Jangan Lagi Ada Gas Air Mata di Antara Kita

500
Bonek meninggalkan JSG menumpang angkutan yang disediakan pihak kepolisian. Foto: Iwan Iwe/EJ

Rabu sore itu, 4 Oktober 2017 di Jember, pertandingan dimulai tetapi berita panas santer terdengar di luar stadion. Hubungan Bonek dengan PSHT sedang panas-panasnya. Seperti biasa media sosial milik akun Bonek bertaburan pesan-pesan kewaspadaan buat Bonek yang berangkat ke sana. Ribuan Bonek yang tak pernah bisa membiarkan tim Persebaya berjuang sendirian sadar bahwa daya tampung di Stadion Jember Sport Garden tidaklah mampu menampung semua. Tapi cinta tetaplah cinta.

Sebelum pertandingan di beberapa titik ada kabar tawuran antara ribuan Bonek dan pendekar PSHT. Darah tumpah sebelum pertandingan dimulai. Aparat kepolisian dari Jember pun segera mengatasi pertikaian itu. Segera saja instagram dipenuhi tentang foto-foto korban maupun video "pertempuran". Otoritas dari kepolisian di Jember bisa saja merekomendasikan untuk memikirkan kembali apakah pertandingan sorenya akan tetap digelar ataukah tidak. Fakta berbicara lain. Pertandingan tetap berjalan seperti di jadwal.

Kapolres Jember, AKBP Kusworo Wibowo, tercatat dalam sejarah. Dengan kondisi panas seperti itu biasanya polisi tidak akan memberikan ijin pertandingan. Tapi ia menunjukkan logika yang benar, bahwa polisi bukan hanya kerja administratif sebagai petugas stempel dan tanda tangan untuk memberikan ijin pertandingan atau tidak. Polisi adalah aparatus penjamin keamanan. Pak Kus, rupanya ingin menjelaskan logika itu.

Cak Oryza dalam reportasenya menuliskan ulang pernyataan pak Kapolres itu: “Tugas polisi memang pengamanan. Saya makan gaji dari uang rakyat. Kalau saya tidak bisa mengamankan, saya malu makan gaji dari uang rakyat. Ada izin atau tidak ada izin pertandingan, saya harus siap,” katanya. Bergetar saya membaca pernyataan tersebut. Polisi dan aparat keamanan lainnya oleh Pak Kus dikembalikan dalam fungsi sebenarnya. Tidak hanya tukang stempel perijinan pertandingan, namun yang utama adalah pengamanan.

Maka jadilah, siang berdarah di Jember tidak berdampak pada pembatalan pertandingan. Panitia pelaksana pun rupanya juga terkoneksi baik dengan pihak keamanan. Meski pulang dari pertandingan Bonek belum merasakan kondisi yang kondusif, tetapi lagi-lagi pak Kus memberikan jaminan keamanan buat Bonek. Bahkan bis-bis di Jember pun dikerahkan untuk mengangkut kepulangan Bonek dari Jember.

Saya adalah salah satu yang termasuk terharu dengan gerak cepat Pak Kapolres Jember tersebut. Sebagai polisi ia mendudukkan aparat pada tugas yang sebenar-benarnya. Polisi ada di otoritas keamanan maka ya tugasnya adalah menjaga keamanan, bukan cari aman.

Rabu juga, dini hari WIB, 24 April 2018, Stadion Anfield bergemuruh menyambut leg pertama semi final Liga Champions yang mempertemukan Liverpool dengan AS Roma. Seperti biasanya, Kopites memerahkan atmosfer sepak bola. Suporter garis keras pun tumpah di jalanan. Namun justru berita yang muncul adalah suporter liar AS Roma melakukan penusukan pada suporter Liverpool yang sudah berusia 50-an tahun. Suasana mencekam terjadi beberapa saat sebelum pertandingan. Pertandingan dibatalkan? Hehehe jangan tanyakan soal itu. Inggris telah tertata mengenai hal itu. Mereka belajar banyak hal tentang tragedi di seputar sepak bola termasuk kecaman Margareth Thatcher, PM Inggris kala itu pada suporter sepak bola.

BACA:  Hari Ini, Persebaya U-19 Lawan Persib U-19

Seorang kawan yang berangkat ke Kiev, Ukraina dalam final Liga Champions beberapa waktu lalu menceritakan perjalanan sucinya ke sana termasuk perilaku pengamanan di stadion. Koko, nama kawan kuliah dulu itu saya panggil, menceritakan tentang ring demi ring yang harus dijumpai suporter sebelum kakinya benar-benar masuk di tribun stadion. Sterilisasi suporter yang datang ke stadion tanpa tiket diberlakukan di ring pertama. Suporter Eropa tak bertiket? Ndak hanya Bonek kan? Sekarang kita tahu bahwa suporter tak bertiket datang ke stadion bukan milik Bonek semata. (Hey, kita masih di bumi! Tak usah munafik!) Bedanya dengan mereka, panitia pelaksana benar-benar siap. Buat yang tak bertiket disediakan area khusus. Layar lebar disediakan.

Ring pertama ini termasuk menetralisir penonton atau suporter yang datang ke stadion dalam kondisi mabuk atau membawa botol minuman keras. Tak ayal protes keras dari suporter sering terjadi di ring ini. Ring kedua dan seterusnya seperti yang biasa kita temui saat ada pertandingan di Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Nah, bukan maksud saya sok luar negeri dengan menceritakan hal itu. Tidak apple to apple. Tapi apa salahnya aparat keamanan kita belajar dari pengamanan pertandingan sepak bola di negara lain. Jika terlampau silau belajarlah ke kepolisian di Jember dan Surabaya.

Apa yang terjadi di Bantul sudah makin bias pernyataan kita di media sosial. Semua terkonsentrasi pada Bonek vs The Jak. Tak ada yang menyoroti tingkah panitia pelaksana yang saya lihat sendiri waktu itu tidak ada di stadion. Aparat kepolisian pun sepertinya tidak belajar sejarah rivalitas Jakarta dan Surabaya dalam hal sepak bola. Di luar apakah yang terjadi di Bantul adalah upaya yang sistematis dan terencana agar pertandingan batal, agaknya begitu memalukan jika aparat keamanan justru tak bisa menjamin keamanan. Saya melihat sendiri sejumlah berapa orang aparat keamanan yang ditaksir untuk mengawal pertandingan penuh atmosfer rivalitas di stadion. Tak menunjukkan bahwa apa yang terjadi Bantul adalah pertandingan besar. Jika jumlah aparat sangat minim, makanya tak heran jika tak ada upaya menetralisir area bahkan tak ada atmosfer pertandingan bola. Justru aroma arena perkelahian tersaji. Begitu mencekam. Tak ada aroma perayaan pertandingan seperti yang selama ini tersaji di Gelora Bung Tomo yang dihadiri puluhan ribu orang itu. Spanduk-spanduk sponsor entah ke mana. Area parkir yang tak jelas. Tak ada panitia-panitia pertandingan. Parahnya, pertandingan dibatalkan.

Benarlah apa yang dikatakan Pak Kus, Kapolres Jember, seyogyanya aparat keamanan menjamin pertandingan tetap dapat digelar dan dijamin keamanannya karena memang tugasnya, bukan cari aman dengan menembakkan gas air mata hanya kepada Bonek. (*)

*) Maaf, bukan maksud saya mengajari ke bapak-bapak polisi karena pasti Anda telah lebih terlatih. Tetapi mohon dipahami bahwa Indonesia adalah negara gila bola, maka jadikan manajemen suporter yang datang ke stadion juga menjadi perhatian yang serius.

Komentar Artikel