Harga Diri (Tidak) Hanya di Hadapan Arema FC

Selebrasi gol Misbakus Solikin ke gawang Arema FC. Foto: Joko Kristiono/EJ

“Boleh kalah dari tim lain, asal jangan dari Arema, ini harga diri!” Sejatinya kalimat itu seperti diamini manajemen dan pemain. Hal itu telah dibuktikan, menang kontra Arema, dan selebihnya seri dan kalah.

Iklim semacam ini terus menerus menghias lini masa Bonek di mana pun berada. Arema menjadi musuh utama dari 16 tim lainnya, tidak ada alasan apapun jika berbunyi Arema. Artinya, kalah dari Arema adalah hilang dan runtuhnya harga diri.

Setiap laga adalah final, kemenangan adalah pilihan lain dari kekalahan, jika bisa menang mengapa harus kalah. Menjaga harga diri tentu tak boleh kalah oleh siapapun. Persebaya di liga 1 ini dibangun dengan materi pemain berdasar pilihan pelatih berdasar skemanya, itupun tak mampu menegahdahkan kepala kita hingga pekan ke 13. Alhasil, bonus Tunjangan Hari Raya (THR) berbentuk kado di zona degradasi.

Setiap laga adalah berat kata coach Alfredo, Vera boleh saja berkata demikian jika ia di tugasi di tengah jalan kompetisi, bukankah konstruksi tim adalah ia pendirinya, lalu mengapa ia seperti pelatih “baru” di kompetisi negeri ini? Tentu kita tak perlu bertanya pada rumput yang bergoyang, tapi, tim ini dibangun dengan prinsip ekonomi yang jitu.

Persebaya “dijual” dengan jargon “We are back strong”, sebutan yang membuat siapapun mendengar akan bergidik, sayangnya, kalimat itu seakan di buat khusus dalam koridor market, tidak down to earth di tim, justru sebutan itu terlalu berat sehingga tim tak mampu memikul hingga terseok-seok, persis dengan bayi yang sakit-sakitan karena tidak sanggup memikul nama kemudian ritual bancakan merubah nama. Semoga “We are back strong” tidak seperti itu.

BACA:  Komunitas, Ajang Silaturahmi dan Edukasi Bagi Bonek

Persebaya harus melihat seluruh tim peserta liga 1 seperti Arema. Semua adalah rival, 90 menit adalah milik pemain untuk berjibaku membela lambang di dada, jangan sesekali melihat “romantisme” suporter di tribun, sebab, itu akan membuat Persebaya seperti bermain dalam friendly game atau gelaran charity game.

Harga diri harus berdiri tegak di semua lawan. Jangan memilih lawan untuk membuktikan harga diri, sebab, harga diri adalah bentuk kehormatan, jika kehormatan melebihi harga diri, maka kekalahan adalah keruntuhan harga diri, walau bukan dari Arema sekalipun. Itu baru WANI!

Facebook Comments