Bongkar dan Terus Jaga Kesucian Persebaya

2
Koreo Bonek Gate 21. Foto: Joko Kristiono/EJ
Shares

Green Force pun Terseret. Begitu judul koran Jawa Pos edisi Minggu 6 Januari 2019. Ini adalah terkait laga Persebaya menjamu Kalteng Putra yang diduga ada pengaturan skor. Kala itu 12 Oktober 2017 Persebaya menyerah 0-1 dari tamunya dalam laga terakhir putaran grup Liga 2.

Setelah wasit meniup peluit panjang Bonek turun ke lapangan. Bentuk protes atas hasil laga yang bagi Bonek adalah hal yang aneh. Selama Liga 2 Persebaya di putaran grup tidak pernah kalah. Persebaya juga sudah memastikan lolos babak delapan besar.

Hari Minggu pada tanggal yang sama, manajemen menggelar pertemuan dengan judul Meet The President. Dalam acara tersebut manajer tim Candra Wahyudi membantah terkait pemberitaan Jawa Pos. Ada dua nama yang disebut dalam berita tersebut.Chairul Basalamah dan Cholid Goromah. Choirul adalah manajer Persebaya saat di Liga 2 dan Cholid adalah Komisaris PT Persebaya Indonesia.

Sebulan terakhir ini memang sedang ada momentum dalam pemberantasan segala hal terkait mafia sepak bola. Bahkan hasil dari berbagai diskusi di media sosial ataupun diskusi yang diadakan media cetak maupun media televisi semua menjadi terbuka. Sampai akhirnya terbentuk Satuan Tugas (satgas) mafia bola. Tidak tangggung-tanggung Kapolri Tito Karnavian menunjuk Jenderal bintang satu Hendro Pandowo dan Khrisna Mukti memimpin satgas tersebut.

Sebelum turun berita di Jawa Pos, nama Persebaya sudah terseret dalam acara Mata Najwa di televisi. Sudah disebut oleh Mr X dan Bambang Suryo saat itu. Bonek bereaksi dengan sangat khas bonek sendiri. Tidak menyalahkan atau mengejar ke acara TV, Mr X, atau Bambang Suryo. Tetapi mendesak Persebaya untuk membuktikan atau menyelidiki dugaan tersebut. Beberapa akun Bonek baik komunitas maupun pribadi bahkan bersikap tegas. Jika terbukti pengaturan laga tidak ada hal yang lebih pantas untuk Persebaya yakni degradasi. Tegas dan jelas sikap Bonek.

Kenapa tidak ke Dewan Pers dan Satgas Mafia Bola?

Senin, 7 Januari 2019, manajemen Persebaya didampingi pengacara yang menamakan Bonek Advokat mendatangi Polrestabes Surabaya. Tujuannya melaporkan Jawa Pos terkait berita sehari sebelumnya.

Penulis tidak banyak mengetahui tentang dunia jurnalisme. Hanya agak janggal jika menilik produk jurnalisme yang dianggap tidak benar kemudian melaporkannya ke kepolisian. Ada hak jawab dari koran tersebut dan juga bisa dilaporkan ke Dewan Pers. Memang tidak juga ada yang salah dengan melaporkan ke kepolisian.

Cholid dan Chairul sebagai dua nama yang disebut juga Persebaya sebagai sebuah klub bisa menempuh jalan hak jawab ataupun Dewan Pers sebagai langkah awal. Juga bisa langsung sebagai bentuk ikut serta memberantas mafia bola juga bisa melapor ke satgas yang terbentuk.

BACA:  Target Persebaya Saat Ini adalah Mental Juara yang Disunat

Sinergi Media, Bonek, dan Persebaya

Karakter Surabaya yang blak blakan dan apa adanya serta egaliter adalah kekuatan tersendiri. Dalam segala hal. Tak terkecuali tentang Persebaya. Perjalanan panjang bonek dan Persebaya adalah sebuah pengalaman dan pembelajaran.

Jawa Pos sebagai media berbasis di Surabaya sudah melakukan investigasinya. Terlepas benar atau tidaknya, itulah hasil investigasi yang didapatkan. Bonek juga sudah mengambil sikap atas rumor dan hasil investigasi Jawa Pos. Sementara jalan atau sikap yang diambil Persebaya juga melaporkan ke kepolisian. Tujuan menurut manajemen sama yakni ingin menjadi garda terdepan memberantas mafia bola.

Sinergitas ketiganya untuk membongkar benang kusut dan apakah ada mafia dalam tubuh Persebaya sangat menarik diikuti dan dikawal bersama. Jawa Pos sudah menyerahkan hasil semuanya ke satgas mafia bola. Bonek karena bukan organisasi resmi hanya bisa memberi support dan informasi secara non formal dukungan ke satgas. Tinggal menunggu Persebaya atau bahkan Chairul Basalamah dan Cholid Goromah dua namayang disebut secara pro aktif datang ke satgas. Itu akan lebih elegan buat satu nama Persebaya.

Harapan untuk Satgas Segera Usut Kasus Persebaya

Semakin cepat semakin baik. Itu adalah harapan semua pecinta Persebaya tentang dugaan kasus yang menimpanya. Problematika internal antara Bonek dan Persebaya penulis yakin akan segera berakhir. Keduanya saling mencintai. Perbedaan pendapat adalah hal yang sudah biasa terjadi. Jangan sampai ada pihak lain memanaskan apa yang sedang terjadi dengan Bonek dan manajemen.

Saat ini yang sangat mengganjal adalah kasus yang melibatkan pihak luar. Mafia bola dan dugaan pengaturan skor. Jika ada yang bisa mempertemukan antara Vigit Waluyo, Chairul Basalamah, Cholid Goromah dalam satu tempat tentu akan membuka tabir.

Harapan ini digantungkan pada satgas mafia bola. Segera dan percepat kasus ini dengan segala bukti laporan yang ada. Proses seadil-adilnya dan transparan. Jika salah katakan salah.

***

Bonek adalah pengawal sejati Persebaya. Apapun akan Bonek lakukan untuk kebaikan dan kejayaan Persebaya. Itu janji suci dan turun temurun sampai kiamat akan seperti itu. Pemilik, pemain Persebaya bisa berganti-ganti tidak untuk dukungan Bonek.

Kesucian Persebaya lebih berharga daripada sebuah kasta di sepak bola. Tidak ada artinya menjadi naik kasta atau juara dengan cara-cara kotor dan culas. Jika Presiden Persebaya mengatakan bahwa Persebaya ingin juara dengan cara yang baik, maka Bonek sudah melakukannya saat mengembalikan Persebaya dari cengkeraman federasi dan mafia bola.

Menjaga kesucian Persebaya dengan cara membongkar dugaan kasus pengaturan skor secara bersama.

Salam satu nyali!

Facebook Comments