Song For Pride, Lagu Kebanggaan yang Tak Boleh Hilang Taji

99
Foto: Joko Kristiono/EJ
995Shares

Saya mungkin satu-satunya orang yang gagal paham tentang esensi arti “Song for pride” dan lupa cara penghormatan pada ke-khusyukan-nya. Dan saya pula orang yang paling alay dan lebay ketika mengetahui lagu itu tak lagi bertaji dihadapan tamu seperti Semeton Bali united pada 7 Juli 2018 lalu.

Entah siapa yang membuat kesepakatan dan siapa yang menyepakati lagu itu menjadi sebuah anthem yang sakral. Dengan sebuah penghormatan sambil berdiri dan membentangkan syal, lagu itu penuh khidmat dan penuh penjiwaan siapa pun yang menyanyikan, terlebih di dalam stadion sebelum kick off, lagu itu menjadi kekuatan magis untuk Persebaya dan Bonek pastinya.

Penodaan itu terjadi di Gelora Bung Tomo. Lagu yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan seperti judulnya dikotori oleh suporter Bali united yang terus menerus bernyanyi walau mereka tahu anthem itu dinyanyikan dengan inisiatif Bonek tanpa panduan announcer.

Fans Bali United berhenti ketika Song For Pride akan memasuki reffrain, itu karena bersamaan dengan lagu yang dinyanyikan mereka sudah selesai, jika tidak, maka Song For Pride tidaklah khusyuk dan bertaji di hadapan Boneknya sendiri.

Yang paling menyedihkan, di kerumunan tribun itu ada beberapa pentolan Bonek di dalamnya. Mengapa tidak ada komando untuk menghentikan chant agar segera menghargai Song For Pride, di mana keberadaan capo-capo Bali United mengetahui anthem Persebaya berkumandang? Mengapa Bonek tidak bereaksi pada hal itu?

Inilah puncak gagal pahamnya saya pada arti “kebanggaan” dan “harga diri”. Bagaimana dan di mana meletakkan dua kalimat itu dalam konteks Persebaya. Bung Tomo dan Surabaya tak boleh dan tak pernah lunak pada siapa pun, apalagi yang berhubungan dengan Bonek dan Persebaya, termasuk seremoni anthem yang dinodai fans Bali United saat itu.

Song For Pride tak boleh kehilangan taji dan kekuatan magis di dalamnya. Mahardhika Nurdiansyah tentu akan bersedih ketika lagu yang dibuat dengan segala kecerdasan luar biasa serta ruh spirit di dalam syair harus lambat laun berkurang kegaharannya. Itu tak boleh terjadi sekalipun dengan dan atas “saudara” yang mengotorinya.

BACA:  Cerita Munijianto Basuki, Bonek Probolinggo yang Terbang ke Serui

Maka, sapaan ala pramuka itu hanya melahirkan ketidakpatutan lawan ketika mereka dibuat nyaman senyaman nyamannya di rumah orang. Iki Suroboyo, tamu harus taat pada rules tuan rumah tak peduli siapa pun dia, sebelum mereka berbuat tidak patut seperti mencederai Song For Pride. Karena, sebagai Bonek, saya tidak suka ketika Song For Pride berkumandang ada seseorang atau lebih tidak khidmat mengikuti. Saya Bonek, saya menghormati dan menghargai segala yang berhubungan dengan Persebaya dan Bonek. Bagi saya, Song For Pride itu kebanggaan dan harga diri, itu saja.

Selebihnya, terserah anda.

Salam 1 nyali! WANI! (*)

Ralat dari penulis:

Mohon Maaf Cak Mahardhika Nurdiansyah

***

Pada tulisan di atas, saya mengakui kesalahan menuliskan pencipta anthem Song For Pride sebagai karya (alm) Oka Gundul di Emosijiwakucom, padahal karya tersebut adalah masterpiece cak Mahardika. Sejatinya, lagu-lagu yang diciptakan dan dipersembahkan untuk persebaya dari seniman brilian seperti cak Mahardika dan lain-lain harus mendapatkan apresiasi tinggi, dan itu telah dibuktikan dan di nyatakan oleh Bonek dan Persebaya.  

Saya terlalu reaksioner ketika mengetahui anthem tersebut dirusak oleh suporter tim tamu. Tulisan di atas esensi nya adalah pernyataan protes saya pada suporter tim tamu, namun sekali lagi saya memohon maaf sebesarnya kepada Bonek dan cak Mahardika selaku pencipta Song For Pride, dengan penuh rasa hormat saya memohon maaf.

Tak lupa saya juga memohon maaf atas sikap reaktif berlebihan pada kesakralan Song For Pride, ini hanya reaksi saya sebagai Bonek, yang yakin dan percaya bahwa segala yang terkandung di dalam Persebaya dan Bonek adalah kehormatan dan harga diri, termasuk Song For Pride.

Inilah permohonan maaf saya pada cak Mahardika Nurdiansyah. Sebagai Bonek, tak ada hal yang paling membanggakan menjaga dan mengawal Persebaya dan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, termasuk Song For Pride untuk sebuah kebanggaan.

Facebook Comments