Kisah “Maling Gorengan” Bangun Panti Asuhan

94
Panti Asuhan Bonek. Foto: SKJ27 for EJ
4131Shares

Kabar ini pasti tidak seksi. Khususnya bagi mereka yang kerap nyinyir dan negative thingking sama Bonek selama ini. Tidak nyata. Ini pasti mimpi. Bonek kok bangun panti. Padahal, persepsi kuat di benak, pikiran dan tindakan mereka selama ini, meyakini sebaliknya. Bonek tukang rusuh, maling gorengan, suporter sandal jepit dan sederet cibiran miring lainnya.

Biarkan saja. Semakin kuat penolakan dan argumen dilakukan, sejatinya, kaum nyinyir itu tengah menyiksa diri sendiri. Susah menerima kenyataan. Gak senang lihat Bonek senang. Gak bisa move on. Yo wes ben. Jarkan saja mereka kejang-kejang, pokok’e gak sampai sampai sakit jiwa. He he he

Kita semua, pendukung Persebaya pantaslah menyampaikan salut dan hormat sehormat-hormatnya pada teman teman Bonek SKJ 27. Cak Edi, Cak Didik, Cak Muarrif, Cak Agus dan semua yang menggawangi Bonek Sukodono-Jemundo (SKJ) 27, pantas diberi acungan jempol. Tak hanya dua, bila memungkinkan, lima sekaligus. Mereka telah menorehkan sejarah baru dalam dunia persupoteran di Indonesia. Bahkan mungkin, di dunia. Membangun Panti Asuhan Yatim.

Panti Asuhan Bonek. Foto: SKJ27 for EJ

Gagasan pendirian panti asuhan ini datang dari mereka. Awalnya, Bonek SKJ 27 dan komunitas-komunitas lain di sekitar, rutin melaksanakan aksi sosial, Sobo Panti. Berkunjung dan menyantuni anak-anak yatim dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Tak hanya di Surabaya-Sidoarjo dan sekitarnya, kala awaydays, dukung Persebaya, mereka selalu menyempatkan berkunjung ke panti asuhan di kota tersebut, sebelum dukung Persebaya di stadion. Yang begini ini, sudah 19 kali dilakukan. Tanpa hingar bingar publikasi dan pemberitaan.

Nah, di tengah jalan terbersit gagasan; kenapa tak membuat panti asuhan bonek? Gagasan ini makin menemukan bentuk, saat Cak Edi Hadi Susanto, selaku Pembina Bonek SKJ 27 menyerahkan lahan 8×17 meter di Cemengkalan Sidoarjo untuk dibangun Panti Asuhan. Lahan milik keluarga ini diikhlaskan demi tujuan mulia tersebut. Di atas lahan, nantinya akan didirikan bangunan dua lantai untuk tempat tinggal para yatim. Biaya ditaksir sebesar Rp 600 juta. Dan, secara resmi Presiden Persebaya, Azrul Ananda meletakkan batu pertama, tanda dimulainya pembangunan pada Rabu, 8 Agustus 2018. Awal baik di tanggal yang cantik.

BACA:  Sharing dan Tampung Ide, Manajemen Adakan Bonek Conference

***

Membangun panti asuhan ini, bisa dikata ‘nyleneh’. Sesuatu yang sama sekali di luar jalur dari ‘Tupoksi’ suporter bola selama ini. Bonek memang berbeda. Banyak fakta yang mengemuka bahwa Bonek ini tak sebatas pendukung sepak bola. Aksi yang dilakukan, sudah melewati batasan definisi wadah pendukung klub sepak bola.

Malah, meminjam istilah Max Webber, Bonek telah menjalankan fungsi sebagai Agent of Change. Agen perubahan. Lihatlah, apa yang dilakukan bonek dalam kurun lima tahun lampau, saat Persebaya didera dualisme. Loyalitas tetap diberikan tanpa batas. Mereka rela menepi dari tribun demi klub kebanggaan. Meyakini kebenarannya dan memperjuangkan selamanya.

Semua tahu, bagaimana kisah heroik akan arti loyalitas tersebut, menginspirasi dan mengubah jalan hidup banyak orang. Termasuk di anggota Bonek sendiri. Mereka berubah, berevolusi menjadi lebih baik.

Tentu saja, kisah baik ini tak boleh berhenti sini. Tugas kita semua untuk terus mengabarkan kebaikan ini. Sekaligus terus berikhtiar, memberi pengingat, bagi kawan kawan kita yang masih ‘di lembah hitam’ dalam mendukung klub kebanggaan. Tak lupa, senantiasa menyelipkan doa agar panti asuhan ini bisa segera berdiri dan menjadi rumah indah bagi anak-anak yatim. WANI!

NB: Dana yang terkumpul saat ini sudah mencapai Rp 50 juta. Panitia menerima sumbangan dari donatur yang tak bersifat mengikat. Hubungi Koordinator Bonek SKJ, Cak Didik (081233971192).

Facebook Comments