Ada Apa Persebaya, Kece di Tandang Tapi Memble di Kandang

Selebrasi pemain Persebaya di kandang Madura United. Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

Tidak terasa kiprah Persebaya di Liga 1 sudah melewati pekan ke-10. Hampir 1/3 dari total pertandingan sudah dilalui (10 dari total 34 pertandingan). Di banyak kompetisi di dunia, 10 pertandingan awal yang dilalui sering disimpulkan sebagai gambaran dari kelanjutan kompetisi itu sendiri sampai babak akhir nanti. Banyak keputusan dari manajemen yang diambil untuk memperbaiki tim dilihat dari 10 pertandingan awal ini.

Persebaya sebagai tim promosi dari Liga 2, bahkan setelah sempat diendapkan oleh federasi untuk cukup lama, sementara berada pas di papan tengah bagian bawah dengan 14 poin. Seperti yang sudah-sudah, jarak poin masing-masing tim di Liga 1 masih sangat rapat, sehingga masih sangat memungkinkan tim untuk lompat 2 sampai 3 posisi di atas apabila meraih poin maksimal. Namun, bisa dibilang kasta dari kompetisi ini pelan-pelan sudah terbentuk.

Yang menarik dari raihan 14 poin ini, Green Force mendapat 8 poin dari partai kandang dan 6 poin dari partai tandang. Terlihat biasa saja karena poin kandang yang didapat lebih banyak dari poin tandang. Namun jika kita melihat agak lebih detail dengan membandingan peserta lain, Bajul Ijo menempati urutan teratas untuk klasemen partai away. Dari 5 partai mampu meraih rekor 1 kali menang, 3 seri, dan sekali kalah dengan selisih gol 10 berbanding 9. Persebaya juga merupakan tim yang paling subur untuk urusan gol tandang dengan rata-rata memasukkan 2 gol per pertandingan.

Sayangnya untuk urusan partai kandang, Persebaya sampai saat ini mendekam di dasar klasemen apabila kita bandingkan dengan tim-tim lain. Persipura menjadi yang teratas dengan rekor kandang 100 persen, memasukkan 14 gol dan kebobolan 2 gol. Disusul masing-masing oleh Mitra Kukar, PSM dan tim promosi PSMS masing-masing dengan rekor yang sama, 5 kali menang dan sekali kalah dengan selisih gol yang berbeda. Sementara Persebaya sendiri meraih rekor 2 kali menang, 2 kali seri, dan sekali kalah dengan rekor gol yang ”menyedihkan”, memasukkan 5 dan kemasukan 4, atau rata-rata mencetak 1 gol ditiap partai kandang. Hanya Bhayangkara United yang juga meraih 2 kemenangan di kandang, namun dilengkapi dengan 4 kali seri sehingga poin kandangnya lebih baik dari Bajul Ijo. Ini tentu saja sangat mengkhawatirkan, ketika pesaing tim-tim Liga 1 sangat bisa memaksimalkan partai kandangnya, Green Force setelah 10 pekan justru masih kesulitan. Pun jika kita bandingkan dengan sesama tim promosi lainnya, PSMS dan PSIS, mereka masih lebih baik dalam torehan hasil di kandang sendiri.

Iklan

Pertanyaannya adalah, bagaimana bisa tim yang memiliki pendukung ultra fanatik militan dengan jumlah besar justru melempem dikandang sendiri. Apakah ada beban dari para pemain ketika bermain di Gelora Bung Tomo? Ataukah tim lawan yang selalu tampil super defensive jika bermain di Surabaya? Ataukah ada faktor lainnya? Inilah solusi yang harus segera dicari dari tim pelatih dan juga pemain. Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau banyak faktor non-teknis yang terjadi ketika tim Liga Indonesia bermain di kandang sendiri. Yang saya maksud bukan soal sogok-menyogok karena ini masih menjadi misteri, namun yang jelas terlihat seperti ”teror” penonton tuan rumah, kegarangan stadion tuan rumah, lalu faktor kelelahan setelah melakukan perjalanan, sampai dengan adaptasi tim tamu terhadap kondisi pertandingan. Inilah faktor-faktor utama yang selalu dimanfaatkan tim-tim Liga 1 ketika bermain kandang, namun juga hal yang dirasakan ketika mereka bertandang ke Gelora Bung Tomo.

Lalu, apakah ada faktor teknis dari Persebaya? Agak aneh karena justru banyak tim semenjana yang bermain luar biasa dan mendulang poin penuh di kandang sendiri bahkan ketika melawan tim yang lebih superior sekalipun. Ataukah soal psikologis dan motivasi? Entahlah.

Persebaya adalah tim besar dengan sejarah yang besar pula, yang selalu identik dengan pendukung militan yang dahulu selalu membuat angker Gelora 10 November Tambaksari. Bukan hanya kemenangan yang diraih pada saat itu, namun juga dengan skor telak yang mencolok. Saat ini, PR besarnya adalah, sekali lagi tim pelatih dan pemain harus segera menemukan faktor X kenapa melempem di Gelora Bung Tomo, lalu memperbaiki dengan segera. Belum terlambat untuk mengembalikan keangkeran partai kandang, dimana bonek selalu militan mendukung di Surabaya. Setelah ini, rekor bagus Persebaya saat tandang akan diuji langsung dalam 2 partai melawan Persija di Bantul dan PSM di Makassar. Setelahnya Green Force akan kembali bermain kandang melawan Bali United. Semoga pada saat itu, daya magis partai kandang sudah menyelimuti Persebaya, seperti yang sudah-sudah selalu terjadi dahulu di Tambaksari.

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display