Seandainya Persebaya Tanpa Azrul Ananda

317
Foto : Joko Kristiono/EJ
954Shares

Sejatinya Persebaya adalah salah satu klub besar dan legendaris di Indonesia. Secara fundamental, Persebaya sudah punya brand image yang bagus. Persebaya, baik itu para pemain, pelatih atau jajaran manajerialnya bisa menjadi influencer atau role model untuk menarik massa dan bisa digunakan untuk apapun, bisa untuk bisnis atau politik.

Salah satu bukti konkretnya yaitu Persebaya termasuk klub Liga 1 dengan rating TV yang tinggi. Meski telah lama dibekukan ± 5 tahun namun pesona Persebaya tidak sedikit pun memudar malah semakin bersinar. Itulah mengapa pertandingan Persebaya hampir selalu disiarkan secara live di TV Nasional, khususnya laga home Persebaya.

Saya yakin bukan tanpa alasan Azrul berani nekat mengambil saham Persebaya. Dan seperti yang kita rasakan sejak musim lalu sampai saat ini banyak kebijakan aneh yang tidak cocok dengan sebagian Bonek. Mungkin sebelumnya Azrul sudah melakukan survey bahwa Bonek memang sudah berubah jauh lebih dewasa dari sebelumnya.

Hal itu pula yang mungkin menjadi alasan utama Azrul begitu berani menjual jersey Persebaya dengan harga IDR 750K termahal di Liga Indonesia dua musim berturut-turut.

Akan tetapi akhir-akhir ini kita diributkan oleh isu tentang Azrul berencana mundur dari Persebaya dan ini ternyata menjadi sebuah kekhawatiran yang cukup besar bagi sebagian Bonek. Maka di sini saya akan mencoba mengulas berbagai kemungkinan apabila hal itu benar-benar terjadi.

Pengeluaran dan Pemasukan Tim

Azrul pernah menjelaskan di YouTube Channel Persebaya tentang berapa perkiraan anggaran operasional klub mulai dari gaji pemain, gaji pelatih, gaji pegawai, sewa stadion dll yang dibutuhkan klub untuk operasional dalam satu musim. Dan dari mana saja sumber pemasukan klub?

Setiap klub memang berbeda-beda anggaran operasionalnya dalam satu musim. Tergantung klub tersebut ingin punya tujuan seperti apa, ingin punya pemain dan pelatih yang seperti apa?

Kita akan membahas tentang seberapa besar perkiraan pengeluaran Persebaya dan seberapa besar perkiraan pemasukannya.

– Pengeluaran Tim

Azrul mengatakan klub sebesar Persebaya setidaknya butuh dana sekitar 30 Miliar untuk operasional satu musim. Saat itu Persebaya masih berkiprah di Liga 2 tentu ada kenaikan anggaran pengeluaran karena saat ini Persebaya berkiprah di Liga 1.

Melalui situs Transfermarkt saya memperkirakan total gaji pemain Persebaya dalam satu musim adalah ± 40 Miliar. Perkiraan tersebut juga sudah termasuk gaji para pelatih Persebaya dan sudah menggunakan asumsi tertinggi. Dikutip dari berita Tribunnews.com tentang Daftar Klub Termahal di Liga1 2018. Posisi teratas di pegang oleh Bali United sebagai Klub Termahal Liga 1 2018 dengan total mencapai 81 Miliar. Posisi 7 dipegang oleh Persib Bandung dengan total mencapai 60 Miliar.

Kebutuhan tim dalam satu musim seperti sewa lapangan latihan, sewa stadion, biaya keamanan, biaya sewa apartment dll ± 15 Miliar.

Jadi total perkiraan kebutuhan Tim Persebaya dalam satu musim adalah ± 55 Miliar plus denda PSSI ± 1 Miliar = ± 56 Miliar.

– Pemasukan Tim

Persebaya termasuk tim Liga 1 yang sangat beruntung. Selain mendapatkan banyak sponsor, Persebaya yang dianggap klub baru merintis saja harga tiketnya sudah standar klub besar Liga 1 dan juga berhasil menyabet gelar penonton terbanyak di Liga1.

Persebaya juga punya banyak Merchandise Store sebagai salah satu sumber pemasukan Persebaya.

Kali ini kita akan mengulas satu-per satu berapa perkiraan pemasukan Persebaya dari ticketing, sponsorship maupun dari merchandise.

Untuk tiket Persebaya kategori Fans (ekonomi) tarifnya 50K dan untuk kategori Superfans (VIP) tarifnya mencapai 250K.

Sudah banyak yang tahu bahwa Persebaya musim kemarin adalah klub dengan penonton terbanyak di Liga1 dengan jumlah penonton mencapai 485.000. Dan apabila disama-ratakan tarifnya semua 50K (Bonekcard Fans/Superfans tidak dihitung) maka pemasukan yang terkumpul melalui penjualan tiket mencapai ± 25 Miliar.

Dari sponsorship, kita tahu musim lalu total ada 11 perusahaan yang men-support Persebaya. Dari sponsor sebanyak itu perkiraan pemasukan Persebaya ± 25 Miliar.

Musim Liga 1 2018 konon katanya jersey Persebaya yang terjual mencapai 21K, maka total pemasukan yang di dapat Persebaya dari penjualan jersey ± 15 Miliar. Itu adalah total penjualan jersey authentic seharga IDR 750K. Belum termasuk penjualan merchandise lain seperti Topi, T-shirt, Jaket, Scarf, dll.

Jadi total keseluruhan pemasukan Persebaya melalui penjualan tiket, sponsorship, dan merchandise mencapai ± 65 Miliar.

Apabila pemasukan ± 65 Miliar dikurangi pengeluaran ± 56 Miliar, Persebaya masih surplus ± 9 Miliar dan itu belum termasuk subsidi dari PT LIB yang konon setiap klub Liga 1 berhak mendapatkan subsidi sebesar 7,5 Miliar.

Belum dihitung juga perkiraan pemasukan Persebaya sejak mengikuti Piala Presiden 2018 maupun saat mengikuti Piala Gubernur Kaltim.

Perlu dipahami bahwa saya menghitung pengeluaran Persebaya dengan metode perkiraan tertinggi dan menghitung pemasukannya dengan metode perkiraan terendah.

Belum dihitung tentang biaya penyelenggaraan Kompetisi Internal Persebaya. Karena saya berasumsi itu hal yang terpisah apabila dilihat nama kompetisi internal tersebut menggunakan nama Kapal Api. Jadi ada mungkin pihak Kapal Api mensponsori kompetisi tersebut secara terpisah.

Belum juga dihitung biaya pembinaan usia muda pemain Persebaya mulai dari Persebaya U-13, U-16, U-19 bahkan sampai PS Kopa. Tentu dari surplus dana ± 9 Miliar, subsidi PT LIB ± 7,5 Miliar dll rasanya sangat sedikit ada dana sisa yang didapat Persebaya.

BACA:  De Javu Caretaker, Persebaya Ulangi Sejarah Liga 2

Tetapi besar kemungkinan Persebaya tidak sampai defisit keuangan.

Dari ulasan tersebut setidaknya kita mulai memahami bahwa ada dan tidaknya Azrul pemasukan Persebaya tetap bersumber hanya dari 3 hal tersebut yaitu Ticketing, Merchandise, dan Sponsorship .

Terkecuali, ketika Azrul datang skuad Persebaya langsung dihuni banyak pemain bergengsi. Atau beberapa bulan kemudian beliau membeli Bus Tim yang bagus untuk Persebaya. Atau dalam 2-3 tahun kemudian beliau langsung merencanakan pembangunan stadion untuk Persebaya. Nah barulah kita wajib khawatir kalau beliau ingin pergi dari Persebaya.

Sepertinya sampai kapanpun akan sangat sulit bagi Persebaya untuk bisa sejajar seperti klub-klub Liga1 lain yang bisa punya pemain mentereng atau punya Bus Tim yang bagus selama pemasukan Persebaya masih bergulat pada 3 hal itu saja.

Apalagi sampai ada yang bilang Persebaya bisa punya stadion sendiri. Hmm, iyain aja deh!

Persebaya Sanggup Mandiri, Berdiri Sendiri Meski Tanpa Investor

Berbeda dengan beberapa klub Liga1 yang pemasukannya masih mendapat sokongan penuh dari investor mereka, Persebaya benar-benar hanya menggantungkan pemasukannya melalui ticketing, sponsorship, dan merchandise.

Mengelola ticketing, sponsorship, dan merchandise memang tidak mudah. Tetapi seandainya Azrul benar-benar ingin pergi, setidaknya Persebaya sudah punya pengalaman.

Mungkin hanya sponsorship yang tidak bisa langsung sebanyak ketika ada Azrul. Tentu itu hanya soal trust asalkan Persebaya dikelola dengan profesional yang sama baiknya, saya pikir nanti hasilnya juga akan sama baiknya. Untuk awal, Persebaya Store mungkin bisa di pangkas menjadi satu store saja. Hal itu tentunya dapat mengurangi beban operasional perusahaan karena siapapun tidak mungkin beli baju setiap hari bukan? Lagipula, penjualan merchandise juga bisa dilakukan di stadion saat ada pertandingan kandang.

Selain pemasukan dari ticketing, sponsorship dan merchandise, tidak ada salahnya Persebaya melirik bisnis lain yang tentunya juga sangat menjanjikan untuk bisa menambah pemasukan. Mungkin Persebaya bisa mendirikan Cafe n’ Resto dengan konsep Persebaya atau mungkin membuat produk air mineral dengan merek Persebaya. Atau mendirikan tempat futsal yang sewaktu-waktu bisa juga digunakan Tim Persebaya untuk latihan sehingga tidak harus sewa. Dan masih banyak bisnis di luar sepak bola yang juga sangat prospektif apabila menggunakan brand image Persebaya.

Dari situlah saya tetap yakin dan percaya Persebaya bisa mandiri, berdiri sendiri meskipun seandainya tidak punya investor.

Ilustrasi Jika Persebaya Dikelola Tanpa Investor

Di Eropa tentu sudah tidak asing seorang legenda sepak bola klub mengisi posisi jabatan strategis di klub tersebut seperti contohnya Pavel Nedved, salah satu legenda hidup Juventus yang saat ini dipercaya menjadi Wakil Direktur. Contoh lain Javier Zanetti, sangat lama membela Inter Milan saat masih menjadi pemain. Sekarang ia juga dipercaya untuk mengisi jabatan Wakil Direktur di Inter Milan. Dan masih banyak lagi mantan pemain yang menjadi legenda klub lalu dipercaya untuk mengemban jabatan strategis di klub.

Tentu ini masih sangat jarang terjadi di persepak bolaan Indonesia. Tapi tidak ada salahnya Persebaya mencoba hal tersebut. Bahkan Borneo FC saja dipimpin oleh para pemuda yang awalnya dari kalangan suporter bersatu dengan semangat dan dedikasi yang tinggi untuk memajukan klub. Dan hasilnya Borneo FC tetap konsisten dari musim ke musim, bisa mandiri menghidupi klub .

Peran Koperasi Persebaya, klub-klub internal Persebaya serta para perwakilan suporter tentu sangat dibutuhkan dalam hal ini agar bersama-sama menjaga marwah Persebaya.

Melalui RUPS PT Persebaya Indonesia, para pemegang saham Persebaya bisa menentukan siapa legenda-legenda Persebaya yang mampu dan berkompeten untuk mengisi jabatan-jabatan strategis. Khusus bidang di luar teknis sepak bola seperti administrasi keuangan dsb bisa dilakukan perekrutan eksternal. Seleksi bisa dibuka untuk umum guna mendapatkan calon terbaik.

Menurut saya kunci kemandirian Persebaya agar bisa berdiri sendiri tanpa bantuan investor adalah Kompetensi, Integritas ,dan Tranparansi.

Kompetensi: Jabatan di Persebaya baik di manajerial maupun staf dll semuanya harus dihuni oleh orang-orang yang berkompeten dan sudah punya pengalaman di bidangnya.

Integritas: Punya rasa tanggung jawab, loyal, dan berdedikasi tinggi untuk memajukan Persebaya.

Transparansi: Berani terbuka di depan publik. Jangan berani terbuka hanya ketika Persebaya mengalami kerugian. Kalau Persebaya untung semua diam alasannya sudah menjadi rahasia perusahaan.

Dan orang-orang di Persebaya harus bisa menerima kritik dan saran, masukan-masukan dari para fans maupun pihak luar.

Persebaya tidak boleh anti kritik. Karena bagaimanapun juga kritik bagaikan sebuah cermin, penilaian yang jujur atas segala kekurangan atau kekhilafan agar dapat dibenahi untuk menjadi lebih baik lagi.

Akhir kata penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kalimat-kalimat yang kurang berkenan. Tulisan ini tidak untuk merendahkan atau menjatuhkan salah satu pihak atau kelompok tertentu. Tulisan ini bertujuan untuk kembali meluruskan pandangan bahwa tidak ada apapun yang lebih besar dari klub termasuk pemain atau pelatihnya, apalagi manajemennya.

Tak lupa penulis menyampaikan beberapa harapan, semoga ke depannya Persebaya semakin lebih bijak dalam menyikapi berbagai kritik dan saran baik yang ditujukan untuk para pemain maupun untuk manajemen. Dan semoga Bonek selalu kompak, Total, Loyal dan Royal dalam mendukung Persebaya.

Semoga 2019 Persebaya Juara, amin!

Salam satu nyali!

Facebook Comments