Kepercayaan kepada Persebaya Menyatukan Hati dan Harapan

510
Foto: Joko Kristiono/EJ

Persebaya benar benar menjadi pembeda kontestan di Liga 1 musim 2018. Hadir sebagai juara di Liga 2 musim 2017 rupanya tak menjadikan jaminan bahwa tim kebanggaan arek Suroboyo ini se-moncer di Liga 2 lalu. Tentu ini bukanlah komparasi sepadan level Liga 1 ataupun Liga 2, namun jika merujuk nama besarnya, kondisi saat ini bukanlah level Persebaya.

Memasuki pekan 21, ribuan ekspetasi dengan hadirnya manajer dan pelatih baru tidak menguatkan harapan tim ini survive di Liga 1. Bukan Suudzon pada kualitas manajerial dan pelatih, namun fakta menunjukan bahwa peletakan harapan haruslah bertumpu pada kenyataan yang ada.

Persebaya seperti roller coaster yang putarannya membuat jantung deg-degan sepanjang kita di dalamnya. Persebaya seperti terkejut melihat kompetisi Liga 1 yang teramat dinamis. Memukul PS Tira di Bantul di putaran pertama, sejuta harapan dan anggapan lahir bahwa tim milik TNI itu akan babak belur di putaran kedua di Surabaya, namun “takdir” berkata lain, kompetisi sesungguhnya terjadi bahwa sepak bola selalu menghadirkan kejutan-kejutan.

Gelora Bung Tomo seperti belum beradaptasi pada liga kasta teratas. Terbukti tidak sekali dua kali Persebaya takluk pada tamunya. Sementara, papan atas yang notabene banyak berisikan tim-tim tanpa candradimuka piramida kompetisi seperti lenggang kangkung menempati papan atas, lantas mengapa Persebaya seperti tertatih tatih? Meminjam istilah Cak Kartolo, “iki pasti onok sing salah kaitane”.

Akankah sisa pekan ini persebaya akan terus menerus seperti roller coaster? Apakah Persebaya akan seperti musik ambience yang menarik ulur emosi pendengarnya. Frasa pasang surut seharusnya menjauh dari tim besar sarat sejarah dan prestasi ini. Karena sejatinya Persebaya bukanlah dagangan yang harus “ramai dan sepi” layaknya pedagang. Seharusnya sekaliber Persebaya menjadi langganan juara serta pemuncak seperti klub-klub besar Eropa yang mendominasi di negaranya.

BACA:  Musuh Kita Iwan Setiawan, Bukan Persebaya

Harus dengan cara apalagi mengatakan persebaya untuk bangkit. Hanya kesetiaan dan kepercayaanlah yang menguatkan kita untuk tetap mencintai persebaya dalam kondisi apapun.

Dosa terbesar saya adalah membiarkan pikiran berselancar tak tentu arah dan selalu berpikir tentang ketakutan; Persebaya akan kembali ke Liga 2 musim depan.

Persebaya harus tetap berada di Liga 1, sebab inilah rumah besar kita. Kita tak layak terusir dari ketatnya kompetisi ini. Dalam kondisi apapun kita harus setia. Harus pula menempatkan kepercayaan bahwa tim yang memiliki belasan store akan mampu bergerak dengan segala kekuatan terhindar dari ancaman degradasi.

Situasi ini tidak dibutuhkan dukungan semampunya atau kemampuan bermain semampunya. Kita harus tetap percaya Persebaya dapat bangkit, sebab kepercayaan menyatukan hati dan harapan.

Komentar Artikel