Gerakan Awaydays Seribu Cinderamata Cinta dari Bonek

Foto: Joko Kristiono/EJ
Iklan

Judul yang mungkin kurang familiar di hingar-bingar pusaran sepak bola yang terlekat dengan kesan laki, keras dan gagah. Tapi tidakkah kata-kata yang termuat di judul tersebut tak terlepas dari geliat sepak bola kita, bukan?

Kali ini, tulisan saya tak akan panjang lebar memakan tempat. Seusahakannya akan saya padatkan, ringankan agar tercapai maksud dan tujuannya.

Kedaerahan – awaydays – kesan baik dari pendukung tuan rumah, perangkat pertandingan, media bahkan masyarakat adalah hal yang jamak ditemui dalam setiap ritual mendukung klub kesayangan ke kandang lawan. Biasanya, respon tuan rumah tergantung dari seperti apa tingkah pendukung tamu ketika mendatangi rumahnya. Baik, biasanya pun disambut baik, begitu pun juga sebaliknya.

Membicarakan awaydays, Indonesia punya pelopor pertama yang mengkampanyekan berbondong-bondong untuk mendukung tim kesayangannya di luar kota. Tak lain dan tak bukan Bonek, pendukung militan Persebaya Surabaya. Sejak era 80-an, dengan tagline tret tret tret, Bonek menghijaukan Senayan saat mendukung Persebaya di putaran final. Sekali lagi, awayday identik dengan kedaerahan – awaydays – kesan dari segala unsur.

Iklan

Melalui tulisan ini, saya urun usul untuk dulur-dulur Bonek yang selalu tak membiarkan Persebaya berjuang sendirian, apakah mungkin judul tulisan saya, “Gerakan awaydays seribu cinderamata cinta” ini menjadi suatu kebangkitan budaya yang dimulai dari Kota Surabaya? Jika iya sungguh bersyukur, jika belum diterima pun bukan sebuah persoalan.

Andai iya, away terdekat adalah ke kandang Bali United. Apakah memungkinkan kepada dulur-dulur Bonek yang sudah berniat berangkat untuk menyisihkan sedikit uang sakunya entah 10 ribu atau 20 ribu untuk dipergunakan sebagai pengadaan cinderamata entah itu berupa bunga yang disisipi sticker “From Bonek with Love” atau apa cinderamata-cinderamata lain yang khas, yang menunjukan bentuk kecintaan, terimakasih, penghormatan kepada tuan rumah yang sudah kita datangi.

Tujuannya apa, pertama tentu menyeimbangkan stigma Bonek yang ada di masyarakat. Menjadi rahasia umum bukan bahwa Bonek adalah primadona media massa. Satu berulah, seminggu penuh menjadi headline media massa. Tentu pemberitaan tak berimbang yang terkesan menjastifikasi menjadi sebuah kepercayaan sepihak oleh masyarakat yang sebagian besar belum mengetahui sebab akibat dari setiap kejadian yang melibatkan Bonek. Hal tersebut memang terkesan sepele, namun memiliki efek panjang dalam kadar keantipatian masyarakat terhadap Bonek, utamanya di grassroot.

Kedua, tentu mari kabarkan melalui awaydays kita kepada Indonesia, bahwa sepakbola adalah tentang cinta, tentang persaudaraan sesama anak bangsa.

Ketiga, hal tersebut adalah upaya penyempitan celah bagi yang ingin memanfaatkan nama besar Bonek untuk berkriminalitas dengan dalih memakai embel-embel atribut Bonek.

Tak bisa membayangkan, jika 2.000 Bonek berangkat ke Bali, dan setiap Bonek membawa 2-5 cinderamata, kemudian dibagi-bagikan secara serempak saat berada di Bali, betapa bahagianya kita semua. Melihat senyum ceria masyarakat Bali, melihat ketulusan kita untuk merawat tali persaudaraan. Tak hanya Bonek, tapi juga masyarakat Bali yang tak akan pernah lagi khawatir dengan kehadiran kita. Lalu juga membayangkan, jika itu terus berlanjut secara rutin dalam setiap awaydays Bonek, entah sudah berapa puluh ribu bunga cinta yang kita tebarkan di Indonesia setiap tahunnya.

Gerakan awaydays seribu cinderamata cinta. “From Bonek with love”. Mosok gak isok, rek?

Komentar Artikel

Iklan

No posts to display