, warga menyasar siapapun Bonek yang melintas. Akibatnya bentrokan seperti saling lempar batu antara warga dan Bonek tak terhindarkan. Belum ditambah aksi pelemparan yang dilakukan suporter rival kepada Bonek estafet.

  1. Bisa membuat stigma Bonek semakin buruk

Rangkaian kejadian kriminalitas dan kekerasan yang melibatkan Bonek pasti membuat stigma Bonek bertambah buruk. Masyarakat akan menilai semua Bonek berperilaku buruk meski tidak semuanya seperti itu. Orang lebih mudah menilai hal-hal yang buruk dibanding hal-hal baik. Jika ada satu Bonek yang berbuat kriminal, maka puluhan ribu Bonek yang berbuat baik akan terkena imbasnya.

  1. Merugikan Persebaya

Saat Liga 2, pihak keamanan sering melarang Bonek untuk datang ke kota di mana Persebaya berlaga. Pihak keamanan pastinya tak mau ambil resiko dengan membiarkan Bonek datang. Meski mayoritas Bonek sudah berubah, namun Bonek yang masih saja berbuat kriminal masih ada. Dan pihak keamanan akan lebih memprioritaskan melindungi warga dari perbuatan kriminal yang dilakukan segelintir Bonek. Akhirnya Persebaya sering bermain tanpa penonton. Tentu saja Persebaya yang dirugikan karena tidak bisa bermain di depan para pendukungnya.

***

Bonek yang memilih cara estafet untuk mendukung Persebaya saat tandang sebaiknya segera mencari cara selain estafet. Transportasi adalah salah satu komponen biaya yang harus dikeluarkan Bonek selain tiket dan makan-minum. Jika tidak mempunyai uang untuk mendukung Persebaya di luar kota, tentu Bonek tidak perlu memaksakan diri untuk berangkat. Toh ada siaran langsung televisi dan nonton bareng. Jika masih ingin berangkat, menabung untuk biaya transportasi bisa dilakukan dengan menyisihkan sebagian pendapatan atau uang saku. Pasti ada cara yang halal untuk mendapatkan penghasilan demi mendukung tim kebanggaan.

Ada baiknya, pentolan-pentolan Bonek, komunitas-komunitas Bonek, penghuni tribun Bonek segera memikirkan cara agar permasalahan yang selalu berulang ini segera teratasi. Karena yang rugi adalah Bonek yang murni ingin mendukung Persebaya. Sudah banyak kaca mobil dan bus Bonek pecah karena dilempari warga yang kesal dengan para pelaku kriminal yang menyaru jadi Bonek. Belum lagi korban perampasan sesama Bonek estafet. Bahkan ada Bonek cilik yang ikut estafetan menjadi korban pemerasan.

Pihak keamanan diminta untuk bertindak tegas. Jika ada pelanggaran hukum yang dilakukan Bonek maka kepolisian harus menegakkan hukum sesuai undang-undang yang berlaku.

Jangan sampai aksi negatif segelintir Bonek menyebabkan semua Bonek mendapat getahnya. Kita ingin mendukung Persebaya di manapun dengan tenang, bukan?

Facebook Comments