Kala “Persebaya Sak Tekone Izroil” Bukan Hanya Slogan  

687
Foto: Joko Kristiono/EJ

Persebaya Sak Tekone Izroil, Mendukung Tanpa Batas.

Kalimat di atas pasti tidak asing bagi Bonek, pendukung Persebaya. Yang biasa menonton Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya hampir pasti selalu menemukan spanduk itu.

Kalimat pendek. Maknanya dalam. Menyiratkan kecintaan total terhadap Persebaya. Jangankan tenaga dan harta. Nyawa pun akan diberikan untuk Persebaya. Mendukung total Persebaya sampai malaikat Izroil, sang pencabut nyawa, datang menjemput ajal.

Kalimat itu bukan sekadar slogan. Senyatanya, Bonek memang mendukung Persebaya hingga kematian menjemput. Jangankan jauhnya jarak. Atau, mahalnya ongkos. Nyawa yang satu-satunya di raga pun akan diberikan untuk Persebaya.

Bagi sebagian orang mungkin berlebihan. Mendukung klub sepak bola saja kok sampai mengorbankan nyawa. Apa pun penilaian orang. Fakta menunjukkan, Bonek mendukung Persebaya dengan harta, raga, dan jiwanya.

Sejak mentas dari Liga 2, beberapa Bonek harus meregang nyawa saat memberikan dukungan untuk klub kebanggaannya itu. Puluhan orang –tidak mudah menemukan data yang akurat— terluka saat mendukung Persebaya. Akibat berbagai sebab.

Saya mencoba merangkum catatan insiden Bonek saat mendukung Persebaya yang berujung kematian atau luka, selama akhir 2017 sampai Liga 1 2018 selesai pada 9 Desember lalu. Dengan catatan, bisa saja ada data yang masih belum terangkum dalam artikel ini karena terbatasnya sumber data.

9 Desember 2017

Sabtu. Persebaya menghadapi PSS Sleman di Stadion GBT Surabaya. Pertandingan itu bertajuk Celebration Game. Laga tasyakuran setelah Persebaya naik kasta ke Liga 1. Rahmat Amin, pemuda 22 tahun asal Sedati, Sidoarjo, meninggal dunia karena terpeleset saat menyeberangi tambak di sekitar GBT.

3 Februari 2018

Lokasinya di tol Surabaya – Kertosono. Sebuah Xenia berpenumpang 8 orang mengalami kecelakaan tunggal. Sebanyak 5 penumpang luka berat. Tiga penumpang lainnya luka ringan. Mereka adalah rombongan Bonek yang hendak mendukung Persebaya di Stadion Manahan, Solo, dalam turnamen Piala Presiden.

17 Februari 2018

Belum juga tiba di rumah. Tutur Wibisono rehat di sebuah rumah makan. Sepulang dari mendukung Persebaya dalam laga persahabatan melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo. Pria asal Jombang itu meninggal dunia setelah tersengat listrik di kamar mandi sebuah rumah makan. Tempatnya istirahat dalam perjalanan pulang.

14 April 2018

Inilah malam jahanam itu. Belasan Bonek menumpang truk. Mereka dalam perjalanan pulang seusai menyaksikan pertandingan Persebaya melawan PS TIRA di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jogja. Micko Pratama, Bonek asal Waru, Sidoarjo, meregang nyawa setelah dianiaya puluhan warga di Solo. Belasan Bonek terluka. Seorang di antaranya kritis.

BACA:  Bu Wali, Jangan Lucuti Spanduk Kami

Dini hari itu truk yang ditumpangi Micko dan Bonek lainnya diserang warga saat melintas di Kota Solo. Pemuda usia 17 tahun itu sejatinya bukan Bonek estafet. Dia berangkat ke Bantul dengan bus. Pulang tidak mendapat bus. Akhirnya, menumpang truk bersama belasan Bonek lainnya. Sudah dilaporkan ke Polresta Surakarta, tetapi hingga kini tragedi ini tidak ada tersangkanya.

6 Mei 2018

Usianya masih 16 tahun. Tapi, jangan tanya nyalinya. Bersama 6 teman sebayanya, M. Bilal Abdillah berangkat ke Surabaya, Sabtu (5/5/2018), dari rumahnya di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Nahas, Bilal tertabrak sebuah truk trailer di kawasan Waru, setelah bus yang ditumpanginya tiba di Terminal Bungurasih.

Korban adalah Bonek yang berbakti kepada orang tuanya. Sebelum berangkat, dia pamit kepada ibunya untuk menyaksikan Persebaya melawan Arema FC di Surabaya. Saat pamit, Bilal tidak hanya mencium tangan sang ibunda. Kaki ibundanya pun ia cium. Tanda perpisahan dengan sang ibunda untuk selamanya.

25 Mei 2018

Lebih dikenal dengan sapaan Cak Ramin. Korban mengalami kecelakaan lalu lintas saat hendak menyaksikan pertandingan Persebaya kontra Madura United di Stadion Ratu Pamelingan, Pamekasan.

3 Juni 2018

Inilah awal robeknya rajutan persahabatan antara The Jak dengan Bonek yang sempat terjalin sebelumnya. Belasan Bonek terluka dalam bentrokan antara The Jak dengan Bonek di sekitar Stadion Sultan Agung, Bantul, Jogja.

Persija sedianya menjamu Persebaya di pekan ke-12 Liga 1, sebelum akhirnya dibatalkan panpel Persija dua jam sebelum kick off. Situs Bola.com menyebut, sedikitnya 15 orang Bonek terluka. Mereka berasal dari Surabaya dan beberapa daerah lain di Jatim.

***

Berbagai insiden memilukan ini menjadi bukti bahwa Bonek tidak pernah berhenti mendukung Persebaya dengan total. Bahkan, royal. Total, karena nyawa pun dipertaruhkan. Royal, berapa pun ongkos yang dikeluarkan akan dibayar. Meski harus menjual barang-barang berharga.

Maka, manajemen Persebaya jangan hanya menempatkan Bonek sebagai customer. Bonek adalah darah Persebaya. Bonek adalah “pemegang saham” Persebaya. Bonek pula yang memperjuangkan kebangkitan Persebaya setelah dimatikan federasi bertahun-tahun lamanya.

Jika Bonek mem-paido pemain atau manajemen karena kinerja buruk, jangan mudah baper. Bila Bonek masih mem-paido pemain atau manajemen, tandanya Bonek masih cinta dan peduli dengan Persebaya.

Dengarlah keinginan dan harapan Bonek. Walau, tidak semuanya harus dipenuhi.

Total dan royal. Untuk kebanggaan.

Selamat jalan dulur-dulur. (*)

*) Penulis adalah Bonek yang tinggal di Jember, bisa disapa di akun Twitter @harisetiawan165

Komentar Artikel