Apakah Arema FC Layak Disebut Rival Klasik Persebaya?

Arema FC di Liga 1 2018. Foto: Goal.com
Iklan

Persebaya akan menjamu Arema FC dalam lanjutan Liga 1 pekan ketujuh, Minggu (6/5). Partai ini disebut-sebut sebagai derby Jatim, seteru klasik, hingga rival klasik oleh banyak pihak. Bahkan sebagian Bonek menganggap laga ini adalah laga hidup mati layaknya dua klub rival. Masalahnya apakah Arema FC layak disebut sebagai klub rival klasik Persebaya?

Pangkal persoalannya adalah ada klub bernama Arema Indonesia yang bermain di Liga 3 zona Jatim. Banyak orang yang menyebut klub yang awalnya bernama Arema Malang inilah yang dihadapi Persebaya sejak era Liga Indonesia digelar. Sebagian Aremania pun telah menyatakan dukungan kepada klub yang saat ini menduduki peringkat atas Grup F putaran pertama Liga 3 zona Jatim.

Klub inilah yang dihadapi Persebaya saat masih bermain di IPL (Indonesia Premier League) pada 2012. IPL adalah liga resmi yang digelar PSSI era Djohar Arifin. Kala itu, Persebaya mengalahkan Arema Indonesia dengan skor 2-1 di Gelora Bung Tomo di depan 55 ribu Bonek. Sementara Arema FC yang kala itu bernama Arema Cronus bermain di liga ilegal bernama Indonesia Super League (ISL) yang digelar KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia). Sejarah kemudian menasbihkan ISL sebagai liga resmi menggantikan IPL akibat pergantian kepemimpinan di tubuh PSSI.

Arema Indonesia di Liga 3 zona Jatim. Foto: Bolasport.com

Fakta juga membuktikan Aremania lebih memilih Arema Cronus yang disokong PT Pelita Jaya Cronus ketimbang Arema Indonesia. Dalam perjalanannya, Arema Cronus bermain di ISL dan sempat melakoni derby Jatim dengan Persebaya yang tidak diakui Bonek. Klub ini juga menjuarai turnamen ISC pada 2016 dengan mengalahkan Persib di final.

Iklan

Mulai Liga 1 2017, Arema Cronus mengubah namanya menjadi Arema FC. Tak hanya nama, logonya pun berubah. Sedangkan Arema Indonesia tetap memakai logo yang sama yang dipakai sejak Liga Dunhill 1994 hingga ISL 2010/2011. Diakui atau tidak, ada konflik dualisme di antara dua klub ini.

Lantas, dengan kondisi seperti ini, apakah partai Minggu besok pantas disebut sebagai partai klasik antara dua klub rival? Jika berkaca pada sejarah, tentu sangat tidak layak. Pasalnya, masih ada konflik dualisme antara Arema FC dan Arema Indonesia.

Bonek adalah suporter yang paling konsisten mendukung klubnya dengan menjaga keasliannya. Hanya Persebaya yang bermarkas di Karanggayam kala itu yang didukung. Konsistensi ini berbuah hasil dengan diakuinya Persebaya oleh PSSI. Boneklah yang mampu membuat Persebaya sebelah berubah nama dan logo berkali-kali hingga akhirnya menjadi Bhayangkara FC.

Keberhasilan inilah yang harus kita jaga dan hormati termasuk dengan menganggap siapa klub yang layak disebut klub rival. Dan itu tidak didapat dari Arema FC. Kita harus memberikan respect kepada sejarah yang kita buat.

Lalu, sikap apa yang bisa kita ambil saat Persebaya menghadapi Arema FC Minggu besok?

Pertama, kita harus menganggap Arema FC adalah klub baru asal Malang yang kebetulan memakai nama Arema. Meski memakai nama Arema, apakah klub tersebut lantas kita sebut rival klasik Persebaya? Tentu kita masih ingat dulu saat ISL ada klub bernama Persebaya tapi Bonek dengan konsisten menolak mengakui keasliannya. Hal itu bisa terjadi karena Bonek adalah suporter yang paham sejarah.

Kedua, dengan sikap demikian, kita akan bersikap santai saat menonton laga besok layaknya menonton klub baru asal Malang melawan Persebaya yang penuh sejarah. Mari membayangkan bagaimana rasanya menonton Persebaya melawan Malang United. Jika Persebaya menang, kita akan bersikap biasa, begitu pula jika seri atau kalah. Sekali lagi, mari kita berikan respect kepada sejarah yang kita buat.

Ketiga, memang benar mayoritas Aremania memilih Arema FC dibanding Arema Indonesia. Itu adalah hak mereka dan harus kita hormati. Namun kita juga mempunyai hak untuk menganggap mana klub yang layak disebut rival klasik Persebaya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika Arema Indonesia naik kasta ke Liga 1 sementara Arema FC juga berada di liga yang sama? Apakah kita akan menganggap dua-duanya adalah rival klasik hanya karena memakai nama Arema? Hingga konflik dualisme antara kedua tim tidak terselesaikan, rasanya kita tidak layak menganggap Arema FC rival klasik.

***

Kita adalah Persebaya, klub besar pendiri PSSI yang sarat sejarah. Sudah sepantasnya kita disejajarkan dengan klub-klub yang menghargai sejarahnya. Bukan klub yang mengaku-ngaku memiliki sejarah panjang di kancah persepak bolaan Indonesia. (*)

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display